logo

Festival Crossborder Sota Gerakkan Ekonomi Masyarakat Asal Dikoordinasi

Festival Crossborder Sota Gerakkan Ekonomi Masyarakat Asal Dikoordinasi

15 Juni 2019 01:59 WIB
Penulis : Syamsudin Walad

SuaraKarya.id - MERAUKE: Festival Crossborder Sota 2019 diyakini dapat menggerakkan ekonomi masyarakat. Festival digelar 14-16 Juni 2019, di Lapangan Pattimura, Distrik Sota, Merauke, Papua. Apalagi koordinasi dilakukan hingga saat akhir.

Persiapan  pelaksanaan event sudah matang. Sebab, tim Kementerian Pariwisata sudah berkoordinasi dengan Sekda Kabupatan Merauke Daniel Pauta, juga unsur CIQ (custom, imigration, quarantine).

Menurut Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh Ricky Fauziyani, koordinasi harus dilakukan untuk memastikan kelancaran kegiatan.

“Tema yang diusung adalah Indonesia Incorporated. Yang artinya, kita harus bersinergi. Karena memang crossborder itu terdiri dari berbagai unsur. Seperti custom, imigration, quarantine, dan security. Atau kita mengenalnya dengan CIQS,” papar Ricky, Jumat (14/6).

Menurut Ricky, booth-booth yang disiapkan penyelenggara juga hampir dipastikan penuh.

“Masyarakat bisa memanfaatkan booth-booth ini. Dari sinilah aktivitas perekonomian akan menggeliat,” tutur Ricky lagi.

Keyakinan yang sama disampaikan bintang tamu event, Nowela. 
 
“Sebagai bagian masyarakat, saya sangat support dengan Festival Crossborder Sota. Pokoknya sangat bangga. Festival ini sangat membantu perekonomian masyarakat, khususnya di perbatasan. Ada potensi nilai inkam besar di situ,” ungkap juara Indonesia Idol itu.
 
Dengan konten menarik yang ditawarkan, Festival Crossborder Sota diprediksi akan banjir wisatawan. Apalagi, festival juga menyajikan Trading Pit. Aktivitas ini akan mempertemukan publik Merauke dengan Papua Nugini (PNG). Komoditi yang digunakan berupa hasil bumi dan kerajinan tangan. 
 
“Saya sangat yakin, event ini akan dihadiri banyak pengunjung. Masyarakat dari PNG juga akan datang ke Sota. Ada banyak kemeriahan yang ditawarkan Festival Crossborder Sota tersebut,” terang Nowela.
 
Respon positif memang selalu ditunjukan oleh masyarakat PNG. Mereka akan menyeberang bila festival crossborder digelar di sana. Hal ini tercermin saat Festival Crossborder Skouw atau Keerom.
 
Wilayah Merauke dikenal menjadi salah satu lumbung padi nasional. Pada 2013, produksi padinya mencapai 177.581 ton. Produksi padi terbesarnya dihasilkan oleh Distrik Tanah Miring sebesar 56.444 ton. Untuk perkebunan, Merauke identik dengan kelapa. Namun, Merauke juga kuat di bidang peternakan. Total ada 46.441 ekor ternak dan 68,47% diantaranya sapi potong.
 
Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menegaskan, ada banyak peluang bisnis dari Festival Crossborder Sota.
 
“Festival Crossborder Sota menawarkan berbagai aspek. Ekonomi akan bergerak semakin positif di sana. Sebab, semua latar belakang bertemu. Ada peluang bagi Merauke meningkatkan volume perjualan dari produk-produknya ke PNG. Selamat bergembira di Festival Crossborder Sota. Enjoy Merauke,” tutup Arief yang juga Menpar Terbaik Asia Pasifik tersebut.  ***

Editor : Pudja Rukmana