logo

Menkes: Indonesia Cermati Sekaligus Antisipasi Masuknya Tiga Varian Baru Corona

Menkes: Indonesia Cermati Sekaligus Antisipasi Masuknya Tiga Varian Baru Corona

Foto: YouTube
14 September 2021 14:22 WIB
Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan Indonesia mengawasi secara ketat perkembangan varian baru virus Corona dari seluruh dunia. Termasuk, tiga varian baru virus Corona yang dalam pengamatan pemerintah.

Ketiga varian tersebut adalah varian Lambda (C.37) yang sudah tersebar di 42 negara, varian Mu (B.1.621) tersebar di 49 negara, dan varian C.1.2 yang sudah menyebar ke 9 negara. Ketiga varian ini memang sedang dalam penelitian, bagaimana perilakunya, laju penularannya, dan apakah mereka bisa menghindar dari antibodi yang terbentuk secara natural maupun vaksinasi.

"Dan, sampai sekarang memang belum ada hasil riset yang pasti,” ujar Menkes Budi dalam keterangan pers secara virtual. mengenai perkembangan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Terkini, Senin (13/09/2021) malam, disiarkan di YouTube Sekretariat Presiden.

Menkes mengatakan bahwa ketiga varian yang diamati tersebut belum terdeteksi di Tanah Air. Untuk mendeteksi keberadaan varian baru SARS-CoV-2, pemerintah juga terus meningkatkan upaya pengetesan whole genome sequensing (WGS).

“Kita juga memperkuat jaringan lab Whole Genome Sequencing (WGS) agar kita bisa dengan cepat melakukan identifikasi dari varian baru ini,” ujar Budi. 

Menurut Menkes, saat ini sudah terdapat 21 jaringan laboratorium di Indonesia yang dapat melakukan pengetesan dengan memadai. Melalui jaringan lab tersebut, setiap bulannya telah dilakukan 1.866 genome sequencing, sehingga total yang sudah dilakukan sejak Januari hingga Agustus mencapai 6.161 genome sequencing.

 “Tahun lalu, satu tahun kita hanya lakukan 340 genome sequencing. Sekarang, sampai bulan Agustus sudah 6.161 genome sequencing,” ungkapnya. 

Perketat Pintu Masuk

Sementara itu, untuk mencegah masuknya varian baru Corona, pemerintah melakukan pengetatan di seluruh pintu masuk negara guna mencegah masuknya varian baru SARS-CoV-2. 

“Pemerintah juga memutuskan untuk memperkuat seluruh pintu masuk negara dengan melengkapi dan memperketat proses karantina di sana, baik itu masuknya itu melalui udara, laut, maupun darat,” ujarnya. 

Senada dengan Menkes Budi, Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Presiden minta agar pos-pos perbatasan terus dijaga untuk mencegah varian baru masuk Tanah Air.

Di lain pihak, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa pemerintah melakukan pengetatan persyaratan perjalanan internasional dari luar negeri. Pelaku perjalanan antara lain harus sudah divaksinasi penuh, melakukan tes PCR sebanyak tiga kali, serta melakukan karantina selama 8 hari. Selain itu juga perlunya dilakukan pembatasan pintu masuk untuk kemudahan pengawasan. 

“Masuk dari udara hanya melalui (Bandara Soekano Hatta) Cengkareng dan melalui Manado. Sedang Bali, kita pertimbangkan untuk bisa jalan, kita akan lihat 1-2 minggu ke depan,” ujar Luhut. 

Ancaman Varian Mu

Setelah varian Delta yang dikenal cepat menular, saat ini dunia dibuat cemas dengan munculnya sejumlah varian baru lainnya, virus Corona.

Dari tiga varian baru Covid yang disebutkan Menkes Budi, salah satunya, varian Mu disebut-sebut paling cepat menular dan sangat ditakuti.

Dilansir CNBC Indonesia, dengan mengutip dari AP, Minggu (12/09/2021), varian Mu, pertama kali diidentifikasi di Kolombia bulan Januari. Lalu mewabah di Amerika Selatan, Eropa, dan Amerika Serikat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjadikan varian ini perhatian karena dikhawatirkan varian ini bisa membuat vaksin dan perawatan menjadi tidak efektif. Untuk membuktikan kekhawatiran ini masih diperlukan banyak bukti.

Sementara itu para ilmuwan memantau varian baru Covid-19 yang muncul berdasarkan perubahan secara genetik yang mencurigakan. Kemudian mencari bukti untuk menentukan apakah versi baru lebih menular atau menyebabkan penyakit yang lebih parah.

Virus terus berevolusi dan banyak varian baru yang menghilang. Sejauh ini nampaknya tidak menyebar dengan cepat. Varian ini menyumbang kurang dari 1% kasus Covid-19 secara global.

Kolombia, negara pertama yang mengidentifikasi varian ini setidaknya virus Covid yang menyerang 39% nya dari varian Mu. Pejabat telah melacak varian Mu di Eropa, dan menemukan di sekitar selusin negara.

Kementerian Kesehatan Prancis baru-baru ini mengatakan varian Mu nampaknya tidak meningkat di seluruh Eropa.

Sebuah laporan dari badan kesehatan masyarakat Inggris bulan lalu menyarankan varian Mu mungkin sama resistensinya terhadap vaksin seperti varian Beta yang mengkhawatirkan yang pertama kali terlihat di Afrika Selatan.

Akan tetapi untuk membuktikan hal tersebut juga masih diperlukan banyak bukti lagi. Salah satu pejabat WHO menyebutkan varian Mu ini meningkat di beberapa negara di Amerika Selatan, namun penyebarannya masih jauh lebih mudah varian Delta.

"Varian Mu menarik bagi kami karena kombinasi mutasi yang dimilikinya. Tapi sepertinya tidak beredar," kata Maria Van Kerkhove dari WHO.

Sementara pakar penyakit menular AS, MB Dr Anthony Fauci menyebutkan, varian Mu ini menjadi perhatian serius AS, namun tidak dianggap sebagai ancaman secara langsung. ***

Editor : Pudja Rukmana