logo

Euforia Massa Jangan Sampai Picu Covid-19 Gelombang Ke-3

 Euforia Massa Jangan Sampai Picu Covid-19 Gelombang Ke-3

salah satu obyek wisata andalan Jawa timur. (Foto: Istimewa)
26 September 2021 15:59 WIB
Penulis : Andira

SuaraKarya.id - SURABAYA: Laju penularan Covid-19 yang terus melandai mulai dirasakan hingga ke mana-mana. Jalanan menuju kawasan industri di Surabaya dan Sidoarjo sudah kembali dijejali truk-truk tronton dan kontainer besar. Pemandangan yang sangat bertolak belakang dibanding saat pandemi Covid-19 sedang menerjang habis-habisan negri ini, beberapa waktu lalu.  

Seorang warga Keputih Surabaya, Hari Triyono (48) mengaku kondisi sekarang memang sudah jauh berubah. "Sekarang tidak ada lagi ambulans pengangkut jenazah yang beriring-iringan masuk ke kawasan tempat pemakaman Umum (TPU) Keputih," ujarnya, Minggu (26/9/2021).

Di benaknya masih teringat jelas tentang bayang-bayang kecemasan warga di jalanan kawasan Keputih Surabaya, yang hampir setiap jam dilintasi mobil ambulans membawa jenazah Covid-19. Tapi kali ini, rasa was-was tentang virus asal Wuhan yang hendak melumatkan seluruh warga itu, mulai sirna.

Di masa lalu, sales makanan ringan ini sering dibuat kesal oleh kemacetan lalu lintas di berbagai titik yang rutin dilintasinya. Terutama di jalur-jalur yang menuju pabrik seperti di kawasan Margomulyo Surabaya, hingga Raya Kletek ke arah Sukodono, Sidoarjo.

Tapi pasca pandemi, dia justru menyambut riang suasana macet seperti ini. Menyitir kalimat para pakar ekonomi, dia menyebut, lalu lalangnya truk kontainer itu pertanda perekonomian Jawa Timur sedang bangkit. Itu artinya, bayang-bayang bakal terkena PHK gara-gara pabriknya tutup akibat pandemi, semakin  jauh dari kenyataan.

Gejala penurunan kasus Covid-19 saat ini, sudah diakui berbagai kalangan. Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dalam berbagai kesempatan selalu mengucap syukur karena 38 kabupaten/kota di wilayahnya sudah masuk wilayah risiko rendah alias zona kuning, berdasarkan data Satgas Covid-19 Nasional per 22 September 2021.

Berdasarkan assessment situasi Covid-19 yang dirilis 23 September 2021, jumlah daerah di Jawa Timur yang masuk dalam level 1 mencapai 25 kabupaten/kota (65,7 persen). Angka tersebut meningkat dari sebelumnya 21 kabupaten/kota per 20 September 2021 menjadi 23 kabupaten/kota dan saat ini menjadi 25 kabupaten kota berdasarkan hasil asesmen level Kemenkes tanggal 23 September 2021.

Sebagai informasi, peta zonasi risiko daerah dihitung berdasarkan indikator-indikator kesehatan masyarakat dengan menggunakan skoring dan pembobotan. indikator yang digunakan seperti indikator epidemiologi, indikator surveilans kesehatan masyarakat serta indikator pelayanan kesehatan. Setiap indikator diberikan skoring dan pembobotan, lalu dijumlahkan yang hasil perhitungan dikategorisasi menjadi Zona Merah (risiko tinggi), Zona Oranye (risiko sedang), Kuning (risiko rendah) dan tidak berisiko (Zona Hijau).

Bukan hanya mal (pusat perbelanjaan) yang sudah dibuka meski tetap dengan prokes yang ketat, berbagai obyek wisata juga berangsur sudah mulai dibuka. Gubernur Khofifah bahkan menyebut sudah 154 tempat wisata di wilayahnya yang sudah dibuka. "Tempat wisata dari level 1 dan 2 ada 257 titik sampai kemarin dari 257 area wisata, 154 sudah buka terbatas secara bertahap," ujarnya.

Menurut Khofifah, sektor wisata bisa kembali dibuka karena kondisi Covid-19 yang mulai melandai. Penurunan kasus itu, dibarengi dengan pembatasan sosial yang masih tetap diperketat di berbagai sektor.  Gubernur juga memastikan ekonomi di Jatim sudah mulai bergerak.

Penurunan kasus Covid-19 di Jawa Timur juga disambut ceria pada pengelola hotel dan restoran. Tingkat hunian atau okupansi hotel mulai membaik dari yang sebelumnya hanya 10-15 persen, belakangan secara bertahap mulai merangkak naik. Tapi kondisi bisnis perhotelan, dan restoran di wilayah Jawa Timur secara keseluruhan, masih belum benar-benar pulih.

Menurut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur, Dwi Cahyono, Kota Surabaya merupakan salah satu kota yang memiliki tingkat keterisian hotel cukup baik untuk saat ini. Penerapan level dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), memberikan pengaruh cukup besar terhadap okupansi hotel.

Dia bahkan menyebut, sektor hotel dan restoran yang ada di Jawa Timur saat ini masih berada dalam tahap pemulihan. Pihaknya berharap kasus positif COVID-19 masih bisa terus melandai, dan tidak ada lonjakan seperti yang terjadi di negara-negara lain. "Ini menjadi fase recovery. Jadi sudah melandai, terus membaik, kita berharapnya seperti itu," ujarnya.

Pihaknya berharap di Indonesia jangan sampai muncul Covid-19 gelombang ke-3 seperti yang terjadi di negara lain seperti Amerika. Dia meminta seluruh pelaku usaha hotel dan restoran termasuk pemerintah, untuk benar-benar mengawasi protokol kesehatan secara ketat.

Himbauan senada juga disampaikan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ormas Islam terbesar di Indonesia ini meminta masyarakat agar tak lengah menerapkan protokol kesehatan di setiap aktivitas yang dijalani. "Masyarakat tidak boleh euforia dengan berbagai pelonggaran kegiatan masyarakat yang terjadi sekarang," ujar Ketum PBNU Said Aqil Siroj.

Menurutnya, pandemi hanya bisa diatasi dengan sinergi dan kerja sama yang baik antara pemerintah pusat, daerah, hingga masyarakat. Masyarakat disiplin Prokes, sementara pemerintah menggalakkan vaksinasi dan memperbaiki ekosistem kesehatan. Pemerintah juga perlu membatasi akses masuk bagi tenaga kerja asing, sampai situasi pandemi terkendali.

Seorang Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, juga menghimbau masyarakat untuk tetap waspada, karena krisis pandemi belum berakhir. Ancaman gelombang ketiga Covid-19 dan varian baru virus corona harus diwaspadai. "Memang sudah lewat puncaknya, tapi masa krisis belum berakhir," ujarnya.

Ancaman Covid-19 varian delta di Jawa dan Bali, kata Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia itu, belum selesai saat ini. Dia mengatakan varian delta ditemukan di wilayah pedesaan. Negeri ini masih terancam varian lain, yang bisa jadi lebih hebat dari virus corona varian delta.

Pemprov Jatim sendiri sudah terus menerus mengingatkan warganya untuk tetap waspada. Gubernur Khofifah meminta agar rakyat Jatim tidak larut dalam euforia, kemudian lengah terhadap protokol kesehatan. “Justru saat ini masyarakat harus patuh protokol kesehatan, tidak kendor dan segera lakukan vaksinasi,” pintanya. ***

 

 

 

Editor : Pudja Rukmana