logo

Tambang Emas Ilegal Muncul Di Desa Bangbayang Sumedang, Warga Resah

Tambang Emas Ilegal Muncul Di Desa Bangbayang Sumedang, Warga Resah

14 Oktober 2021 10:29 WIB
Penulis : Syamsudin Walad

SuaraKarya.id - SUMEDANG: Sebuah kegiatan pertambangan emas diduga illegal muncul di desa Bangbayang, Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Kegiatan pertambangan diduga illegal ini diperkirakan sudah berlangsung sejak bulan Mei 2021.  

Dari informasi warga, pertambangan berlangsung diatas lahan  milik Umar yang juga kepala desa Bangbayang. Diduga juga menjadi salah satu pelaku utama hingga kegiatan penambangan bisa berlangsung mulus tanpa gangguan berarti  

Di pertambangan ini terdapat sejumlah pekerja tambang dengan jumlah sekitar 5-7 orang pekerja yang melakukan penggalian tambang hampir setiap hari, termasuk pada waktu malam hari dimana warga tengah beristirahat.  

Pipin, warga setempat, mengatakan kegiatan tambang ini sangat mengganggu dan meresahkan warga. Suara bising terdengar jelas, tak henti henti sepanjang malam. 

“Sepanjang saya tinggal di desa ini, sejak lahir malah, setahu saya warga secara turun-temurun bekerja tani, ini kok tiba-tiba ada tambang? Warga tak diajak bicara dan apa alasannya?” ungkapnya saat dihubungi.

Dari hasil pengumpulan informasi,  terdapat dua titik lubang galian,  lubang  galian pertama diperkirakan memiliki kedalaman hingga 20 meter lebih , sementara lubang galian tambang kedua belum sedalam penggalian lubang pertama karena baru berlangsung lebih kurang satu bulan terakhir. 

Sejumlah warga asli desa bangbayang pernah mencoba mempertanyakan bahkan  memprotes keberadaan tambang, namun tidak pernah ditanggapi.

 Bahkan Salah seorang warga yang dianggap telah melaporkan kegiatan penambangan ini ke pihak kepolisian malah mengalami intimidasi .

Dampak dari aktifitas tambang illegal ini memang beragam. Salah satunya   muncul kekhawatiran warga akan terjadinya longsor seperti yang pernah terjadi  tahun 2021 sebanyak dua kali, yang menyebabkan jalan desa rusak dan longsor kedua menyebabkan rumah warga tertimbun tanah padahal saat itu belum ada kegiatan pertambangan . 

Keluhan lain muncul, karena tanah di persawahan warga mulai berubah tingkat kepadatannya, yang semula gembur kini mulai keras disertai warna air yang mengalir mulai keruh. Meski ini perlu pembuktian secara ilmiah, tapi peristiwa ini belum pernah terjadi sebelum terjadinya aktifitas pertambangan.  

“Kalau longsor gimana coba, kok gak tanya warga dulu? Saya kok gak rela ya ada tambang di sini,” kata Kokom dengan nada tinggi.ungkapnya

Disamping mempertanyakan izin atau AMDAL dari kegiatan tambang, warga juga selalu mendengar suara mesin dari area pertambangan hingga larut malam. Posisi tambang yang berada di tanah paling tinggi di desa ini, tentu saja membuat potensi longsor semakin besar. ***

Editor : Pudja Rukmana