logo

Proaktif & Reaktif

Proaktif & Reaktif

27 September 2021 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Industrialisasi, otomatisasi, digitalisasi dan efisiensi telah menjadi acuan penting di era globalisasi sehingga daya saing tidak terlepas dari komitmen proaktif dan pilihan reaktif dari pesaing.

Oleh karena itu, survival of the quickest tidak bisa diabaikan karena masa depan semakin menuntut adanya kecepatan inovasi yang akhirnya memacu keunggulan kompetitif sementara keunggulan komparatif akan semakin sulit direalisasikan. Artinya, korporasi wajib menciptakan berbagai inovasi untuk bertahan hidup dan pastinya wajib menyediakan sarpras yang memadai. Jadi tanpa ada upaya inovasi maka dipastikan akan kalah bersaing dan akhirnya kolaps karena pesaing baru akan terus bermunculan untuk sekedar mencuri ceruk pasar yang tersisa.

Belajar bijak dari bangkrutnya sejumlah korporasi, tidak hanya di masa pandemi, tetapi juga di saat normal, maka korporasi wajib untuk melakukan pemetaan terhadap tahapan di semua lini proses produksi sehingga mengetahui kekuatan di masing-masing lini yang kemudian menjadi strategi untuk mempersiapkan daya saing demi pertempuran merebut pasar. Oleh karena itu, menciptakan berbagai permintaan baru menjadi penting dan tentu hal ini perlu adanya edukasi secara sistematis dan berkelanjutan karena konsumen pasti dituntut melakukan adopsi.

Padahal riset keperilakuan terkait adopsi menunjukan adanya temuan sejumlah hasil yang beragam sehingga individu berniat melakukan transformasi perubahan keperilakuan. Terkait ini, jika dicermati sejumlah sektor bisnis dan korporasi telah merasakan perihnya perubahan keperilakuan akibat tuntutan modernitas layanan di semua ritme kehidupan, termasuk misalnya komitmen terhadap kecepatan, kemudahan, kenyamanan, kemanfaatan, keuntungan yang  Pastinya juga harus selaras dengan faktor keamanan karena tanpa ada keamanan maka semua yang dijanjikan itu tidak bermakna. Ketakutan bisnis seperti yang dialami sejumlah bisnis konvensional adalah sikap reaktif yang seharusnya tidak perlu terjadi. Sejatinya era perubahan ke arah digitalisasi, online dan modernisasi layanan adalah tinggal menunggu waktu sebab kehadiran internet telah merubah

segalanya, apalagi saat ini tarif internet semakin murah dan aksesnya semakin cepat, sementara di sisi lain realitas piranti gawai dan smartphone juga semakin canggih memenuhi semua kebutuhan dan keinginan konsumen. Tentu fakta tidak bisa dipungkiri bahwa era ‘klik’ telah hadir dan semua bisnis yang tidak mampu berubah menjadi ‘klik’ akan mati dan tergeser. Bahkan, era koran cetak juga perlahan tapi pasti mati tergantikan koran online dan e-paper. Paling tidak, ini terlihat dari perilaku orang yang senggang tidak ada lagi membaca koran tetapi ‘membaca’ hp dan ini kian menguatkan persepsian dunia benar-benar dalam genggaman dan perilaku ‘klik’. Fakta perubahan keperilakuan harus menjadi perhatian karena menuntut adanya inovasi baru di semua bidang.

Apa yang dialami semua usaha bisnis adalah konsekuensi dari ketatnya persaingan yaitu tidak saja dalam bentuk generic competition tetapi juga product form competition. Oleh karena itu, tuntutan inovasi adalah mutlak dan saat ini sudah sangat terlambat bagi dunia usaha yang tidak responsif dan tidak kreatif untuk berbenah karena pesaingnya telah melakukan proses perubahan secara drastis. Kesan yang muncul dari hal ini adalah sikap reaktif dalam memandang tuntutan perubahan teknologi dan juga terlena dengan zona nyaman kejayaan bisnisnya.

Jangan berharap orang akan bernostalgia membeli perangko atau kartu lebaran untuk dikirimkan ke kerabat karena kini era ‘klik’ yang dalam sekejap saja semua urusan beres. Jika sudah demikian, wajar jika generasi milenial tidak pernah tahu stempel perangko dan hiasan warna-warni kartu lebaran.

Harus juga disadari bahwa internet dengan semua model digitalisasinya telah mereduksi lapangan kerja sehingga persepsian padat karya memang harus disingkirkan dan dapat dipastikan ini akan terus terjadi entah sampai kapan karena sejatinya ‘technology always finds its way’.  Jadi yang tidak mau berbenah akan punah, yang tidak mau berevolusi segera mati, karena semua tinggal ‘klik’ dan pencapaian SDM unggul Indonesia maju tidak bisa terlepas dari peran internet di era 4.0 yang penuh dengan tuntutan daya saing, efisiensi dan padat modal. ***

  • Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo