logo

Pasok Pasar Ekspor, Kemenperin Monitor Produktivitas Pabrik Gula Rafinasi

Pasok Pasar Ekspor,  Kemenperin Monitor Produktivitas Pabrik Gula Rafinasi

Plt. Dirjen Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika (kanan) bersama Dirut PT Medan Sugar Industry (MSI) Indra Suryanigrat (kiri) meninjau proses produksi gula kristal rafinasi di PT Medan Sugar Industry (MSI). Ist
13 Oktober 2021 22:50 WIB
Penulis : AG. Sofyan

SuaraKarya.id - MEDAN: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya mendorong produktivitas industri gula nasional, baik untuk kebutuhan konsumsi dan gula rafinasi untuk bahan baku bagi sektor industri makanan, minuman, dan farmasi (maminfar) di dalam negeri.

“Karena perannya yang penting bagi industri pengguna dan masyarakat, kami terus menjaga keberlangsungan usaha industri gula rafinasi sehingga dapat menjamin ketersediaan bahan baku bagi sektor maminfar dengan harga yang kompetitif. Hal ini juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri," ujar Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika di Medan, Selasa (12/10/2021).

Plt. Dirjen Industri Agro mengemukakan, pihaknya akan terus memonitor perkembangan pabrik gula rafinasi di tanah air seiring dengan kebutuhan gula kristal rafinasi (GKR) di pasar domestik yang kian meningkat. Hal ini menandakan sektor industri pengguna GKR mulai bergeliat dan aktivitas perekonomian nasional semakin pulih setelah terkena imbas pandemi Covid-19.

Pemulihan ekonomi juga ditunjukkan dengan meningkatnya Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia sebesar 52,2 pada bulan September 2021, atau naik 8,5 poin dibandingkan dengan bulan Agustus 2021.

Potensi industri gula rafinasi untuk orientasi pasar ekspor semakin meningkat. Oleh karena itu, keberadaannya perlu dioptimalkan melalui peningkatan utilisasi dengan mendorong ekspor hasil produksi nasional.

"Negara tujuan ekspor gula kristal rafinasi yang sudah terbuka antara lain Vietnam, Myanmar, Filipina, Timor Leste, Qatar, Singapura, dan Mongolia," ungkap Putu.

Guna memacu produktivitas industri gula nasional, diperlukan langkah sinergis antara pemangku kepentingan. Misalnya, pada akhir pekan kemarin, Plt. Dirjen Industri Agro mendampingi sejumlah anggota Komisi VII DPR RI melakukan kunjungan kerja di Deli Serdang, Sumatera Utara.

Kegiatan ini dalam rangka mendengarkan langsung perkembangan dan kendala dari pelaku industri gula rafinasi. Saat itu, Kemenperin bersama Komisi VII DPR RI melakukan pertemuan dengan Direksi PT Medan Sugar Industry (MSI), satu-satunya pabrik gula rafinasi di Sumatera Utara.

“Kunker tersebut diharapkan dapat memberikan dukungan dalam pengembangan industri gula rafinasi di Indonesia," papar Putu.

Rombongan para legislator dipimpin langsung oleh Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto (Fraksi Partai NasDem), dengan turut dihadiri Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Bambang Hariyadi (FP Gerindra), serta anggota Komisi VII DPR RI Yulian Gunhar (FP PDIP), Nasril Bahar (FP PAN), Tifatul Sembiring (FP PKS), dan Rofik Hananto (FP PKS).

Kemenperin bersama Komisi VII DPR RI sepakat untuk meningkatkan daya saing industri gula rafinasi sekaligus mendorong program substitusi impor.

"Pemerintah bertekad untuk terus memberikan perhatian terhadap pengembangan industri gula di tanah air," tegas Putu.

Dukungan pemerintah dalam hal ini diwujudkan melalui penerbitan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 10 Tahun 2017 tentang Fasilitas Memperoleh Bahan Baku Dalam Rangka Pembangunan Industri Gula.

"Permenperin 10/2017 ini bertujuan untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif dengan pemberian insentif nonfiskal. Kebijakan ini diharapkan dapat menarik investor untuk membangun pabrik gula baru dan/atau perluasan yang terintegrasi dengan pengembangan perkebunan tebu," tutur Plt. Dirjen Industri Agro.

