logo

Dua Bulan Lumpuh, Pengelola Wisata Breksi Jogja Berharap Segera Dibuka

Dua Bulan Lumpuh, Pengelola Wisata Breksi Jogja Berharap Segera Dibuka

Panorama Breksi di senja hari. (Foto: SK.id/Pudyo Saptono)
02 September 2021 14:22 WIB
Penulis : Pudyo Saptono

SuaraKarya.id - YOGYAKARTA: Sektor pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), hingga kini masih tiarap. Ini karena dampak kebijakan PPKM Level yang terus diperpanjang. Padahal sebagai kota wisata, Yogyakarta sudah sangat dirindukan kaum wisatawan.

Salah satu kawasan wisata tergolong baru, namun banyak dikunjungi kaum pelancong, adalah Taman Tebing Breksi. Seperti diakui pengelolanya, Widiyanto Kholiq, sampai hari ini Tebing Breksi memang belum dibuka untuk wisatawan umum.

Meskipun demikian, pihaknya berharap hendaknya Pemerintah Daerah bisa segera mengeluarkan kebijakan pembukaan tempat-tempat wisata secara terbatas terlebih dulu.

"Sungguh kami berharap kawasan wisata segera dibuka. Mengingat sudah dua bulan ini kami lumpuh total. Hingga kini belum ada rencana kapan mau dibuka. Kecuali orang sekadar membuat foto session, shoting video. Itu pun mesti mengantongi izin dari Satgas Covid-19," katanya Kamis (2/9/2021).

Kalaupun untuk kawasan wisata belum boleh dibuka, pihaknya berharap pemerintah mengizinkan untuk sekadar membuka restoran yang berada di dalam Taman Tebing Breksi.

"Barangkali diizinkan itu akan sangat membantu kami sebagai pengelola. Namun jika belum bisa, kami tetap mengikuti aturan pemerintah saja," tukasnya.

Menurut Widiyanto, semisal diizinkan restoran buka saja, sejatinya juga belum bisa menutup biaya operasional.

"Kalau ada pemasukan akan kita manfaatkan untuk beli air. Sekarang ini lagi musim kemarau, kami kesulitan air. Banyak sekali tanaman yang mesti disirami, dan air harus membeli," tuturnya.

Hingga kini, pihaknya sama sekali belum mendapat arahan dari Pemkab Sleman, DIY, terkait rencana pembukaan kembali.

"Kemarin memang kami sudah diberi link verifikasi kesiapan untuk buka wisata. Akan tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya," pungkasnya. ***

Editor : Pudja Rukmana