logo

Terjadi Pergeseran Filosofi, Program JHT Harusnya Dinikmati Di Hari Tua

 Terjadi Pergeseran Filosofi, Program JHT Harusnya Dinikmati Di Hari Tua

BPJAMSOSTEK. (foto,ist)
08 Oktober 2021 00:16 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Hampir dua tahun sudah pandemi Covif-19 melanda Indonesia, dan memberi dampak yang masif, tak terkecuali terhadap sektor ketenagakerjaan. Hal ini, yang mendasari Komisi IX DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP).

RDP yang melibatkan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), BPJS Ketenagakerjaan (BPJAMSOSTEK), serta perwakilan Serikat Pekerja/ Buruh itu, membahas terkait pengawasan klaim Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP) dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP), terhadap pekerja atau buruh yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Pada kesempatan itu, Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial (PHI & Jamsos) Kemnaker Indah Anggoro Putri, di Jakarta, Rabu (6/10/2021) menyatakan, peningkatan angka klaim JHT, salah satunya disebabkan oleh banyaknya pekerja yang mengalami PHK.

Selain itu, pihaknya mendapati adanya pergeseran filosofi dari program JHT, yang seharusnya dinikmati ketika memasuki hari tua atau masa pensiun. Namun, banyak pekerja yang justru mencairkan saldo JHT setelah PHK.

Hal in,i juga didasari Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2015 dan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor 19 Tahun 2015, yang memungkinkan para pekerja untuk melakukan klaim JHT satu bulan setelah mengalami PHK. Saat ini, Kemnaker sedang melakukan revisi terhadap Permenaker itu untuk mengembalikan kepada filosofi program JHT yang seharusnya.

“Kami merevisi Permenaker Nomor 19 itu, kita kembalikan kepada filosofi JHT yaitu benar-benar sebagai tabungan di masa tua sebagai amanat yang tertera dalam Undang-Undang nomor 40 tahun 2004 dan juga Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 tahun 2015,” tutur Indah.

Sejalan hal itu, Direktur Pelayanan BPJAMSOSTEK Roswita Nilakurnia memaparkan, data klaim JHT dalam kurun waktu Desember 2020 hingga Agustus 2021. Dia membenarkan, selama masa pandemi terjadi kenaikan jumlah klaim jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Hingga Agustus 2021, tercatat 1,49 juta kasus JHT dengan penyebab klaim didominasi oleh pengundurkan diri dan PHK. Selain itu, mayoritas nominal saldo JHT yang diklaim adalah di bawah Rp10 juta dan range umur peserta paling banyak di bawah 30 tahun, yang merupakan usia produktif bekerja.

Sementara itu, Sekjen Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (K-SPSI), Hermanto Achmad juga menyoroti isu yang sama. Saat ini, pencairan JHT sangat mudah dan banyak di antara pekerja yang menggunakan modus seolah-olah PHK untuk dapat melakukan klaim.

Sehingga, hal ini cenderung tidak sesuai dengan filosofi jaminan sosial yang sejak awal menjadi harapan bagi seluruh pekerja Indonesia, untuk memiliki hari tua yang terjamin.

Sedangkan, Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) Elly Rosita Silaban menambahkan, agar mekanisme pencairan JHT dikembalikan ke konsep UU Nomor 24 tahun 2011, seperti praktek yang berlaku di internasional berupa old saving.

"Dana yang disimpan di BPJS Ketenagakerjaan itu sebenarnya adalah dana ketahanan, untuk pembangunan ekonomi. Ketika Jaminan Hari Tua diubah maknanya menjadi jaminan hari terjepit, karena bisa diambil setelah dipecat, memang menjadi hilang filosofinya. Apakah dikembalikan (aturannya) ke undang-undang sebelumnya, itu mungkin juga masih perlu diskusi untuk lebih lanjut," papar Elly.

Dia juga menitikberatkan pada manfaat program Jaminan Pensiun (JP) yang masih sangat kecil yaitu Rp300 ribu hingga Rp3,6 juta per bulan. Dia menyayangkan sejak program itu dijalankan sejak tahun 2015 hingga saat ini, belum dilakukan peninjauan kembali terkait besaran iurannya.

Elly berharap peninjauan dapat dilakukan setiap 3 tahun sekali sesuai ketentuan, agar manfaat yang diterima peserta maksimal.

Kepala BPJAMSOSTEK Cabang Jakarta Cilincing Haryani Rotua Melasari, mengatakan, dengan adanya pergeseran filosofi Program JHT, tidak menyurutkan semangat pihaknya, untuk mengedukasi kepada masyarakat. Terkait manfaat program BPJAMSOSTEK dan meningkatkan perlindungan sebagai upaya menjamin hari tua bagi para pekerja. ***

Editor : Pudja Rukmana