logo

Ada Cuan Besar Di Minyak Atsiri, Kemenperin Optimalkan Hilirisasi

Ada Cuan Besar Di Minyak Atsiri, Kemenperin Optimalkan Hilirisasi

Plt. Dirjen Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika (kiri) mendengarkan penjelasan mengenai proses produksi minyak atsiri pada saat melakukan kunjungan kerja di PT. Indesso Aroma, Cileungsi, Bogor
17 Oktober 2021 21:59 WIB
Penulis : AG. Sofyan

SuaraKarya.id - BOGOR: Kementerian Perindustrian terus mendorong pengembangan sektor industri hilir minyak atsiri (IHMA) agar bisa lebih berdaya saing. Apalagi, Indonesia punya potensi ketersediaan bahan baku yang beragam (terdapat ±40 jenis tanaman atsiri di Indonesia dari ±99 jenis tanaman atsiri di dunia) menjadi potensi peningkatan nilai tambah ekonomi melalui industri pengolahan dalam negeri.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika mengatakan Indonesia sebagai negara iklim tropis memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, sehingga bisa menjadi episentrum untuk pengembangan sektor IHMA.

"Masih ada peluang besar untuk memperluas usaha atau meningkatkan investasinya dalam rangka membuka banyak kesempatan lapangan kerja,” ujar Putu Juli Ardika saat melakukan kunjungan kerja di PT. Indesso Aroma, Cileungsi, Bogor, Jumat (15/10/2021).

Plt. Dirjen Industri Agro ini mengemukakan, minyak atsiri telah digunakan sebagai bahan baku industri untuk bahan perasa (essence), perasa (flavor) dan wewangian (fragrance). Total produksi minyak atsiri utama Indonesia mencapai ±8.500 ton pada tahun 2020. Beberapa jenis minyak atsiri tropis Indonesia antara lain minyak cengkeh, sereh wangi, nilam, pala, akar wangi, dan kayu putih.

“Selain itu, produk olahan minyak atsiri juga dipergunakan untuk bahan baku industri jamu dan fitofarmaka, seperti minyak jahe dan minyak adas. Seluruh jenis produk turunan minyak atsiri dipercaya mempunyai khasiat positif untuk kesehatan,” paparnya.

Putu menyampaikan bahwa pihaknya telah mengidentifikasi potensi nilai ekonomi yang besar dari sektor IHMA. Di sektor hilir, terdapat pemain besar global yang telah mengoperasikan pabrik olahan minyak atsiri. Di sektor hulu atau perkebunan, terdapat ratusan ribu petani atsiri yang menjadi pemasok bahan baku industri.

“Dengan demikian, rantai nilai hulu-hilir di sektor IHMA menjadi terintegrasi. Melalui rantai nilai hulu-hilir yang terintegrasi ini, akan tercipta nilai ekonomi yang harmonis, termasuk berperan dalam membangkitkan ekonomi rakyat di perdesaan melalui program kemitraan industri,” tuturnya.

Putu menegaskan, kunci pengembangan sektor IHMA agar bisa lebih berdaya saing antara lain melalui riset dan inovasi, formulasi produk, serta memanfaatkan teknologi terkini dalam produksi untuk menghasilkan aneka produk hilir yang bernilai tambah tinggi.

“Upaya tersebut perlu didukung dengan fasilitas riset yang memadai, SDM kompeten, dan kemampuan capturing and delivering value to market yang kuat, sehingga Indonesia menjadi produsen berbagai produk turunan minyak atsiri berskala dunia,” bebernya.

Putu menambahkan, perlunya pemberian materi pelajaran di bangku sekolah terkait pengenalan tanaman atsiri, proses produksi minyak atsiri, dan produk-produk hilir minyak atsiri, karena produk hilir olahan minyak atsiri kerap digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

“Contohnya adalah parfum, sabun mandi, pasta gigi, bumbu mi instan, produk makanan dan minuman, hingga kosmetik itu mengandung minyak atsiri. Jadi, sering kita tidak sadari, mulai bangun sampai tidur lagi, kita jumpai produk olahan minyak atsiri tersebut,” terangya.

