logo

Monumen Raksasa, Elemen Penyeimbang Pembangunan Gedung Dan Ruang Terbuka Hiau

 Monumen Raksasa, Elemen Penyeimbang Pembangunan Gedung Dan Ruang Terbuka Hiau

Webinar GWK.(foto,ist)
17 Oktober 2021 11:06 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Monumen berbentuk patung menjadikan wajah kota makin menarik dan berbudaya. Patung berukuran raksasa, yang melengkapi ruang terbuka kota, terasa fenomenal sebagai elemen penyeimbang antara pembangunan gedung dan ruang terbuka hijau.

Demikian dikemukakan Ketua Umum Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI) Dr Ir Hadi Prabowo MT dalam Webinwr Garuda Wisnu Kencana - Landmark Kawasan Budaya, yang digelar oleh Kenari Djaja dan Majalah Asrinesia, bekerja sama dengan Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI), di Jakarta, Kamis (14/10/2021).

"Vibrasi monumen Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang ditempatkan pada ruang terbuka di Pulau Bali. Tidak hanya menarik wisatawan, tapi juga para kolektor seni yang melihat replikanya sebagai obyek baru investasi yang memiliki peluang bisnis," tutur Hadi,

GWK yang indah desain dan kebesaran skalanya, dibangun secara harmoni dengan lingkungannya. Landmark/ tenger yang sangat populer di kawasan budaya Jimbaran.

Di bagian lain, perancang kota Dr Ir Danang Prihatmojo, MArch dari IARKI menyampaikan, bagaimana ruang kota bisa menerima kehadiran sebuah monumen, sebagai Landmark yang membanggakan.

Menurutnya, kehadiran elemen kota bukan visual semata. Tapi, harus berdampak bagi kehidupan masyarakat dan lingkungannya.

Sementara, Arsitek Chiquita M Pitoyo IAI dari konsultan Arkitekton Lima, yang terlibat dalam merancang pedestal Garuda Wisnu Kencana menyatakan, bangunan monumen pun harus serasi antar wujud arsitektur dengan fungsinya.

Sosok burung Garuda yang ditunggangi Dewa Wisnu dalam ukuran raksasa, tampil sebagai Artscape ruang terbuka, yang sudah dipertimbangkan seniman pematung Nyoman Nuarta kala menciptakan masterpiece-nya.

Keahliannya membuat patung berskala besar dengan menggunakan tembaga (cooper) dan teknologi modern, telah diakui Fakultas Senirupa ITB, yang menganugerahkan gelar Doktor Kehormatan beberapa bulan yang lalu.

Pembahasan elemen kota, dalam webinar ini dipandu oleh moderator Arsitek Lanskap Ir. Iwan Ismaun MT dari Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI), yang mengerti benar posisi sebuah Landmark pada ruang terbuka hijau.

Peserta seminar terdiri dari kalangan profesi Arsitek, Arsitek Perkotaan, Arsitek Lanskap, Seniman patung, Pengampu daerah dan masyarakat umum. Peserta diharapkan bisa mendapat pengalaman, menerima kehadiran Landmark yang bernuansa budaya.***

Editor : Markon Piliang