logo

Tekan Impor, Kadin Dorong ABCG Mulai Bikin Neraca

Tekan Impor, Kadin Dorong ABCG Mulai Bikin Neraca

Ketua Kadin Surabaya yang juga Dirut PT Tata Bumi Raya saat berbagi rezeki untuk anak yatim
17 Juni 2019 07:53 WIB
Penulis : Andira

SuaraKarya.id - SURABAYA: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mendorong kalangan akademisi, bisnis, community, goverment (ABCG) untuk membuat neraca, agar tidak terlalu sering terjadi impor komoditas terutama di sektor pertanian. Impor produk yang sering terjadi belakangan ini terutama bawang putih akibat kekurangan stok dalam negri, terjadi akibat kelangkaan neraca.

Menurut Ketua Kadin Surabaya, Jamhadi, pemerintah pusat dan provinsi harusnya sudah tahu berapa ton kebutuhan bawang putih untuk kebutuhan rumah tangga dan industri. "Setelah itu, diproyeksikan seiring dengan pertumbuhan penduduk, tingkat kelahiran dan berapa peningkatannyaa," ujar Jamhadi, Senin (17/6/2019).

Pemerintah provinsi juga harus punya data tentang berapa yang disuplai ke Sumatera, Kalimantan, dan berapa kelebihannya di Pulau Jawa. Dengan cara itu, pemerintah bisa memperhitungkan berapa jumlah bawang putih yang harus ditanam di Jawa Timur.

Kondisi serupa juga terjadi di sektor property. Keterlibatan aktif ABCG berpotensi membangkitkan pertumbuan bisnis di sektor property terutama kalangan perhotelan dan apartemen.

Dia kemudian menyebutkan kondisi Kota Surabaya yang kini sudah dijubeli dengan 152 hotel dengan 42 ribu kamar. "Jajaran goverment ikut bekerja dengan menciptakan event seperti Surabaya Shopping Fetival yang rutin digelar setiap Bulan Mei. Even ini terbukti banyak mendatangkan turis dari berbagai daerah ke Kota Surabaya," ujarnya.

Jamhadi yang juga pengusaha property dan Dirut PT Tata Bumi Raya itu sudah berusaha maksimal untuk melakukan pengembangan usaha. Dalam rangka mendorong semangat kebersamaan, pihaknya kemarin menggelar halal bihalal di kalangan karyawan sekaligus bagi-bagi doorprize untuk karyawan dengan hadiah utama umroh ke Tanah Suci.

Pada bagian lain, Jamhadi  juga berharap agar semua pihak tidak lagi memandang dunia kontruksi sebagai jasa. "Banyak jalan raya yang dibangun kontraktor, berkualitas buruk, karena memandang kontruksi hanya sebagai jasa," ujarnya.

Seharusnya, kata dia, kontruksi harus dipandang sebagai sebuah industri, sehingga akan ada inovasi yang terus berkembang di dalamnya. Akibat kontruksi dianggap sebagai jasa seperti sekarang, yang bertugas di pengaspalan hanya akan bertanggungjawab di bidang itu saja, tidak mau mengurusi bidang yang lain.

Pihaknya berharap jalan-jalan raya Indonesia bisa seperti di Eropa yang terkesan lebih bagus berkualitas dan awet, karena memandang kontruksi sebagai industri.***

Editor : Laksito Adi Darmono