logo

Gelar 18 Pertemuan Bilateral Di Markas PBB, Menlu Retno: Isu Utama Masih Soal Covid-19

Gelar 18 Pertemuan Bilateral Di Markas PBB, Menlu Retno: Isu Utama Masih Soal Covid-19

Menlu Retno Marsudi. (Kemenlu)
27 September 2021 11:33 WIB
Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi melakukan serangkaian 18 pertemuan bilateral membahas berbagai isu global. Ini dilakukan pada dua hari terakhir mengikuti Sidang Majelis Umum (MU) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-76 di New York, AS, 23-24 September 2021.

Berbagai agenda bilateral dibahas dalam 18 pertemuan tersebut, mulai dari penanganan Covid-19, kerjasama ekonom, situasi Afghanistan, krisis Myanmar hingga tuan rumah G20.

Sebelumnya, sebagai koordinator kemitraan ASEAN-Amerika Serikat (AS), Menlu Retno  bersama Menlu AS Antony Blinken, memimpin ASEAN-US Ministerial Meeting yang dilakukan secara hybrid.

Dalam Press Briefing Menlu RI High Level Week Sidang Majelis Umum PBB ke -76 New York, 24 September 2021 yang dirilis Kemenlu, Sabtu (25/09/2021), Menlu Retno menjelaskan bahwa pertemuan-pertemuan tersebut dilakukan secara maraton, antara lain dengan Komisaris Tinggi UNHCR, Sekjen Liga Arab, CEO US ASEAN Business Council, Menlu Sri Lanka, Menlu Jepang, Presiden Palau, Menlu Mozambik, Menteri Negara Luar Negeri Inggris Lord Ahmad of Wimbledon, dan Menlu Pakistan.

Kemudian, dilanjutkan dengan Menlu Serbia, Menlu Iran, Sekjen PBB, PM Belanda, Menlu Perancis, US Under Secretary for Political Affairs, Menlu Mauritania, Menlu Thailand dan Utusan Khusus AS untuk Afghanistan (Duta Besar Zalmay Khalidzad).

Menurut Menlu Retno, dalam pertemuan-pertemuan itu terdapat beberapa isu utama yang diangkat di hampir setiap pertemuan. 

Pertama, terkait penanganan Covid-19. Di setiap pertemuan,  selalu dilakukan compare note dengan berbagai negara terkait penanganan Covid-19 di negara nasing-masing.

Dalam kesempatan itu, Menlu Retno menyampaikan situasi Covid-19 di Indonesia yang  semakin membaik karena berbagai upaya yang dilakukan pemerintah, baik berupa percepatan vaksinasi maupun aturan-aturan lainnya terkait protokol kesehatan (prokes). Intinya, untuk mengatasi Covid-19 maka dua hal harus diperhatikan, yakni percepatan vaksinasi dan terus menjalankan protokol kesehatan (prokes).

"Dan, saya sampaikan positivity rate di Indonesia saat ini rata-rata di bawah 2%, di bawah standar WHO sebesar 5%, di mana sebelumnya sempat mencapai titik 31%," kata Menlu Retno.

Secara khusus, terhadap beberapa negara yang masih menerapkan redlist, Menlu Retno minta agar mempertimbangkan untuk mengubah status tersebut mengingat situasi di Indonesia semakin membaik. Satu contoh, Perancis sudah mengeluarkan Indonesia dari redlist.

Lebih jauh Menlu Retno mengatakan, saat berbicara mengenai pandemi, dibahas pula keprihatinan terhadap

ketimpangan, diskriminasi dan politisasi. Yang jelas, semua sepakat untuk mempersempit ketimpangan vaksin dan menghentikan diskriminasi serta politisasi vaksin.

Dalam pertemuan dengan US Under Secretary for Political Affairs, Ambassador Victoria Nulan, AS kembali menyampaikan keputusan untuk memberikan tambahan vaksin kepada Indonesia melalui Covax Facility sebesar kurang lebih 800.000 dosis.

Jadi, ada komitmen baru menambah vaksin 800.000 dosis melalui Covax Facility dan dalam waktu dekat akan tiba di Indonesia. Sementara sebelumnya Indonesia sudah menerima dari Amerika 12,665,060 dosis vaksin. 

Tentu Menlu Retno menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah AS atas dukungan tersebut. Dan, dalam berbagai kesempatan, Pemerintah Indonesia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan dose-sharing dari Belanda, Jepang, dan Prancis.

"Saya juga membahas bagaimana ke depan dunia dapat memperkuat tata kelola kesehatan global sehingga mampu mengantisipasi potensi pandemi di masa yang akan datang," kata Menlu Retno.

Isu kedua yang selalu muncul dalam pertemuan bilateral adalah kerja sama ekonomi untuk pemulihan ekonomi. Termasuk pembahasan mengenai upaya peningkatan kerja sama ekonomi dengan berbagai negara.