Oleh karena itu, melalui program edukasi mengenai potensi budidaya bahan baku dan peluang bisnis di sektor IHMA ini, Indonesia akan bisa menumbuhkan lebih banyak produsen olahan minyak atsiri yang andal di kancah global.

“Perlu sosialisasi atau kampanye yang masif sehingga produk olahan minyak atsiri bisa menjadi tren gaya hidup di tengah masyarakat seperti produk olahan kopi,” tandas Putu.

Sementara, Vice President of Research & Development Division PT. Indesso Aroma Leo Seno Broto mengungkapkan keunggulan korporasinya. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 1968 sebagai pabrik distilasi minyak cengkeh sederhana ini telah menjadi pemimpin pasar di Asia Tenggara dalam industri Flavor & Fragrance (F&F) serta Food and Wellness Solutions.

“Saat ini, kami adalah pemimpin pasar global untuk produk turunan minyak cengkeh, yang menguasai market share 60%. Selain itu, kami telah melayani lebih dari 2.000 pelanggan di Indonesia dan ekspor ke lebih dari 50 negara," ungkapnya.

Leo menyampaikan, kinerja gemilang tersebut merupakan capaian perusahaan yang berfokus pada strategi bisnis yang konsisten dan berkelanjutan, dalam hal pengolahan sumber daya alam atsiri di Indonesia.

“Jadi, kami fokus untuk memanfaatkan dan mengolah sumber daya alam kita yang kaya ini sebagai bahan baku menjadi beragam produk hilir yang bernilai tambah tinggi,” ujarnya.

Selain itu, dalam upaya meningkatkan nilai tambah, perusahaan fokus terhadap peningkatan inovasi.

“Sehingga produk kami berdaya saing tinggi, karena kami fokus pada pemenuhan pasar ekspor. Sebanyak 90% produk kami diekspor, meliputi sekitar 45% pasar Amerika Serikat, sekitar 35% di Eropa, dan sisanya menyebar ke negara-negara lain,” jelasnya.

Leo Seno Broto menambahkan, perusahaannya juga fokus terhadap upaya kepedulian lingkungan dan proses yang berkelanjutan.

"Kami menginisiasi model bisnis yang tertelusur, transparan, dan adil, menghubungkan petani dengan end-user melalui kontrak mutual jangka panjang. Lebih dari 3.600 petani telah kami bina dengan melibatkan 20 partner dalam hal penyediaan bahan baku dengan mendukung konsep ekonomi sirkular,” tandasnya.

PT. Indesso Aroma telah menjadi pemain ekspor produk industri hilir minyak atsiri berkelas dunia melalui cabang internasional yang beroperasi di Malaysia, Singapura, dan Tanzania (Afrika). Produsen hilir minyak atsiri ini mempunyai tiga pabrik pengolahan, yaitu di Purwokerto (first processing) serta di Cileungsi-Bogor dan Ungaran-Jawa Tengah (Second and further processing).

PT. Indesso Aroma juga mempunyai perusahaan joint venture dengan Firmenich Swiss dalam memproduksi produk hilir flavor and fragrance, yang berlokasi di dekat pabrik Cileungsi.

Dalam menjalankan operasionalnya, PT. Indesso Aroma mengedepankan mekanisme kemitraan bersama petani rakyat yang menjunjung tinggi aspek sustainability, equality, dan responsible collaboration. Bahan baku minyak atsiri yang digunakan PT. Indesso Aroma adalah minyak cengkeh, minyak daun cengkeh, minyak gagang cengkeh, dan minyak serai wangi. Sumber atsiri lainnya, yaitu minyak kakao, merica hitam, minyak jeruk purut, minyak sereh dapur, dan minyak jahe.

