logo

Koalisi Pimpinan Arab Saudi Serang Posisi Al-Houthi Di Sana'a, Yaman

Koalisi Pimpinan Arab Saudi Serang Posisi Al-Houthi Di Sana'a, Yaman

Foto: Ilustrasi (Istimewa)
15 Juni 2019 13:16 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - KAIRO, Mesir: Koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman telah menyerang posisi militer di Ibu Kota Yaman, Sana'a --yang dikuasai gerilyawan Syiah Al-Houthi, termasuk sistem pertahanan udara, kata stasiun televisi resmi Arab Saudi pada Sabtu (15/6/2019).

Serangan tersebut dilancarkan setelah satu serangan rudal oleh gerilyawan Al-Houthi, yang bersekutu dengan Iran, terhadap Bandar Udara Abha di Arab Saudi pada Rabu, demikian laporan Reuters yang dilansir  Antara di Jakarta, Sabtu (15/6/2019) siang. Sebanyak 26 orang cedera, kata pemerintah Arab Saudi.

Pada Jumat (14/6), pasukan pertahanan udara Arab Saudi mencegat lima "drone" yang diluncurkan oleh gerilyawan Al-Houthi ke Bandar Udara Abha dan Kota Khamis Mushait, kata juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi.

Pemerintah Malaysia telah mengutuk serangan terhadap Bandar Udara Internasional Abha di Arab Saudi, oleh milisi Al-Houthi, dan menyebutkan tak bisa diterima serta pelanggaran terhadap semua hukum internasional.

Kementerian Luar Negeri Malaysia mengatakan di dalam satu pernyataan pada Kamis (13/6) bahwa serangan itu --yang melukai 26 warga sipil-- mempengaruhi perdamaian dan keamanan di Timur Tengah serta menyampaikan belasungkawa buat korban serangan itu.

               Warga Sipil

Milisi Houthi di Yaman telah menembakkan sebuah peluru kendali ke Bandara Internasional Abha di Provinsi Asir di bagian barat daya Arab Saudi dan melukai lebih dari 26 orang.

Juru bicara resmi Koalisi Untuk Mengembalikan Legitimasi di Yaman, Kolonel Turki Almaliki, mengatakan bahwa pada pukul 02.21 Rabu (12/6/2019) pagi waktu setempat sebuah proyektil ditembakkan oleh milisi Houthi dan mengenai ruang kedatangan di Bandara Internasional Abha yang mengakomodasi ribuan penumpang dari berbagai negara setiap hari.

Sebanyak 26 penumpang sipil dari berbagai negara terluka karena serangan tersebut, termasuk tiga wanita dari Yaman, India dan Saudi dan dua anak-anak Saudi, kata Kolonel al-Maliki, dalam pernyataan yang dikutip dari Kantor Berita Saudi (SPA) Rabu.

Delapan orang telah dibawa ke rumah sakit untuk perawatan karena cedera sedang, sementara 18 lainnya dirawat di lokasi kejadian karena cedera ringan. 

Serangan itu juga merusak beberapa bagian di ruang tunggu bandara.

Kolonel Almaliki mengatakan bahwa pasukan militer dan keamanan sedang bekerja untuk menentukan jenis proyektil yang digunakan dalam serangan teror tersebut.

Milisi Houthi yang didukung Iran, mengklaim melalui medianya bertanggung jawab penuh atas serangan teror tersebut dengan mengatakan mereka menggunakan pelontar rudal. 

Pernyataan itu merupakan pengakuan yang tegas akan maksud mereka menargetkan warga sipil dan objek sipil yang tunduk pada perlindungan khusus di bawah hukum internasional. Dengan demikian dapat dianggap sebagai kejahatan perang karena menargetkan warga sipil dan objek sipil secara sistematis. 

Serangan ini juga membuktikan pembelian senjata khusus baru oleh milisi Houthi yang merupakan kelanjutan dukungan Iran dan praktik terorisme lintas batas. Hal itu juga merupakan pelanggaran yang terus berlanjut atas resolusi Dewan Keamanan PBB, termasuk Resolusi 2216 dan Resolusi 2231.

Kolonel Almaliki menekankan bahwa dalam menghadapi serangan teroris milisi Houthi serta pelanggaran amoralnya, Komando Pasukan Gabungan Koalisi akan mengambil langkah-langkah mendesak dan tepat waktu guna mencegah serangan milisi ini sekaligus memastikan perlindungan warga dan fasilitas sipil.

Selain itu, pihak yang bertanggung jawab atas perencanaan dan pelaksanaan serangan teror ini akan dimintai pertanggungjawaban sesuai dengan hukum internasional dan aturan adat. ***