logo

Menjadi Wanita Multiperan yang Sukses Membentuk Watak Anak Itu Tidak Mudah

Menjadi Wanita Multiperan yang Sukses Membentuk Watak Anak Itu Tidak Mudah

23 September 2021 11:17 WIB
Penulis : Syamsudin Walad

SuaraKarya.id - JAKARTA: Wanita multiperan banyak ditemui pada masa sekarang. Mereka sukses berkarier bahkan membangun bisnis di usia yang relative muda. Memiliki segalanya, seolah dunia dalam genggamannya. Namun bagi yang sudah berumah tangga , wajib memberi ‘pupuk’ terbaik untuk merawat pernikahannya. 

Menurut Konsultan Pernikahan Indra Noveldi, hati-hatilah  dengan focus yang ingin dicapai oleh seorang perempuan pada hari  ini. 

Sebab apabila orientasinya hanya untuk membangun bisnis dan mengenyampingkan perasaan orang-orang di sekitarnya, maka kemungkinan di masa yang akan datang dia tidak akan menikmati sama sekali jerih payahnya di masa sekarang. 

“Duit banyak, tapi hatinya kosong. Duit banyak, tapi keluarganya berantakan. Bahkan tak perlu menunggu lama,  pernikahan pun bubar jalan. Kenapa bubar? Karena istri yang bekerja ini merasa bahwa kariernya tidak didukung oleh suami, tidak didukung oleh anak-anaknya. Padahal dia merasa melakukan semua ini demi keluarga. Demi membantu perekonomian keluarga,” ujar Indra Noveldy. 

Angka perceraian  mengalami peningkatan signifikan pada masa pandemic Covid-19. Bahkan pemberlakuan WFO dikambing hitamkan sebagai  salah satu penyebab utama terjadinya perceraian pada pasangan. Ironisnya perceraian terjadi  tidak saja dari kalangan muda namun juga pasangan yang sudah lama menikah.

Di masa pandemic ini interaksi antar pasangan berlangsung selama 24 jam setiap harinya. Padahal pada masa sebelum pandemic, interaksi antar pasangan terjadi  minimal 1 jam sehari. Selebihnya masing-masing sibuk dengan urusan domestik dan pekerjaan di kantor. 

“Sebelum pandemic jika sedang bete dengan pasangan, pelariannya ke kantor. Tapi begitu pandemic, yang mengharuskan bekerja dari rumah. Mau kabur ke kantor nggak bisa, mau ke kafe kena pembatasan karena PPKM. Sehingga situasi ini menjadi pemicu terjadi ketidak harmonisan dengan pasangan,” ungkap Indra Noveldy, pada acara Talkshow  daring bertajuk Membangun Keluarga Yang Bisa Menjawab Tantangan, sebuah rangkaian dari event Professional Women’s Week  2021 yang diinisiasi oleh Desainer kondang Nina Septiana.

 Indra membeberkan data bahwa tingkat perceraian tertinggi didominasi di kepulauan Jawa. Di urutan pertama  Jawa Tengah, diikuti Jawa Timur , kemudian Jawa Barat. 

Selain dipicu oleh faktor ekonomi, penyebab perceraian lebih banyak ditenggarai oleh  kondisi ketidak harmonisan pada pasangan. 
Dalam talkshow ini, Indra secara langsung mengajak audience secara aktif  menyampaikan uneg-unegnya. Ada yang mengeluhkan karakter suaminya yang tidak pernah menghargai apapun yang dilakukan istri. 

Ada juga yang mengaku menyesal karena terlambat mendengar sharing bersama Indra Noveldy. Audiensi satu ini mengatakan  nasi telah menjadi bubur dan rumah tangganya telah kandas lantaran mantan suami mau menang sendiri. 

“Dalam pemahaman saya, pernikahan itu seharusnya ‘saling’ . Tapi yang dilakukan mantan suami saya lebih banyak menuntut saya,” curhat salah   seorang audience wanita.

Indra mengatakan banyak terjadi kesalah pahaman dalam memaknai pernikahan. Ada yang mengatakan titik rawan sebuah pernikahan adalah di 5 tahun pernikahan. 
Memakai istilah jaman sekarang, pernyataan tersebut tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya alias hoax. 

Justru menurut Indra, penyesuaian dalam pernikahan terjadi sepanjang usia pernikahan itu sendiri. 

Sebagai konsultan pernikahan, Indra kerap dicurhati kliennya yang mengaku  semakin bertambah usia, tak mengenal pasangannya. 

“Seorang  klien yang usia pernikahannya 27 tahun datang ke saya, dengan mata nanar. 
‘Mas Indra saya udah sukses. Tapi saya menghabiskan masa pension dengan siapa ya? Padahal dia masih ada istri, tapi dia merasa tidak mengenal istrinya,” ujar Indra. 

