logo

JPU KPK Beberkan Tindak Penyuapan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin

JPU KPK Beberkan Tindak Penyuapan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin

Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin
13 September 2021 22:06 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Setelah merasakan dampak negatif dari perbuatannya, bekas penyidik KPK AKP Stepanus Robin Pattuju menyatakan penyesalannya yang sangat mendalam.

"Saya mohon maaf atas apa yang saya lakukan kepada KPK dan juga kepada institusi saya yaitu Kepolisian RI," kata AKP Stepanus Robin Pattuju usai mendengarkan surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (13/9/2021).

Dalam sidang majelis hakim pimpinan Djuyamto SH MH, JPU KPK Lie Putra Setiawan dalam surat dakwaannya menyebutkan  AKP Stepanus Robin Pattuju telah menerima suap bersama dengan advokat Maskur Husain dari sejumlah pihak yang totalnya sekitar Rp 11,5 miliar. "Saya menyesal dan menyadari saya sudah khilaf dan menipu membohongi banyak pihak dalam perkara yang saya lakukan ini. Saudara M Syahrial saya telah menipu yang bersangkutan dengan menerima uang Rp 1,695 miliar," kata terdakwa Stepanus Robin.

Namun terdakwa AKP Stepanus Robin tidak mengakui adanya penerimaan suap dari Azis Syamsuddin, Wakil Ketua DPR. Hanya soal suap dari sejumlah lainnya diakui Stepanus Robin. "Terkait saudara Azis Syamsuddin dan Aliza Gunado saya tidak terima uang dari yang bersangkutan, kemudian (menerima) dari Ajay sebesar Rp 507 juta, saudara Usman Rp 525 juta, dan Rita Widyasari, Bupati Kutai Kartanegara,” ungkapnya.

Dalam surat dakwaan Stepanus  Robin disebut menerima sejumlah uang dari berbagai pihak antara lain; M Syahrial sejumlah Rp 1.695.000.000; Azis Syamsuddin dan Aliza Gunado sejumlah Rp 3.099.887.000 dan 36.000 dolar Amerika Serikat; Ajay Muhammad Priatna sejumlah Rp 507.390.000; Usman Effendi sejumlah Rp 525.000.000; dan Rita Widyasari sejumlah Rp 5.197.800.000.

Terdakwa Stepanus Robin tidak mengajukan eksepsi atau nota keberatan. Salah satu pengacaranya mengatakan pihaknya mengusulkan untuk eksepsi atas dakwaan jaksa, namun terdakwa  memilih untuk menerima dakwaan itu. "Kami usulkan eksepsi tapi karena beliau menghormati mantan almamaternya Yang Mulia, jadi keputusan beliau atau tidak mengajukan eksepsi kami tempuh," kata salah satu pengacara Stepanus Robin.

Terdakwa Stepanus Robin meminta izin untuk berobat di RSPAD. Dia juga mengajukan pindah dari Rutan KPK ke Rutan Cipinang. “Kami mohon izin berobat di RSPAD, kami juga mohon izin dikawal tim KPK. Kami ajukan permohonan pindah Rutan karena di KPK tidak ada kunjungan offline sehingga kami kesulitan konsultasi, karenanya kami minta pindah ke Rutan Cipinang," kata salah seorang penasihat hukum terdakwa.

Ketua Majelis Hakim Djuyamto SH MH yang juga Humas Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara mengatakan akan bermusyawarah mengenai permohonan terdakwa.

Dalam surat dakwaan JPU KPK disebutkan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin dan politikus Partai Golkar Aliza Gunado memberikan duit Rp 3 miliar dan 36 ribu dolar AS kepada Stepanus Robin Pattuju agar dibantu mengurus perkara Dana Alokasi Khusus Lampung Tengah yang ditengarai menyeret nama Azis Syamsuddin dan Aliza Gunado. “Untuk mengurus perkara yang melibatkan Azis Syamsuddin dan Aliza Gunado di KPK, terdakwa dan Maskur Husain telah menerima sekitar Rp 3.099.887 dan 36 ribu dolar Amerika Serikat,” kata JPU KPK Lie Putra Setiawan saat bacakan dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (13/9/2021).

Jaksa Lie Putra Setiawan mengatakan setelah mendapatkan permintaan dari Azis Syamsuddin, Stepanus Robin berdiskusi dengan Maskur Husain pada Agustus 2020. Akhirnya mereka bersedia mengurus perkara yang melibatkan Azis dan Aliza, yakni penyelidikan korupsi di Lampung Tengah. Mereka mematok tarif Rp 2 miliar untuk masing-masing orang. Azis setuju dan menyerahkan uang muka Rp 300 juta.

Pada Agustus 2020, Azis Syamsuddin kembali menyerahkan uang 100 ribu dolar AS ke Stepanus Robin di rumah dinasnya di Jalan Denpasar Raya, Jakarta Selatan. Selanjutnya pada akhir Agustus 2020 hingga Maret 2021, terdakwa Stepanus Robin kembali menerima sejumlah uang dari Azis dan Aliza dengan jumlah seluruhnya 171.900 dolar Singapura.

KPK menaksir total uang yang diperoleh Robin dari Azis dan Aliza sebanyak Rp 3,099 miliar dan 36 ribu dolar AS. Stepanus Robin mendapatkan Rp 799 juta, sedangkan Maskur memperoleh Rp 2,3 miliar dan 36 ribu dolar AS.

Terdakwa Stepanus Robin Pattuju dan Maskur juga menerima uang dari 4 orang lainnya dengan tujuan serupa, yaitu mengurus perkara di KPK. JPU KPK menyebutkan total yang diterima Stepanus Robin dan Maskur sekitar Rp 11,5 miliar.

Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin belum dapat dimintai tanggapan atas dugaan sangkaan tindakan penyuapan yang dilakukannya. Namun yang pasti Azis Syamsuddin tentu saja bakal sebagai saksi dalam kasus Stepanus Robin Pattuju dan Maskur Husaini. Dalam kesempatan itu akan terungkap bagaimana fakta atau kejadian sesungguhnya.***

 

Editor : Dwi Putro Agus Asianto