logo

Digitalisasi Perbankan

Digitalisasi Perbankan

30 Agustus 2021 17:27 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Digitalisasi perbankan tidak bisa lagi dihindari dan tuntutan investasi untuk digitalisasi perbankan tidaklah kecil sehingga perbankan harus merogoh kocek cukup dalam untuk membangun infrastruktur digitalisasi perbankan tersebut.

Oleh karena itu, hadirnya BSI – Bank Syariah Indonesia diharapkan mampu mendukung operasional digitalisasi bank di masa depan. Argumennya karena per 1 Pebruari 2021 lalu hadir BSI sebagai model penggabungan 3 bank yaitu Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah dan BRI Syariah. Hal ini tentu akan berdampak positif terhadap kinerja perbankan nasional pada umumnya.

Modernitas layanan digital banking yang harus disiapkan oleh BSI menegaskan bahwa ada 2 tipe individu, pertama: tipe high touch. Cirinya masih mengandalkan transaksi tradisional - konvensional, berinteraksi secara langsung atau face-to-face contact, usia dewasa - tua, mayoritas di perdesaan, belum familiar dengan internet. Yang termasuk kategori ini yaitu kelompok Pre-Boomer (lahir sebelum 1965 dan usia lebih 75 tahun) dan kelompok Baby Boomer (lahir 1946 - 1964 dan usia 56-74 tahun).

Kedua: tipe high tech. Cirinya sudah familiar dengan transaksi modern - digital - online, remaja – muda, dominan di perkotaan, familiar dengan internet, berpendidikan dan termasuk cashless society. Yang termasuk kategori ini kelompok Generasi X (lahir 1965-1980 dan usia 40 - 55 tahun), kelompok Post Generasi Y (lahir di tahun 2013 keatas dan usia hingga 7 tahun), Generasi Z (lahir tahun 1997-2020 dan usia 8-23 tahun) dan kelompok Milenial (lahir 1981-1996 dan usia 24-39 tahun). Transaksi digital tidak bisa diremehkan karena menjadi kebutuhan saat ini dan masa depan sehingga sektor perbankan harus proaktif menyikapinya demi peningkatan kepuasan layanan dan loyalitas nasabah sehingga fakta ini mencerminkan cashless society yang menuntut modernitas layanan digital banking.

Temuan riset Kraiwanit, et al. (2019) untuk kasus Thailand menegaskan bahwa umur, pendidikan, pendapatan dan penggunaan internet berpengaruh signifikan dengan akses ke cashless society. Pengetahuan tentang pembayaran elektronik berpengaruh terhadap adopsi bentuk layanan keuangan yang aman dan mudah digunakan. Jadi, implikasinya bisnis digital termasuk sektor keuangan dan perbankan yang dapat menguntungkan bagi cashless society (kelompok high tech) haruslah berpartisipasi dalam mempromosikan orang-orang seperti lansia, yang sering lambat merespon adopsi teknologi (kelompok high touch) tentang metode pembayaran elektronik untuk mengakses cashless society. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi perbankan pada umumnya dan BSI khususnya di era kekinian untuk mengabaikan kebutuhan terhadap tuntutan layanan digital banking dan yang siap melakukannya akan berdaya saing dan memenangkan persaingan global.

Mengacu kompleksitas tantangan digital banking ke depan bahwa kepemilikan saham BSI komposisinya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk 51,2%, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk 25%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk 17,4% dan sisanya milik DPLK BRI - Saham Syariah 2% sementara investor publik 4,4%. Hal lain pasca merger BSI memiliki 10 direksi di kepengurusannya. Terkait tema HUT ke-76 kemerdekaan ‘Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh’ sangatlah diharapkan BSI dapat bersaing dan merealisasikan visinya ‘Menjadi 10 Bank Syariah terbesar di dunia’. ***

  • Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo