logo

Jaksa Agung Dapat Apresiasi, Beberapa Anak Buah Peroleh Sanksi

Jaksa Agung Dapat Apresiasi, Beberapa Anak Buah Peroleh Sanksi

Kapuspenkum Kejaksaan Agung Leonard Simanjuntak
25 November 2021 12:06 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Komisi Kejaksaan (Komjak)  Jaksa Agung ST Burhanuddin Jaksa Agung dinilai telah membuktikan keseriusannya untuk melakukan koreksi dan evaluasi demi keadilan berdasarkan kebenaran terkait kasus Valencya. Untuk tuntutan bebas terhadap Valencya tersebut Komjak pun mengapresiasi ketegasan ST Burhanuddin.

"Menuntut bebas dalam jawaban atau replik tentu saja adalah hasil dari eksaminasi khusus yang dilakukan sehingga Jaksa Agung dalam kapasitasnya sebagai Penuntut Umum tertinggi dan Pengendali Penuntutan memiliki kewenangan untuk menerapkan ketentuan Pasal 182 ayat 2 KUHAP dengan menarik tuntutan terdahulu dan kemudian memperbaiki tuntutan menjadi tuntutan bebas," kata Ketua Komjak Barita Simanjuntak.

Barita mengaku melihat Jaksa Agung telah menunjukkan konsistensi dan keberanian melakukan koreksi. Hal itu juga sekaligus memperbaiki manakala ada hal yang kurang diperhatikan atau ketidakpekaan jaksa, khususnya dalam kasus Valencya, perempuan mengalami KDRT yang seyogyanya harus diselesaikan dengan perspektif yang sudah ada pedoman dan ketentuannya. "Keputusan tuntut bebas itu dimaknai sebagai sikap yang mengedepankan hati nurani. Hati nurani berakar pada integritas moral etis yang kuat. Sehingga terlatih memilah mengkualifikasikan mana perkara yang layak diajukan ke pengadilan mana yang tidak, mana yang wajib diselesaikan dengan restorative justice dan kewajaran tuntutannya," tuturnya.

Sementara itu, sanksi disiplin kini menunggu Aspidum Kejaksaan Tinggi Jawa Barat maupun sejumlah jaksa yang menangani kasus terdakwa Valencya alias Nengsy Lim terkait kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT psikis. Sebab, hasil eksaminasi khusus dari tim Eksaminasi yang dibentuk Jampidum telah diserahkan kepada bidang Pengawasan pada Jamwas untuk dilakukan pemeriksan.

Kapuspenkum Kejaksaan Agung Leonard Eben Ezer Simanjuntak mengungkapkan, pertimbangan Tim JPU menarik dan menuntut bebas terdakwa didasari fakta-fakta dari keterangan saksi, saksi a de charge, ahli, barang bukti, petunjuk dan keterangan terdakwa. Tentunya juga tuntutan pidana yang diajukan penuntut umum pada 11 November 2021 maupun pembelaan yang diajukan terdakwa dan penasihat hukum pada 18 November 2021.

Selain itu, kata Leonard Simanjuntak, Kamis (25/11/2021), juga mengacu pada pasal 8 ayat (3) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 demi keadilan dan kebenaran berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa, Jaksa Agung selaku penuntut umum tertinggi menarik tuntutan penuntut umum pada 11 November 2021 yang selama setahun penjara. Kenyataannya, terdakwa Valencya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana kekerasan Psikis dalam lingkup rumah tangga. ***
 

Editor : Pudja Rukmana