logo

Jokowi Dan Nadiem Hadiri Pertemuan MRPTN Di UNS

Jokowi Dan Nadiem Hadiri Pertemuan MRPTN Di UNS

Forum Pertemuan MRPTNI yang dilaksanakan di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, dihadiri Presiden Joko Widodo
13 September 2021 23:59 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - SOLO: Pertemuan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) yang digelar di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Senin (13/9/2021) dihadiri Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim .

Acara tersebut berlangsung secara luring dan daring. Seusai dibuka oleh Presiden Jokowi, Nadiem Makarim kemudian memanfaatkan pertemuan MRPTNI untuk berdiskusi dengan rektor dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se-Indonesia yang mengikuti jalannya pertemuan secara luring dan daring.

Selama diskusi, Nadiem turut didampingi oleh Ketua MRPTNI yang juga Rektor UNS Prof. Jamal Wiwoho, Plt. Dirjen Diktiristek Prof. Nizam, dan Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka. Topik pertama yang disinggung Nadiem Makarim adalah Perkuliahan Tatap Muka (PTM). Ia mengatakan, daerah yang PPKM-nya sudah di level 1, 2, atau 3 dapat menggelar PTM namun dengan syarat satu ruang perkuliahan hanya boleh diisi 25 mahasiswa saja.

Selain itu, ia juga mengingatkan jika mahasiswa tidak boleh berkumpul atau berkerumun usai mengikuti PTM. Tujuannya, agar tidak timbul klaster penyebaran Covid-19 di kampus. Nadiem Makarim meminta setiap PTN mengawasi para mahasiswanya.

“Level 1, 2, dan 3 PPKM sudah bisa mulai tatap muka terbatas dengan 25 murid per kelas. Tapi, tidak ada acara kumpul-kumpul di luar pembelajaran dan itu memang konsekuensinya. Ini hampir sama dengan SKB 4 menteri, lebih spesifik ke perguruan tinggi,” jelas Nadiem Makarim.

Di hadapan rektor PTN se-Indonesia, Nadiem mengutarakan jika Kemdikbudristek memberikan dukungan penuh kepada setiap perguruan tinggi yang PPKM di daerahnya sudah di level 1, 2, atau 3 untuk segera memulai PTM. Sebabnya, Kemendikbudristek tidak ingin interaksi antara dosen dengan mahasiswa hilang.

“Semua anak bisa nge-zoom dan dapat kuota dan bantuan UKT. Tapi, roh interaksi dari perguruan tinggi hilang selama PJJ. Dan, saya harap itu bisa kita kembalikan dengan cepat dengan Prokes yang ketat sehingga roh itu tidak hilang. Itu yang saya takutkan,” ungkapnya.

Selain membahas rencana PTM, Nadiem Makarim juga meminta pendapat dari rektor PTN mengenai program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) yang sudah ia luncurkan sejak bulan Januari tahun lalu. Ia ingin mendengarkan kritik dan masukan yang dialami dosen dan pihak Program Studi (Prodi) dari para rektor PTN se-Indonesia tentang permasalahan dan kendala dalam MBKM.

“Saya ingin mendapatkan pandangan jujur soal MBKM, susahnya apa dan bagaimana mengajarkan ke dalam per semester. Ada yang bingung, jurusannya ini kok MBKM-nya beda. Pasti Bapak/ Ibu sudah paham karena sering berbicara dengan Kaprodi,” ucap Nadiem Makarim.

Sementara itu, Ketua MRPTN, Prof Jamal Wiwoho mengatakan rektor anggota MRPTNI diawal semester ini sepakat melakukan uji coba pelaksanaan PTM secara bertahap dan bersyarat. Meskipun ada beberapa perguruan tinggi yang belum melakukan uji coba perkuliahan tatap muka, karena alasan situasi dan kondisi daerah setempat yang masih berstatus rawan terhadap penularan Covid-19 atau berada di level 4.

"Laporan berikutnya terkait dengan pelaksanaan vaksinasi di Perguruan Tinggi. Untuk mendukung kesuksesan program Vaksinasi Nasional, segenap perguruan tinggi dengan dukungan yang luar biasa dari Pemerintah Daerah setempat, Institusi TNI/Polri, Ikatan Alumni dan Fakultas Kedokterannya, telah melakukan vaksinasi besar-besaran bagi civitas akademikanya," paparnya.

Namun, mengingat banyaknya jumlah civitas akademika perguruan tinggi negeri yang harus divaksin, maka belum seluruhnya memperoleh kesempatan vaksin.

"Semoga Bapak Presiden berkenan mengusahakan percepatan vaksinasi di pergurun tinggi," kata Jamal.

Jamal juga mengatakan terkait peran perguruan tinggi dalam upaya pencegahan dan pengendalian Covid-19, perguruan tinggi memiliki totalitas dalam menghadapi perubahan di era pandemi. ***

Editor : Pudja Rukmana