logo

Hubungan Kemitraan RI-Australia Makin Erat

Hubungan Kemitraan RI-Australia Makin Erat

Foto: Dok Kemhan.
11 September 2021 21:40 WIB
Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Hubungan Persahabatan Republik Indonesia (RI) dengan negara tetangga Australia semakin erat. Hal ini ditandai dengan pertemuan tahunan pejabat tingkat menteri kedua negara yang tetap berjalan meski di tengah pandemi.

Menteri Pertahanan (Menhan) RI Prabowo Subianto dan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi melaksanakan pertemuan tahunan 2+2 dengan Menteri Pertahanan Australia HE Peter Dutton MP dan Menteri Luar Negeri Australia HE Marise Payne di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Jakarta, Kamis (09/09/2021).

Dalam konferensi pers, Menhan RI menggarisbawahi eratnya hubungan kerjasama pertahanan antara Indonesia dan Australia ini  telah terjalin lama. 

Sebelum pertemuan 2+2 di Kemlu, Menhan Prabowo dan Menhan Australia Peter Dutton bertemu di Kemhan, Jakarta. Kedua pemimpin pertahanan ini  menandatangani pembaruan Defence Cooperation Arrangement (DCA), dokumen penting sebagai payung kerjasama pertahanan komprehensif kedua negara di masa mendatang.

“Kami juga telah menyepakati untuk bekerja keras meningkatkan DCA ini menjadi kesepakatan yang lebih kuat bagi kerjasama pertahanan kedua negara dalam kerangka kemitraan strategis”, kata Menhan Prabowo, dikutip dari laman resmi Kemenhan.

Dalam kesempatan itu, Menhan Prabowo berterima kasih kepada Menhan Australia Peter Dutton dan ADF atas bantuan yang diberikan Departemen Pertahanan Australia, berupa Alat Pelindung Diri (APD) untuk mendukung program mitigasi Covid-19 di lingkungan Kemhan dan TNI pada Agustus 2020 dan 8 April 2021. Terima kasih  juga disampaikan Indonesia atas respon cepat angkatan bersenjata Australia dalam membantu pencarian KRI Nanggala-402.

Dibahas pula dalam pertemuan itu mengenai dukungan Australia dalam pasukan penjagaan perdamaian. Australia telah mendonasikan sebanyak 15 Armoured Personnel Carriers serta mendiskusikan kemungkinan pengadaannya di masa mendatang. 

Kemudian, pembahasan mengenai kemungkinan pihak Australia membuka area pelatihannya bagi unit militer Indonesia, untuk berpartisipasi saat melaksanakan latihan bersama, serta membuka kesempatan bagi Taruna TNI untuk mengikuti pendidikan di Akademi Angkatan Bersenjata Australia dan The Royal Military College, Duntroon, Australia, yang akan menjadi pertama kalinya dalam sejarah hubungan kerjasama pertahanan antara Indonesia dan Australia.

Selanjutnya, pembahasan sejumlah materi lainnya dalam pertemuan 2+2 di antaranya mencakup kerjasama pemulihan bersama dalam hal pandemi Covid-19, pemulihan ekonomi, bidang pertahanan dan keamanan konter terorisme, konter disinformasi dan kerjasama siber, serta kemitraan di kawasan (dinamika di Kawasan Indo-Pasifik dan keamanan maritim, maupun isu regional Myanmar dan Afghanistan).

Pada Pertemuan 2+2 ini juga menghasilkan 3 MoU yang ditandatangani antara lain, MoU on countering Terrorism n Violence Extrimism, MoU in Cyber Cooperation and Emerging Cyber Technology dan Arrangement on Defence Cooperation.

Dalam hal kemitraan di kawasan, Indonesia memandang kerjasama penguatan arsitektur kawasan adalah untuk memastikan meningkatnya stabilitas kawasan Indo-Pasifik penting agar mampu mendukung kelancaran pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi, serta mampu menjadikan kawasan sebagai ekosistem yang damai, stabil, dan sejahtera.

"Konsep kerja sama Indo-Pasifik yang dilandasi politik luar negeri bebas aktif sejalan dengan visi mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia yang juga menjadi arah pembangunan pertahanan negara," bunyi pernyataan Kemenhan.

Dialog Konstruktif

Sementara itu dari Kemenlu dilaporkan, Menlu dan Menhan RI-Australia telah melakukan dialog secara konstruktif dan terbuka dalam Pertemuan 2+2, Kamis (09/09/202).

Rangkaian acara dimulai dengan Defense Ministers' Meeting antara Menhan RI Prabowo Subianto dan Menhan Australia YM Peter Dutton. Dalam waktu yang sama, Menlu RI Retno L.P. Marsudi dan Menlu Australia YM Marise Payne juga melakukan pertemuan empat mata (tête-á-tête).

Dalam menanggapi situasi pandemi Covid-19, keempat menteri menekankan pentingnya kolaborasi dalam menjamin akses vaksin Covid-19 yang setara dan adil. "Kerja sama untuk pemulihan ekonomi pasca Covid-19 juga menjadi prioritas bagi Indonesia dan Australia, salah satunya melalui implementasi dari IA-CEPA," bunyi pernyataan Kemenlu.

Dalam pertemuan tersebut, Menhan Prabowo menyampaikan perkembangan kerjasama bilateral di bidang pertahanan dan keamanan, termasuk co-deployment pasukan penjaga perdamaian yang tertunda karena Covid-19. 

"Penandatanganan secara virtual terhadap dokumen kesepakatan di bidang kontra-terorisme dan siber secara terpisah pada 7 dan 8 September lalu menunjukkan eratnya relasi kedua negara, meski di masa pandemi," ungkap Kemenlu.

Selanjutnya, keempat menteri membahas dinamika di kawasan Indo-Pasifik, termasuk mengenai situasi di Myanmar dan Afghanistan. Keamanan dan keselamatan masyarakat Myanmar dan Afghanistan menjadi concern utama bagi Indonesia dan Australia.  

?Kedua negara juga menunjukkan komitmen konkret untuk berkolaborasi di Pasifik melalui penandatanganan Memorandum Saling Pengertian mengenai kerja sama trilateral Indonesia dan Australia dengan negara-negara Pasifik oleh Menlu RI dan Menlu Australia. ***

Sumber: Biro Humas Setjen Kemhan dan Kemenlu. 

Editor : Pudja Rukmana