logo

Ganjar Pranowo Diangkat Sebagai Kesatria Suku Tobelo

Ganjar Pranowo Diangkat Sebagai Kesatria Suku Tobelo

Ganjar diiringi para tetua Suku Tobelo. (Istimewa)
17 Oktober 2021 14:31 WIB
Penulis : Pudyo Saptono

SuaraKarya.id - HALMAHERA UTARA: Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo beserta isteri Siti Atikoh, diangkat sebagai Kesatria Suku Tobelo, dalam sebuah prosesi adat bernama You Yaihoro, Sabtu (16/16/2021).

Salah seorang tetua adat Tobelo, Jesayas Banari, nampak terus merapal doa-doa. Sambil berdiri dia menelangkupkan kedua tangan. Ketika dia mulai memejamkan matanya, dua perempuan membawa bejana berjalan lalu duduk bersimpuh di hadapan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo beserta isteri, Siti Atikoh.

Saat Jesayas melafalkan kalimat "O Gikiri Moi O Jou Madutu. O Gikiri Moi O Jou Madutu. Oh". Dibasuhlah kedua kaki Ganjar dan isteri oleh kedua perempuan pembawa bejana. Begitu tuntas, lima perempuan lain yang duduk di sebelah kanan kiri Ganjar langsung berteriak sahut menyahut: "Oooo ooooo oooo."

"Gunung dan tanjung-tanjung jadi saksi bagaimana mimpi kami tuntas. Laut dan selat bukan hambatan bahwa bapak Ganjar adalah keluarga kami. Siapapun yang sudah masuk ke Hibualamo tidak disediakan pintu keluar. Dan mulai saat ini bapak sudah ada di dalamnya," kata Jesayas.

Hibualamo merupakan rumah besar bagi Suku Tobelo. Ada 10 sub suku yang bernaung di sana, di bawah sebuah lembaga adat. Dan Jesayas Banari jadi salah satu tetua suku Tobelo.

"Ini adalah ungkapan hati kami. You Yaihoro atau upacara pencucian kaki ini adalah curahan hati kami. Jangan dulu berbalik arah bapak, jika cakrawala tidak berarak pulang," katanya.

You Yaihoro, hanya diberikan kepada orang-orang terpilih untuk dijadikan bagian dari keluarga Tobelo. Dan dia tidak menyangka, hari ini, Sabtu (16/16/2021) sukunya melakukan upacara pencucian kaki atau pemberian kehormatan itu kepada Ganjar dan isteri.

Tak hanya sebagai keluarga, Ganjar siang itu juga diberi Parang dan Salawaku. Yakni semacam alat perang yang mengandung arti pengangkatan Ganjar sebagai kesatria Tobelo.

"Beberapa waktu lalu anak-anak kami menyampaikan pakaian adat yang sekarang bapak kenakan, itu adalah buatan tangan-tangan Tobelo.  Dan hari ini, entah karena tanda apa, bapak bisa hadir di tengah-tengah kami," kata Jesayas.

Sebanyak 10 tetua sub suku Tobelo hadir langsung menyaksaan Prosesi you yaihoro itu. Bahkan ibu-ibu dan para pemuda Tobelo juga tidak mau ketinggalan memberikan penyambutan. Merekalah yang menyambut Ganjar dari gapura hingga duduk di beranda Hibualamo.

Ganjar sendiri juga tak menyangka ditahbiskan sebagai warga Suku Tobelo. Selama ini ia hanya memendam mimpi, kapan akan mendapat kesempatan mengunjungi Tobelo. Kota kecamatan di Kabupaten Halmahera Utara yang terkenal dengan tambang emas itu.

Mimpi itu ia pelihara setelah beberapa waktu lalu mendapat tamu warga Halmahera Utara yang mengantarkan seperangkat busana adat Tobelo. Dan kesempatan itu datang setelah Ganjar diundang menghadiri Seleksi Tilawatil Quran Nasional XXVI di Kota Sofifi, Maluku Utara.

Ganjar pun memutuskan menyisihkan waktu tiga setengah jam perjalanan dari Sofifi menuju Tobelo. "Saya bersama isteri merasa bangga bisa hadir di tengah panjenengan. Inilah cara Tuhan mempertemukan kita. Dan inilah cara kita merawat Indonesia," kata Ganjar.

Begitu prosesi ritual selesai, diputarlah alunan musik pengiring Tari Meyasa. Para tetua pun langsung turun untuk menari. Tidak mau ketinggalan, Ganjar beserta isteri langsung turut menarikan Meyasa warga. Sayang sungguh sayang, musik rancak yang menghadirkan suasana hangat serta tawa dan canda siang itu hanya berlangsung singkat.

Waktu Ganjar dan isteri sangatlah mepet. Hanya satu jam di Tobelo, Ganjar harus pamit untuk menemani para kafilah Jawa Tengah pada pembukaan STQ Nasional.

"Terimakasih Bapak Ganjar, kami yakin Bapak akan kembali ke sini suatu hari nanti," kata Jesayas ketika melepas Ganjar, layaknya melepas kepergian anggota keluarganya sendiri.***

Editor : Gungde Ariwangsa SH