logo

Dukung Pemulihan Usaha Transportasi, Pemerintah Diminta Sediakan Sweb Gratis 

Dukung Pemulihan Usaha Transportasi, Pemerintah Diminta Sediakan Sweb Gratis 

Pengamat Kebijakan Transportasi Publik Bambang Istianto,
17 Oktober 2021 13:45 WIB
Penulis : Muhajir

SuaraKarya.id - JAKART: Dampak pandemi Covid-19 ternyata mendistorsi seluruh aspek kehidupan masyarakat baik ekonomi, sosial dan politik.

Pengamat Kebijakan Transportasi Publik Bambang Istianto, mengatakan sektor transportasi mengalami distorsi yang paling parah, yaitu mencapai 80 persen bahkan banyak operator otto bus yang gulung tikar.

“Sementara itu, operasional kereta api dan pesawat juga ikut terdampak signifikan. Padahal transportasi publik merupakan pemicu pertumbuhan kegiatan ekonomi masyarakat,” tegasnya, Minggu (17/10/2021).

Kondisi tersebut kata Bambang, diperparah dengan adanya kebijakan penerapan potokol kesehatan yang ketat di sarana transportasi publik. Seperti dengan adanya sweb dan antigen sebagai upaya pemerintah dalam menekan penularan Covid-19.

Namun sayangnya biaya sweb dan antigen itu dibebankan kepada masyarakat pengguna transportasi publik tersebut. Sehingga banyak masyarakat yang mengeluhkan dengan adanya biaya tambahan.

“Seharusnya pemerintah dapat menyediakan sweb dan antigen secara gratis kepada masyarakat. Sebab, dengan biaya yang tinggi dan dibebankan pada masyarakat itu kian menghambat rutinitas mayarakat dalam menjalankan aktivitasnya. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi jadi melamban,” tandas direktur eskekutif center for public policy studies (CPPS) ini.

Persoalan itu, kata Bambang, diperparah tata kelola transportasi publik  yang belum efektif sehingga biaya transportasi terbilang tinggi, yaitu 25 persen sampai 30 persen mengakibatkan demand masyarakat  masih rendah.

“Artinya, masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi terutama sepeda motor dalam melakukan mobilitas sosialnya,” ujarnya.

Bambang mengatakan, upaya pemerintah dalam rangka percepatan vaksinasi perlu diapresiasi. Namun demikian lanjut Bambang, kebijakan tersebut harus disertai dengan prokes yang ketat namun difasilitasi oleh pemerintah.

Bambang juga mengungkapkan, perilaku masyarakat yang lebih suka menggunakan kendaraan pribadi, saat ini kepemilikan kendaraan roda dua di Indonesia telah menembus angka 133 juta unit. Padahal sepeda motor rentan dengan kecelakaan lalu lintas.

Dalam kurun waktu tahun 2018 dari data 198.457 kejadian laka lalin 73.499 persen diakibatkan dari sepeda motor. Fenomena booming sepeda motor di Indonesia yang membanjiri jalan raya disamping polusi udara meningkat juga menimbulkan kemacetan lalu lintas dihampir pelosok tanah air.

“Bahkan terjadi anomali sepeda motor oleh masyarakat difungsikan untuk mengakut baik orang maupun barang yang disebut ojek online atau ojol yang dibantu alat digital,” terangnya.

Fenomena tersebut faktanya melanggar aturan hukum, tapi beroperasinya sulit dihentikan,  sehingga kecenderungannya merusak sistem angkutan publik.

Namun, Pemerintah belum membuat regulasi yang mampu melindungi keselamatan warganya yang menggunakan layanan ojol tersebut.

Penjelasan diatas menunjukkan bahwa mobilitas orang yang save diandalkan, yaitu melalui sarana transportasi publik. Transportasi sebagai barang publik dan kebutuhan dasar masyarakat menjadi tanggung jawab Pemerintah untuk menyelenggarakan secara nyaman dan aman.

Bambang mnilai kebijakan pemerintah dalam mengatur mengenai transportasi publik telah dilakukan dengan berbagai model, namun hasilnya belum optimal.

“Pilihan transportasi publik yang terintegrasi menjadi prioritas yang terus dikembangkan menjadi model dalam pelayanan publik yang dapat memuaskan masyarakat,” tegas Bambang.

Selama ini transportasi publik seringkali belum sesuai dengan demand masyarakat karena sesuai kultur masyarakat Indonesia lebih suka layanan door to door services.

Sedangkan sistem angkutan umum yang selama ini beroperasi belum sesuai tuntutan publik tersebut. Salah satu kelemahan sistem angkutan umum tersebut diisi oleh ojol yang fenomenal tersebut.***

Editor : Markon Piliang