logo

Dai Harus Proaktif Terhadap Perubahan, Termasuk Dalam Konsep Berdakwah

 Dai Harus Proaktif Terhadap Perubahan, Termasuk Dalam Konsep Berdakwah

Menko PMK Muhadjir Effendy.(foto,ist)
05 September 2021 22:46 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA' Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) khususnya teknologi informasi (IT), para pendakwah atau kerap disebut dai memiliki berbagai macam tantangan. Salah satunya yaitu melawan konflik di dunia maya.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy, saat menjadi narasumber Peluncuran 1.000 Dai Agen Perdamaian Lembaga Dakwah Khusus (LDK) Muhammadiyah Jawa Timur secara virtual, dari Jakarta, Sabtu (4/9/2021) mengatakan, para dai memiliki peranan penting dalam mewujudkan perdamaian bangsa.

Namun untuk itu, imbuhnya, dai harus proaktif terhadap perubahan yang terjadi termasuk dalam konsep berdakwah. "Seiring perkembangan iptek terutama teknologi informasi, medan dakwah kita semakin kompleks dan terjal," kata Menko PMK.

Karenanya, lanjutnya, tentu saja banyak piranti atau bekal yang diperlukan. Salah satu yang harus dikuasai oleh mubaligh era sekarang adalah penguasaan dalam bidang IT.

Peluncuran 1.000 Dai Agen Perdamaian Muhammadiyah dilatarbelakangi oleh 10 sifat kepribadian Muhammadiyah, khususnya dalam poin satu yang berbunyi "Beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan". Para dai ini akan mendapat pembinaan untuk berdakwah dengan tema tema kekinian dengan misi perdamaian rahmatan lil alamiin.

Antusiasme para dai mengikuti acara ini melampaui target. Terdaftar 1.907 dai dari seluruh Indonesia serta wakil Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia, Thailand, Hongaria, dan Amerika Serikat. Acara ini juga dihadiri Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

Menko PMK mengungkapkan, medan dakwah sekarang ini tidak kalah rumit, yang harus dihadapi para dai, yakni medan virtual atau dunia maya. Sementara, yang namanya konflik saat ini lebih bersifat asimetris.

"Sekarang untuk berkonflik bukan lagi menghitung kekuatan-kekuatan yang sifatnya fisikal. Tapi, justru kekuatan-kekuatan yang berbasis pengetahuan, berbasis teknologi terutama teknologi IT. Dengan fenomena industri 4.0, itu mutlak harus dikuasai dai-dai Muhammadiyah," paparnya.

Dia mengutarakan, piranti IT yang harus dikuasai para dai, di antaranya tentang virtual reality, kemampuan memperagakan reality dan mengoperasikan internet, serta harus mampu memproduksi konten-konten di berbagai platform media sosial dan media online. Terlebih, kata Menko PMK, yang harus dipahami ialah banyaknya musuh yang harus diperangi.

Dalam mewujudkan perdamaian melalui dunia maya. Lawan yang paling berbahaya, misalnya ujaran kebencian, hasutan, hingga caci maki, serta pembunuhan karakter.

"Hal-hal inilah yang tentu saja harus dimiliki oleh semua dai, bukan hanya dai Muhammadiyah khususnya dai yang akan fokus pada dakwah perdamaian," tegas mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang tersebut.

Namun di samping itu, imbuhnya, para dai juga harus memiliki karakter seperti rendah hati, tidak meladeni orang-orang jahil yang dapat membunuh karakter terutama dengan fenomena media sosial yang sangat ganas.

Menko PMK menyitir Al-Quran surat al-Furqon ayat 63 yang artinya ‘’Hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang yang bodoh mengejek, mereka menjawab dengan salam. ***

Editor : Pudja Rukmana