logo

Dilema  Pemberitaan Di Daerah Konflik

Yacob Nauly

Dilema Pemberitaan Di Daerah Konflik

09 September 2021 21:15 WIB

SuaraKarya.id - Oleh Yacob Nauly

Pada dasarnya, kemerdekaan Pers di Indonesia telah sampai pada titik klimaks. Bahkan, kemerdekaan  Pers di negeri ini  (Indonesia), kini  sudah  melampaui  kebebasan Pers beberapa Negara tetangga kita di Asia Tenggara.

Tentunya, kondisi ini   sangat diterima baik   oleh masyarakat Indonesia di akhir Orde Baru, terkait kebebasan  menyatakan  pendapat melalui  pemberitaan Pers. Maklum, dunia jurnalistik  ketika itu  baru keluar dari berbagai tekanan terhadap Pers di masa lalu era sebelum  tahun 1998.

Apalagi, dengan  disahkannya UU Nomor  40  tahun 1999 tentang Pers. Membuat masyarakat Indonesia kian berani menyatakan pendapat, melalui Pers  meski  terkadang  tak  diterima sejumlah pihak lain.

Kebebasan  Pers yang diagung-agungkan  itu kemudian menjadi dilema bagi  wartawan  yang melaporkan atau melakukan  pemberitaan  di daerah konflik. Padahal yang dilakukan wartawan  baik materi pemberitaan, maupun sumber  berita di lapangan  selalu berpedoman  pada Kode Etik Jurnalistik.

Di sinilah  letak  permasalahan  apakah  dari sosok  sumber berita. Maupun  orang  yang dijadikan  objek pemberitaan. Wartawan,  pada dasarnya dituntut  bekerja  profesional  dalam penyajian  materi pemberitaan.  

Maka,  wartawan menyajikan berita harus menggunakan metode 5 W 1 H. Uraiannya,  5W+1H adalah rumus,  berupa pertanyaan-pertanyaan yang  harus dijawab  yang akan digunakan untuk mencari inti atau  pokok berita.

Nah, wartawan profesional dalam  mengembangkan berita atau sebuah cerita, sangat mudah  karena  materinya dikemas   melalui  5W+1H.  Narasinya  adalah kata-kata tanya dalam bahasa Inggris.  Seperti, What, Who, When, Why, Where, dan How.  Ketika pertanyaan-pertanyaan  itu,  dijawab dengan sempurna maka sebuah kasus  terang-benderang diketahui publik.  

Bagi  korban atau masyarakat lain  mungkin  merasa  senang  dan bahagia  ketika sebuah kasus  terang-benderang dibuka oleh media  massa. Tidak seperti itu yang dirasakan oleh pelaku kejahatan dan keluarga maupun kerabat serta  kelompoknya. Di sinilah,  biasanya  wartawan menerima dampak sebuah pemberitaan dari dua pihak  yang bertikai.

Padahal apapun yang terjadi,  wartawan harus memulai investigasinya dengan  semisal.  What (apa yang terjadi). Jurnalis  atau  wartawan  harus menguraikan  tentang peristiwa yang terjadi sesuai fakta. Tanpa menyisahkan detil terkait  peristiwa apa yang terjadi.

Who (siapa yang terlibat dalam peristiwa itu). Apakah menggunakan inisial  maupun menulis nama jelas atau disamarkan  si pelaku, harus ditulis. Kenapa, karena  publik harus  tahu fungsi who itu seperti apa dalam sebuah pemberitaan  media massa. 

Begitu pentingnya  wartawan harus  menggunakan rumus  berita tersebut dalam menyajikan   laporannya. Apakah melalui media koran, media online rumus tersebut harus dipatuhi. Karena tentunya si wartawan merasa terbebani untuk mengungkapkan kebenaran sebuah kasus tanpa  mengemas laporannya  dalam bentuk  5 W 1 H itu.

Lantas, para pembaca juga ingin tahu, mengapa peristiwa itu bisa terjadi (Why). Misalnya, akibat  lupa mengunci pintu  mengakibatkan pencuri masuk ke dalam rumah dan mencuri. Serta, memperkosa  pemilik rumah. Mengapa hal itu bisa  terjadi, penting si wartawan  menulisnya dalam laporannya. Karena, kebutuhan pembaca untuk mengetahui detil  tentang suatu perstiwa.

Tidak ketinggalan  kapan peristiwa itu terjadi (When). Pembaca ingin tahu kapan peristiwa  itu terjadi. Ini dimaksudkan bahwa berita terkait sebuah persoalan  yang disukai  masyarakat  adalah  peristiwa yang paling aktual.

