logo

Cak Imin: Masyarakat Harus Bijak Sikapi Dunia Digital

Cak Imin: Masyarakat Harus Bijak Sikapi Dunia Digital

Muhaimin Iskandar atau Cak Imin. (Istimewa)
16 Oktober 2021 20:09 WIB
Penulis : B Sadono Priyo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kementerian Kominfo) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyelenggarakan seminar online dengan tema : “Cerdas dan Bijak Dalam Dunia Digital”, Jumat (15/10/2021). Ada tiga pembicara  yaitu Dr H Abdul Muhaimin Iskandar, MSi. yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI Narasumber kedua Dr Devie Rahmawati (TA Menkominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa) serta  Assistriadi Widjiseno ST, M MT (dosen Teknik Informatika UKK Dan Penelitian Digital Leadership).

Dalam siaran persnya, Sabtu (16/10/2021), disebutkane seminar dengan platform digital ini merupakan dukungan Kominfo terhadap Program Literasi Digital yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Tujuannya  untuk mendorong masyarakat agar mengoptimalkan pemanfaatan internet sebagai sarana edukasi dan binis; memberdayakan masyarakat agar dapat memilah dan memilih informasi yang dibutuhkan dan bermanfaat; memberikan informasi yang lengkap kepada masyarakat terkait pembangunan Infrastruktur TIK yang dilakukan oleh Pemerintah khususnya oleh APTIKA; mendorong dan memotivasi peran orang tua dalam pendampingan pembelajaran dimasa pandemi ; serta mewujudkan jaringan informasi serta media komunikasi dua arah antara masyarakat dengan masyarakat maupun dengan pihak lainnya.

Sebagai pembicara awal, Cak Imin (sapaan Muhaimin Iskandar,  menjelaskan bahwa pada saat ini mau tidak mau, ada motivasi yang benar-benar masuk kedalam dunia digital. "Maka dunia digital merupakan dunia keseharian yang mau tidak mau harus kita hadapi dan menjadi bagian di dalamnya. Social media tidak hanya menghubungkan satu orang dengan yang lainya tetapi social media menjadi sangat produktif, bukan saja arus informasi yang berkembang, bahkan antar subjek-subjek pelaku dunia social media adalah produsen-produsen dari informasi. Dunia digital ini yang kemudian semakin menguatkan social media, sehingga informasi cepat, efektif, produktif dan pergantianya sangat cepat. Maka cerdas dalam menggunakan social media adalah mengerti dan memanfatkannya sebagai peluang bisnis atau menjadikanya kekuatan social, ekonomi, bahkan politik. Itulah peluang untuk kita sehingga kita harus cerdas, cerdas artinya mampu memanfaatkan peluang dunia digital. Dan bijak dalam artian kita harus benar-benar menjadi subjek atau actor dari dunia digital yang memberi manfaat," kata Wakil Ketua DPR ini.

 Paparan kedua Assistriadi Widjiseno,  mengatakan bahwa dalam dunia digital ini banyak sekali transformasi, perubahan bentuk dari sisi budaya, social media, bisnis, pendidikan, kesehatan bahkan sampai dunia politik. Untuk bisa cerdas kita perlu adanya wawasan, perlu banyak sekali jam terbang dan pemahanan atau pengetahuan. Pada revolusi industry 4.0 konektivitas antara manusia, mesin & data waktu itu sudah sangat intens atau nyata. "Jadi ini merupakan sebuah perubahan di dalam waktu sekian tahun dari orang tidak menggunakan hp dan sekarang serba menggunakan handphone. Pada akhirnya alam akan menseleksi dunia digital, mana yang positif dan negative dan kita kalau bisa harus hadir dan secara bijak menjadi bagian dari kekuatan produktif untuk menghasilkan yang positf dari dunia digital. Dan pada era digital ini memiliki dampak negative dan juga positifnya bagi kita semua, kita harus bisa mengikuti kemajuan teknologi di era digital ini, karena kemajuan teknologi adalah suatu keniscayaan," katanya.

Pembicara Devie Rahmawati dalam paparannya menjelaskan bahwa dunia digital seharusnya menjadi berkah bukan bencana. Pentingnya etika, karena etika sederhana ialah tentang perilaku yang baik dan buruk. Kalau di ruang digital apa ciri-cirinya orang yang mempunyai etika atau tidak yaitu melalui komunikasinya. Karena internet sejatinya adalah teknologi komunikasi. "Kunci kesuksesan hidup di internet ialah melalui komunikasi yang beradap dan bermantabat. . Mari kita perbaiki diri sebagai bangsa agar riset-riset tahun depan tidak lagi menunjukan data yang memalukan tersebut. Maka Indonesia menjadi masyarakat yang marah bukan ramah dan masyarakat yang berang bukan yang tenang," kata akademisi UI ini.

Setelah paparan materi dari ketiga narasumber, seminar dilanjutkan  tanya jawab dengan para peserta yang jumlahnya 150 orang. ***

Editor : Pudja Rukmana