logo

MRT Jakarta Resmi Beroperasi, Tarif Lebih Mahal Dari Usulan Awal

MRT Jakarta Resmi Beroperasi, Tarif Lebih Mahal Dari Usulan Awal

Foto: Screenshot Wikipedia
01 April 2019 14:38 WIB
Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Angkutan umum terbaru di Jakarta, Mass Rapid Transit (MRT) resmi dioperasikan mulai Senin (1/4/2019) hari ini. Meski sudah tak gratis lagi, namun masyarakat masih bisa menikmati tarif setengah harga sampai sebulan ke depan.

Jam pengoperasian MRT Jakarta dimulai pukul 05.30 WIB hingga pukul 22.01 WIB atau (pukul 10.01 malam). Untuk pemberangkatan kereta pertama dari Stasiun Lebak Bulus dimulai pukul 05.30 WIB dan untuk kereta terakhir pemberangkatan dari Stasiun Bundaran HI menuju Lebak Bulus pukul 22.00 WIB.

Sejak beroperasi, diharapkan moda transportasi baru di Jakarta ini dapat mengurangi kemacetan di jalanan Jakarta.

Untuk sistem pembayarannya sendiri MRT Jakarta menyediakan beberapa alternatif metode pembayaran. Antara lain, mulai dari kartu Jelajah Single Trip, hingga kartu uang elektronik dari beberapa bank.

Pemprov DKI Jakarta menetapkan tarif termahal MRT Jakarta sebesar Rp 14.000. Namun, pada bulan ini mendapat diskon 50 persen, jadi tarif termahalnya menjadi Rp 7.000. 

Untuk pembayaran setengah harga, Pemprov DKI hanya memberlakukannya selama 1 bulan. "Jadi, kalau sesuai tarif dari Lebak Bulus ke Bundaran HI itu 14.000 rupiah, selama satu bulan, hanya akan 7.000 rupiah sekali jalan," kata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, seperti dikutip dari ppid.jakarta.go.id.

Praktis diskon 50 persen juga diberlakukan untuk tarif sesuai jaraknya.  Misalnya, dari Dukuh Atas ke Fatmawati yang seharusnya Rp 12.000 rupiah, hanya akan dikenakan tarif Rp 6.000. Dari Bundaran HI ke Dukuh Atas yang seharusnya Rp 3.000, menjadi Rp 1.500. Ingat, ini hanya berlaku sebulan.

Pemasukan dari Sumber Lain

Tarif termahal MRT Jakarta Rp14.000 yang ditetapkan Pemprov DKI lebih besar dari usulan terakhir Pemprov sebelumnya yang menyodorkan besaran tarif senilai Rp10 ribu per 10km. Dari usulan tarif tersebut, asumsi subsidi yang ditanggung Pemprov sekitar Rp21.659 per penumpang. 

Sedangkan secara total, jumlah subsidi yang akan ditanggung Pemprov dengan usulan tarif Rp10 ribu per 10 km mencapai Rp338 miliar per tahun. 

Sementara PT MRT Jakarta sendiri
sempat mengusulkan tarif MRT sekitar Rp8.500 per 10 km. Dari usulan tersebut, total subsidi yang harus ditanggung Pemprov mencapai Rp365 miiar per tahun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai usulan awal tarif perjalanan moda raya terpadu berbasis rel listrik (Mass Rapid Transit/MRT) Jakarta sebesar Rp10 ribu per 10 kilometer (km) cukup baik. Namun, ia mengingatkan hal itu tidak bisa mengembalikan total investasi yang telah digelontorkan senilai Rp16 triliun. 

"Biaya sebesar Rp16 triliun tentu nanti tidak akan kembali dalam bentuk tiket," ucap Ani, sapaan akrabnya, di Stasiun MRT Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (6/3/2019) seperti dikutip dari CNN.

Meski begitu, sambungnya, nilai investasi yang sudah digelontorkan sejatinya bisa kembali dari sumber-sumber lain, yaitu kegiatan ekonomi yang muncul dengan kehadiran MRT. Ia mencontohkan kerja sama bisnis antara PT MRT Jakarta dengan perusahaan-perusahaan swasta yang menyewa ruang penjualan dan jasa iklan di stasiun. 

Selain itu, kegiatan ekonomi di sekitar stasiun MRT juga akan berkontribusi bagi ekonomi masyarakat sekitar hingga perekonomian Tanah Air. "Tentu ini akan memperkuat investasi di infrastruktur dan berdampak positif bagi masyarakat," kata Menkeu Sri Mulyani saat menjajal moda transportasi MRT pada Rabu (6/2/2019) lalu.

Di sisi lain, meski tarif perjalanan MRT tidak bisa mengembalikan investasi yang sudah dikeluarkan, namun besaran tarif tersebut setidaknya sesuai dengan kemampuan daya beli masyarakat alias pas di kantong. Dengan begitu, kehadiran MRT tidak membebani pengeluaran masyarakat. 

"Apakah ini kemahalan? Tentu kami lihat dari berbagai aspek. Dari keseluruhan itu, tentu dari sisi biaya dan waktu akan hemat, juga kenyamanan serta daya beli masyarakat masih comparable," ujarnya. 

Sudah Diuji Coba

Uji coba MRT Jakarta telah dilakukan pada 12-24 Maret 2019 lalu secara gratis dan ternyata laris manis. Sebagai gambaran, sehari setelah diumumkan uji coba MRT untuk jadwal pekan depan, tiket uji coba di hari-hari tertentu sudah ludes diserbu lebih dari 130.000 pendaftar.

Seperti diinformasikan Corporate Secretary Division Head MRT Jakarta Muhammad Kamaluddin, tercatat sudah ada 131.861 pendaftar reguler dan 1.958 pendaftar khusus/disabilitas hingga Rabu (6/3/2019). Jadi, totalnya waktu itu 133.819 pendaftar. 

Pendaftaran uji coba MRT Jakarta dibuka sejak awal Maret, Selasa (5/3/2019). Informasinya dapat diakses di situs https://ayocobamrtj.com. Sementara pendaftarannya bekerja sama dengan Bukalapak.

Di situs Bukalapak, pendaftar dapat memilih tanggal dan stasiun keberangkatan yang diinginkan. Setiap pendaftar hanya bisa mendapatkan 2 tiket dan satu e-mail hanya bisa mendaftar satu kali.

Para penumpang bisa naik MRT pulang pergi (PP) atau kembali lagi ke stasiun awal keberangkatan. Yang penting, jangan keluar dari stasiun tujuan jika ingin kembali ke stasiun keberangkatan.

Semua umur termasuk anak-anak kecil bisa naik MRT Jakarta dan tetap dihitung satu tiket. ***

Editor : Pudja Rukmana