Indra menyebut pandemic merupakan miniature dari masa pensiun seseorang.
Namun sayangnya masa pension tidak dipersiapkan secara baik oleh kebanyakan orang. Akibatnya  masa pension bukannya menjadi sebuah masa untuk menikmati hidup, sebaliknya sibuk melakukan berbagai macam pengobatan untuk sekedar bertahan hidup.  

“Karena tidak mempersiapkan sebelum pension, akhirnya mereka tidak dapat mengantisipasi intensitas berhubungan 24 jam bersama pasangan. Karena ketemu setiap saat, kebayang gak, pasangan kita suka main hape, sumbu  pendek, sedikit-sedikit marah,  tukang makan, tukang ngatur, bahkan omongannya tajam. 

Kesimpulannya kita ini nggak mengenal siapa suami kita, siapa istri kita. Jadi sekian lama hidup dalam pernikahan, tapi tidak saling mengenal karakter,” lanjut Indra. 

Satu hal yang belakangan terjadi, banyak wanita sukses di pekerjaan atau  membangun bisnis. Tapi rumah tangganya rapuh. 

Indra mengingatkan agar para wanita  multi peran selalu menempatkan dirinya sebaik mungkin, sebagai istri, ibu dan anak bagi orang tuanya. 

“Jangan sampai kita hanya sibuk membangun usaha. Tapi lupa menguatkan keluarga di rumah. 

Bahkan sampai lupa pada pasangan , lupa masih punya suami yang perlu diperhatikan. Sehingga tidak jarang banyak suami yang cemburu pada anak-anaknya. Karena sebagai istri hanya sibuk memperhatikan anak-anak. Dalam hal ini suami mungkin  gangsi mengakui bahwa dia butuh diperhatikan istrinya,” ujar Indra, lagi. 

Merujuk pada #akuberdaya yang dikampanyekan  PWW 2021, dikatakan Indra  hendaknya para wanita sebelum memutuskan berkarier di luar rumah atau menjalankan bisnis, tetap menjalankan peran utamanya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya. 

“Sudahkah pasangan anda merasa dicintai oleh anda? Karena sekarang  ini gak penting lagi klaim kita cinta pada pasangan. Tapi yang paling penting tersirat  dari perilaku. Pasangan kita tahu nggak kalau kita mencintai dia?,” ujar Indra. 

Sementara itu pada talkshow sesi kedua, Dr. Muhammad Faisal, Executive Director &Youth Researcher, Youth Laboratory Indonesia, PT Kreasi Pemuda Indonesia), mengatakan wanita memiliki peran penting dalam menyiapkan anak-anaknya sebagai generasi pejuang. 

Hal ini penting dilakukan lantaran dengan segala dinamika persaingan di dunia luar, anak-anak harus memiliki kecakapan  untuk menghadapi kehidupan yang penuh tantangan di masa sekarang dan akan datang.

Sejatinya persiapan itu tidaklah rumit, jauh dari yang selama ini telah dipersiapkan oleh kebanyakan para orang tua di masa sekarang. 

“Orang tua sekarang khususnya para ibu,  lebih menyiapkan anak-anaknya dengan skill ketimbang mempersiapkan watak yang kuat bagi anak-anaknya.   Anak-anak kita saat ini mudah galau, mudah gelisah. Jadi sangat rental mempunyai  masalah  dengan mental health. Kenapa mental health karena anak-anak ini hidup di tengah kehidupan yang  penuh persaingan. Setiap orang selalu membanding-bandingkan dirinya dengan diri orang lain,” ujarnya. 

Untuk itu Dr Muhammad mengingatkan para ibu  agar  tidak ikut-ikutan menjebak anak terjerumus ke dalam jurang.   Berusahalah untuk tidak mengapresiasi anak dengan pencapaian-pencapaian yang diperolehnya. 

“Jangan terpengaruh dengan komparasi, karena anak kita tidak perlu diperbandingkan dengan orang lain. Tidak salah juga kalau orang tua memfasilitasi anaknya dengan berbagai les ini itu. Tapi jangan  melupakan mengasah  dengan watak yang baik. Kalau ini  kan nggak ada tempat lesnya? Adanya didalam keluarganya sendiri, bagaimana keluarga membentuk watak si anak,” ujar Dr. Muhammad Faisal. 

Apabila watak yang baik sudah terbentuk, dengan sendirinya ilmu pengetahuan  sebagai penunjang peningkatan skill tinggal mengikuti saja. Setelah itu jangan lupa mengajarkan anak-anak kita menjadi pribadi yang pandai bersyukur.***

Editor : Markon Piliang