logo

Jokowi: Jangan Sampai Ada Yang Mendidik Lagi Jadi Ekstremis Garis Keras 

Jokowi: Jangan Sampai Ada Yang Mendidik Lagi Jadi Ekstremis Garis Keras 

Foto: YouTube
13 Oktober 2021 23:40 WIB
Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan bahwa tugas perguruan tinggi (PT) sekarang ini tidak gampang. Artinya, tanggung jawab PT tidak hanya sebatas mendidik mahasiswa di dalam kampus namun juga bertanggung jawab atas pendidikan mahasiswa di luar kampus. 

Demikian salah satu arahan Presiden Jokowi kepada peserta Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXIII dan Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXII Tahun 2021 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Rabu (13/10/2021). 

Yang paling penting, kata Presiden, seperti disampaikan Prof Agus (Gubernur Lemhanas Letnan Jenderal TNI Purn Agus Widjojo), pendidikan tinggi harus mampu mencetak dan melahirkan mahasiswa yang unggul dan utuh, sehat jasmani dan rohani, berbudi pekerti baik, dan memiliki kebangsaan nasionalisme yang baik. 

"Artinya, tugas perguruan tinggi itu tidak hanya mendidik di dalam kampus tetapi juga di luar kampus," ungkap Kepala Negara dalam acara yang disiarkan di YouTube Sekretariat Presiden.

“Jangan sampai nanti di dalam kampus dididik mengenai kebangsaan, mengenai Pancasila, tetapi nanti di luar kampus ada yang mendidik lagi menjadi ekstremis garis keras atau radikal garis keras,” kata Presiden.

"Jangan sampai di dalam kampus dididik mengenai budi pekerti yang baik, tetapi di luar kampus ada yang mendidik lagi menjadi pecandu narkoba," ujarnya pula. 

Teknologi Digital

Perubahan dunia yang sangat cepat yang ditandai dengan revolusi industri 4.0 dan disrupsi teknologi, ungkap Presiden, perlu disikapi dengan hati-hati. Untuk menghadapinya, diperlukan sikap arif dalam mengembangkan teknologi sekaligus aktif mengakuisisi berbagai teknologi baru, terutama teknologi digital.

Presiden Jokowi beranggapan pengembangan sumber daya manusia (SDM) harus menjadi perhatian. Dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, harus bisa memfasilitasi mahasiswa untuk mengembangkan bakatnya.

“Namanya SDM betul-betul harus menjadi concern kita. Pendidikan tinggi kita harus memfasilitasi mahasiswa untuk mengembangkan talentanya. Jangan dipagari oleh program-program studi fakultas yang justru membelenggu,” ujar Presiden.

Menurut Presiden, ke depan akan banyak pekerjaan yang hilang dan muncul jenis-jenis pekerjaan baru. Oleh sebab itu, mahasiswa harus bisa memahami berbagai perkembangan ilmu yang terus berkembang seperti matematika statistik, ilmu komputer, bahasa Inggris, hingga bahasa pemrograman.

“Perkembangan-perkembangan seperti ini kalau enggak kita segera antisipasi bisa ketinggal kita. Jadi, mungkin di fakultas kedokteran harus secepatnya mulai ada mata kuliah tentang robotik. Tinggal skill baru harus selalu di-update teknologinya karena apa yang diajarkan oleh guru semester ini, nanti semester depan diajarkan lagi sudah usang,” jelasnya.

Kepala Negara mengingatkan bahwa universitas dan perguruan tinggi harus mampu mendorong mahasiswanya untuk belajar di mana saja, dengan siapa saja, berani mencoba hal-hal baru, dan tidak terjebak dengan rutinitas. Misalnya, para mahasiswa bisa diberi kesempatan untuk belajar di perusahaan teknologi.

“Taruh mahasiswa di sebuah perusahaan teknologi untuk mereka belajar. Misalnya apa itu hyperloop, apa itu Splash X, apa itu advance robotic. Semuanya memang harus, karena kecepatan perubahan betul-betul sangat cepat sekali,” ungkapnya. ***

Editor : Pudja Rukmana