Dorongan untuk segera menyelesaikan perjanjian perdagangan seperti Preferential Trade Agreement (PTA), disampaikannya dengan Pakistan, Sri Lanka, Iran, dan Mozambique. "Mauritania, misalnya, ingin memiliki kemitraan di bidang ekonomi dengan Indonesia dan mengharapkan kedatangan delegasi bisnis Indonesia ke Mauritania," ungkap Menlu Retno.

Secara khusus,  Menlu Retno meminta dan berharap Pemerintah Sri Lanka meninjau kembali atau menghapus kebijakan yang ?menghambat ekspor sawit Indonesia ke Sri Lanka. "Dan, Menlu Sri Lanka dan saya sepakat untuk mengintensifkan komunikasi dalam menyelesaikan isu sawit ini," ujar Menlu RI.

Dalam pertemuan dengan delegasi Jepang, Menlu Retno menyampaikan harapan agar dapat dilakukan percepatan proyek-proyek kerja sama yang sedang dijalankan Indonesia-Jepang, antara lain proyek Pelabuhan Patimban.

Sementara itu, dengan CEO ASEAN-US Business Council, dibahas pentingnya upaya meningkatkan business engagement dengan Indonesia. "ASEAN-US Business Council juga tertarik melakukan kerja sama capacity building untuk UMKM melalui penyediaan pilot projects dari SMEs Academy," ungkap Menlu Retno.

Situasi Afghanistan

Isu ketiga yang selalu muncul dalam pertemuan-pertemuan di markas PBB adalah terkait perkembangan di Afghanistan. "Di hampir semua pembicaraan bilateral, kita membahas perkembangan situasi di Afghanistan. Semua menyampaikan keprihatinan terhadap perkembangan Afghanistan saat ini," kata Menlu Retno.

Tampak harapan negara-negara lain terhadap peran Indonesia di Afghanistan. Hal ini mengingat sebelumnya Indonesia telah banyak berperan dalam mendukung proses perdamaian di Afghanistan.

Apalagi, situasi kemanusiaan di Afghanistan cukup memprihatinkan, seperti disampaikan Komisaris Tinggi UNHCR dan Sekjen PBB.

Mengingat track record Indonesia selama ini, negara seperti Indonesia diharapkan dapat terus memberikan perhatian dan kontribusi agar situasi kemanusiaan di Afghanistan tidak semakin memburuk.

Dalam pertemuan, Menlu Retno menyampaikan bahwa Indonesia telah memberikan komitmen bantuan kemanusiaan seperti yang disampaikan dalam pledging conference yang diadakan Sekjen PBB.

"Apresiasi peran Indonesia di Afghanistan secara khusus diapresiasi oleh Sekjen PBB. Sekjen mengatakan Indonesia memiliki kredensial untuk berbicara dan melakukan engagement dengan semua pihak," ungkap Menlu Retno.

Krisis Myanmar

Isu keempat yang selalu muncul di hampir semua pertemuan di markas PBB terkait perkembangan di Myanmar. Dan, dalam setiap pertemuan, para mitra Menlu Retno selalu bertanya mengenai bagaimana  perkembangan terakhir di Myanmar.

"Tentunya saya kemudian menjelaskan mengenai situasi saat ini, yang saya sampaikan 'belum menunjukkan kemajuan yang siginifikan'," ujar Menlu Retno.

Yang jelas, dari aspek politik, Menlu Retno menyampaikan bahwa Utusan Khusus ASEAN belum dapat menjalankan tugasnya karena masih memerlukan akses untuk bertemu dengan semua pihak.

Di sisi kemanusiaan, bantuan kemanusiaan ASEAN sudah mulai dijalankan sejak pertengahan September 2021 melalui AHA Centre. Khusus bantuan Indonesia kepada rakyat Myanmar insya Allah akan dikirim sebelum akhir September 2021. "Di lain pihak, para mitra Indonesia mengapresiasi peran sentral yang dimainkan Indonesia dalam isu Myanmar," ucap Menlu Retno.

G20 Indonesia

Selain keempat isu di atas yang selalu muncul di hampir semua pertemuan, terdapat juga beberapa isu spesifik yang mengemuka.

Dalam pertemuan dengan Sekjen PBB, Menlu Jepang dan para Menlu MIKTA, Menlu Retno antara lain menjelaskan mengenai prioritas presidensi G20 Indonesia.

Kemudian dengan Presiden Palau, Menlu Retno menyampaikan dukungan terhadap Presiden Palau terkait pelaksanaan konferensi mengenai Ocean. Dalam kesempatan itu, Presiden Palau sangat mengapresiasi bantuan Indonesia berupa 10 kendaraan patroli dan 4 kendaraan protokol serta pelatihan keprotokolan guna mendukung event tentang 'samudra' tersebut.

"Dengan Palau, Indonesia juga sepakat untuk segera menyelesaikan perundingan perbatasan zona ekonomi eksklusif (ZEE) antara kedua negara yang tertunda selama pandemi," ungkap Menlu Retno. ***

Editor : Pudja Rukmana