Perusahaan di sektor industri agro ini juga menjalin kemitraan dengan pekebun atsiri rakyat, yaitu menyerap produksi minyak atsiri (hasil penyulingan bagian tanaman atsiri) dengan kontrak pasokan atau kualitas tertentu termasuk melalukan pembinaan sustainable atau traceability agar sesuai dengan standar pasar internasional.

Langkah Maju

Pada kesempatan tersebut, Plt. Dirjen Industri Agro Putu Juli Ardika juga menyaksikan berbagai langkah maju pengolahan minyak cengkeh dan minyak serai wangi menjadi aneka produk perasa, perisa, dan wewangian di perusahaan anak bangsa ini.

"Pengembangan riset inovasi produk hilir didukung oleh kegiatan R&D yang inovatif, kontinyu, dan berkualitas menyesuaikan dinamika tren konsumen global yang cenderung menghendaki kualitas tinggi, daur hidup yang pendek, namun tetap mengedepankan aspek keberlanjutan, ramah lingkungan, serta tanggung jawab sosial yang tinggi menjadi role model industri yang sukses," ucap Putu.

Plt Dirjen Industri Agro ini mengapresiasi PT. Indesso Aroma yang telah secara konsisten melakukan upaya riset inovasi pengembangan produk perasa, perisa dan wewangian, dan produknya telah diekspor ke berbagai belahan negara di dunia.

"Kemenperin telah memasukkan sektor IHMA sebagai kelompok industri pionir yang dapat memanfaatkan fasilitas perpajakan antara lain Super Deduction Tax Litbang dan Tax Allowance (pengurangan PPh Badan),” ujarnya.

Putu berharap agar PT. Indesso Aroma senantiasa menambah jumlah ragam aneka produk hilir atsiri sebagai indikator kemajuan kegiatan operasional industri yang terintegrasi dengan aktivitas riset inovatif untuk tetap menjadi pemain global sektor IHMA.

Oleh karena itu, Kemenperin mendorong terjadinya kolaborasi perusahaan besar, dengan Balai Riset dan/atau lembaga penelitian dalam bentuk Flavour and Fragrances House (FFH). Konsep FFH merupakan cikal bakal center of excellence hilirisasi minyak atsiri, sehingga ekspor minyak atsiri akan didominasi produk hilir dan menggeser ekspor bahan mentah.

“Kemenperin telah menyiapkan beberapa unit jasa industri seperti Balai Besar Kimia dan Kemasan (BBKK) Jakarta dan Baristand Padang, sebagai calon counterpart FFH, yang dapat digandeng perusahaan IHMA nasional,” ungkap Putu.

Kemenperin pun mengharapkan terjadinya sinergi dan kemitraan perusahaan besar IHMA dengan petani rakyat, tidak hanya sebagai sumber pasokan bahan baku saja, tetapi juga mengajarkan best practice perkebunan tanaman atsiri sehingga tercipta perbaikan kualitas yang paripurna dari hulu sampai hilir.

Terkait dengan operasional industri di saat masa pandemi, Plt. Dirjen Industri Agro memberikan apresiasi kepada PT. Indesso Aroma yang telah mematuhi ketentuan tentang Izin Operasional Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) sesuai ketentuan Surat Edaran Menteri Perindustrian Nomor 5 Tahun 2021.

Kemenperin juga mengapresiasi vaksinasi bagi pegawai kantor dan lini produksi sehingga dapat mengurangi terjadinya klaster persebaran Covid-19 di Industri.

"Industri Essence, Flavor, and Fragrance sebagai pendukung industri makanan dan minuman harus dijaga keberlanjutan operasionalnya agar kinerja sektor tersebut tetap maksimal dan memberikan pasokan pangan modern bagi pasar domestik dan ekspor, khususnya di era pandemi ini,” pungkas mantan staf ahli Menperin ini.***