logo

Di PBB, Menlu Retno: Ekonomi Kreatif Percepat Pemulihan Ekonomi Global 

Di PBB, Menlu Retno: Ekonomi Kreatif Percepat Pemulihan Ekonomi Global 

Retno Marsudi. (Dok Kemenlu)
26 September 2021 19:30 WIB
Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi menjelaskan kegiatan Ministerial Side Event on Resilient and Inclusive Creative Economy for a Thriving Future yang digelar di sela Sidang Majelis Umum (MU) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, AS, 23-24 September 2021, mendspat sambutan positif banyak negara anggota PBB.

Pertemuan yang diinisiasi Indonesia itu sendiri dibuka oleh Menlu Retno Marsudi bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Indonesia Sandiaga Uno serta Menteri Kebudayaan dan Pemuda Uni Emirat Arab.

Pertanyaannya, mengapa Indonesia mengadakan pertemuan ini?

Dalam Press Briefing Menlu RI High Level Week Sidang Majelis Umum PBB ke -76 New York, 24 September 2021 atau Sabtu (25/09/2021), Menlu Retno menjelaskan alasan mengapa pertemuan terkait ekonomi kreatif digelar.

Pertama, kata Menlu, pada tahun 2019 Indonesia memprakarsai resolusi Majelis Umum PBB mengenai ekonomi kreatif. Dalam resolusi tersebut, PBB secara aklamasi mengesahkan tahun 2021 sebagai International Year of Creative Economy for Sustainable Development 2021. 

"Tentu kita ingin menjaga momentum pelaksanaan tahun internasional ekonomi kreatif ini. Indonesia ingin mengarus-utamakan agenda ekonomi kreatif dalam agenda masyarakat internasional," ujarnya.

Kedua, ungkap Menlu, sebagaimana diketahui, di masa pandemi, perlu ada penyesuaian dan adaptasi kegiatan ekonomi masyarakat. Ekonomi kreatif adalah solusi yang inovatif dalam menyikapi pandemi dan mendorong percepatan pemulihan ekonomi nasional.

Menlu Retno mengawali sambutan dalam pertemuan mengenai ekonomi kreatif itu dengan menyampaikan bahwa di masa pandemi dibutuhkan terobosan untuk menciptakan lapangan pekerjaan, mempekerjakan wanita dan anak muda, serta mengentaskan kemiskinan.

"Di sinilah peran penting ekonomi kreatif yang menyumbang lebih dari 30 juta pekerja di dunia, di mana setengahnya adalah perempuan," ungkap Menlu Retno.

Di Indonesia sendiri, menurut Menlu Retno, ekonomi kreatif mempekerjakan 14,3% tenaga kerja Indonesia. "Di masa pandemi seperti ini, industri kreatif terbukti mampu bukan saja bertahan, namun juga tumbuh dan berkembang," ujarnya.

Oleh karena itu, International Year of Creative Economy for Sustainable Development 2021 menjadi momentum untuk lebih mendukung ekonomi kreatif sebagai upaya bagi percepatan pemulihan ekonomi global. 

Untuk mengarusutamakan industri ekonomi kreatif dalam agenda global, dalam pertemuan tersebut, Menlu Retno menyampaikan 2 hal.

Pertama, menciptakan kondisi yang kondusif bagi berkembangnya industri ekonomi kreatif. Ini adalah tanggung jawab pemerintah yang diharapkan dapat dilakukan melalui beberapa hal:

- Membuat kebijakan dan peraturan yang memacu inovasi.

- Memberikan akses terhadap pembiayaan.

- Memfasilitasi digitalisasi dan penetrasi pasar di luar negeri.

- Mengembangkan sumber daya manusia.

"Aset terbaik dari industri ekonomi kreatif adalah sumber daya manusia," ucap Menlu.

Kedua, memperkuat kolaborasi untuk mengarusutamakan agenda ekonomi kreatif.

Langkah awal adalah meningkatkan kepedulian publik terhadap arti penting ekonomi kreatif. Dalam hal ini, peran industri ini di negara berkembang harus diperkuat.

Sementara sistem PBB diharapkan dapat mendukung tumbuh dan berkembangnya indsutri ekonomi kreatif di dunia melalui:

- Saling berbagi pengalaman.

- Tuntunan kebijakan atau policy guidelines.

- Menyediakan platform untuk kolaborasi.

Pada akhir sambutan, Menlu Retno kembali mengajak semua pihak untuk memanfaatkan tahun  internasional ekonomi kreatif guna mendukung berkembangnya industri ini agar dunia dapat segera pulih. ***

Editor : Pudja Rukmana