Jaga Pasokan Bahan Baku

Selain itu, Kemenperin juga menerbitkan Peraturan Menteri Perindustrian No 3 Tahun 2021 tentang Jaminan Ketersediaan Bahan Baku Industri Gula Dalam Rangka Pemenuhan Kebutuhan Gula Nasional. Peraturan tersebut bertujuan memberikan jaminan ketersediaan bahan baku untuk gula konsumsi dan gula industri, serta memberikan kejelasan demarkasi produksi masing-masing pabrik gula.

“Pabrik gula rafinasi melayani industri maminfar dan pabrik gula berbasis tebu menghasilkan gula konsumsi menuju swasembada gula nasional. Hal ini juga bertujuan menghindari terjadinya rembesan gula rafinasi ke pasar gula konsumsi, di samping memastikan penyerapan produksi tebu petani dan melindungi petani," jelas Putu.

Kemenperin mencatat, saat ini terdapat 11 pabrik gula rafinasi dengan kapasitas terpasang 5,016 juta ton per tahun yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Produksi GKR pada tahun 2020 mencapai 3,09 juta ton. Sedangkan pada tahun sebelumnya sebesar 3,04 juta ton, meningkat 13% dibanding tahun 2018 (2,69 juta ton).

Sementara itu, kebutuhan GKR di pasar domestik diperkirakan sebesar 3-3,2 juta ton pada tahun 2021. Pabrik gula rafinasi yang ada saat ini didesain hanya untuk memproduksi GKR dari raw sugar yang merupakan bahan baku industri maminfar, agar nilai tambahnya ada di dalam negeri.

Pabrik gula rafinasi tidak diperkenankan mengolah tebu maupun Gula Kristal Putih (GKP), sebagaimana tertuang pada Permenperin 3 Tahun 2021.

Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto menyampaikan, pihaknya bertekad untuk terus membangkitkan kinerja sektor industri nasional, termasuk industri gula.

"Gula merupakan salah satu komoditas yang strategis, termasuk gula rafinasi untuk memenuhi kebutuhan industri penggunanya," ujarnya.

Menurut Sugeng, konsumsi gula terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan tumbuhnya sektor industri.

"Dalam kunjungan kerja ini, kami ingin memastikan supply and demand untuk gula bisa seimbang, sehingga tidak terjadi gejolak di pasar. Dengan adanya keseimbangan ini akan tercipta perdagangan yang sehat, termasuk menjaga stabilitas harga,"tuturnya.

Lebih lanjut, kinerja sektor industri perlu dipacu untuk mendukug pertumbuhan ekonomi. Misalnya melalui peningkatan investasi dan ekspor.

"Kami juga bertekad untuk menekan impor, dengan terus mengoptimalkan produktivitas di dalam negeri," imbuhnya.

Direktur Utama PT Medan Sugar Industry (MSI) Indra Suryanigrat mengungkapkan, perusahaan yang memiliki izin prinsip pada tahun 2003 di Medan, Sumatera Utara, sampai saat ini telah memasok GKR sebagai kebutuhan bahan baku di industri makanan, minuman, dan farmasi. Bahkan, juga memasok untuk industri kecil dan menengah melalui koperasi.

Saat ini, PT MSI sudah memiliki sertifikat SNI, Halal, Kosher, ISO 9001 dan ISO 22000. Selain itu, kami sudah mendapat fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE).

"Jadi, kami ikut berpartisipasi untuk mendukung pemerintah dalam upaya meningkatkan nilai ekspor nasional, papar Indra. PT MSI memiliki luas pabrik 8 hektare dengan kapasitas produksi sebesar 400 ribu ton per tahun. Dalam proses produksinya, PT MSI telah menggunakan teknologi terbaru dengan sistem otomatisasi. Hal ini untuk menjamin kualitas dan higienitas produknya.

Kami terus melakukan improvement agar bisa lebih berdaya saing. Kami optimistis, selain untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, juga dapat mengisi pasar ekspor.

Saat ini, perusahaan sudah mendapatkan kontrak untuk ekspor sebesar 45 ribu ton. Dalam mendukung penggunaan energi terbarukan, PT MSI memanfaatkan cangkang sawit menjadi bahan baku untuk pembangkit listrik tenaga biomassa.

"Kami mampu menghasilkan tenaga listrik berbasis biomassa sebesar 6 megawatt untuk memenuhi kebutuhan operasional pabrik sekitar 3 megawatt," tandasnya.***

Editor : Gungde Ariwangsa SH