 Tak kalah pentingnya juga adalah  di mana  peristiwa itu terjadi  (Where). Ini terkait  bagaimana  menarik minat pembaca. Masyarakat akan senang bahkan mengutak-atik  internet  mencari pemberitaan terkait peristiwa di lingkungannya. Atau peristiwa  berhubungan dengan  hal-hal sensasi yang menimbulkan keinginahuan pembaca.  

Kini tiba pada  pertanyaan terakhir yaitu bagaimana peristiwa itu terjadi  (How). Pada  pertanyaan ini  wartawan  mulai mengkaji peristiwa itu. Terkait bagaimana peristiwa itu terjadi. Ini banyak  kajian berdasarkan  sumber yang dapat dipercaya. Baik  korban maupun pihak pelaku. Dan, akhirnya  pembaca pun  paham  bagaimana peristiwa itu terjadi. Hingga bagaimana solusi dari sebuah peristiwa tersebut.      

What : Apa yang terjadi? Who : Siapa yang terlibat dalam peristiwa itu?Why : Mengapa hal itu bisa  terjadi? When : Kapan peristiwa itu terjadi? Where : Di mana peristiwa itu terjadi? How : Bagaimana peristiwa itu terjadi?

Memang belakangan ini sejumlah ahli komunikasi berupaya agar pemberitaan tidak fulgar amat seperti harus  mengikuti rumus pemberitaan di atas. Karena, pemberitaan  dengan rumus di  atas banyak  salah ditafsirkan baik oleh  korban maupun  pelaku kejahatan. Utamanya  terkait dampak negative dan positifnya .

Peace Journalism

Belakangan ini  muncul konsep Jurnalisme Damai (Peace Journalism). Konsep ini lebih mengutamakan perdamaian atau penyelesaian konflik

Konsep ini diperkenalkan oleh Johan Galtung, seorang profesor Studi Perdamaian yang juga Direktur Transcend Peace and Development Network pada 1970-an. Jurnalisme ini adalah praktik jurnalistik yang bersandar pada pertanyaan kritis yang melihat pada entitas kemanusiaan suatu isu.

 Jurnalisme genre ini lebih fokus mencari perdamaian, resolusi, rekonstruksi dan rekonsiliasi dalam memandang konflik. Konflik Rohingya bisa saja meluas. Hal itu dapat didorong dengan isu-isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Bisa saja konflik di Myanmar tersebut dapat “menular” jika dibawa ke ranah SARA-dalam hal ini agama.

 Pers dianggap bertanggungjawab  ketika dalam sebuah pemberitaan  terlalu memojokkan satu pihak. Sedangkan pihak lain dipuji tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Ini, membuat para ahli  berupaya keras agar  menjaga lingkungan masyarakat dunia tidak  mengedepankan emosi  untuk  menyelesaikan suatu masalah.

 Maka, dalam menyikapi isu konflik, diperlukan pembingkaian khusus oleh media massa. Genre jurnalisme damai diharapkan dapat membawa pesan damai. Bukan justru “mengompori” masyarakat dengan dalih persatuan/persaudaraan  atau kelompok tertentu.

 Dalam model analisis ini digunakan tiga instrumen penelitian yakni kategorisasi, rubrikasi, dan ideologi. Meski demikian, bukan berarti jika wartawan tak menggunakan  metode ini  lantas dicap sebagai  jurnalis tak cinta damai.

Apalagi, itu dikaitkan dengan  kasus-kasus di daerah konflik.  Agar, diberitakan  hanyalah satu pihak karena dianggap laporan wartawan  sepihak  tersebut damai  bagi semua  kelompok. Sedangkan kelompok lain dianggap  musuh dan harus  difitnah atau  dizolimi dengan pemberitaan  tanpa fakta.

Metode itu bukan zamannya lagi. Kini, pemberitaan harus berdasarkan  fakta di lapangan  sesuai 5 W 1 H. Dengan, tentunya harus berimbang. Agar, masyarakat menerima informasi yang benar tanpa rekayasa. Karena wartawan Indonesia bekerja di atas dasar Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

Kesimpulannya, wartawan  jangan diintervensi  oleh  para politisi. Karena “Dilema  Pemberitaan  Di Daerah Konflik” seperti Papua, sangat dipahami wartawan yang bertugas  di sana. ***

Sumber Kompas, suarakarya.id dan lainnya.

* Penulis - Wartawan Utama  UKW Dewan Pers, Wartawan suarakarya.id, Sekretaris  Penasehat PWI Sorong, dan Jurnalis Ubahlaku.