logo

Menikmati Pameran Perjuangan Sultan Agung Melalui Goresan S Sudjojono, Secara Virtual

Menikmati Pameran Perjuangan Sultan Agung Melalui Goresan S Sudjojono, Secara Virtual

Repro lukisan Sultan Agung karya S Sudjojono dan sejumlah barang pribadi sang pelukis, dipamerkan secara virtual oleh Tumurun Private Museum Solo
29 Agustus 2021 19:08 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - SOLO: Rindu mengunjungi museum? Tenang, Tumurun Private Museum di Kota Solo, Jawa Tengah akan mengobati kerinduan itu melalui pameran seni rupa yang dilangsungkan secara virtual. Bekerjasama dengan S.Sudjojono Center, Tumurun Private Museum menampilkan karya besar dari pelukis S Sudjojono.

Penikmat seni akan diajak menikmati karya maestro lukis S Sudjojono tentang kebesaran Raja Mataram, Sultan Agung melalui "Mukti Negeriku! Perjuangan Sultan Agung Melalui Goresan S.Sudjojono" secara virtual. Tidak perlu khawatir ketinggalan, karena pameran yang dibuka Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, Sabtu (28/8/2021) sore secara online itu, akan berlangsung selama enam bulan sejak kemarin hingga 28 Februari 2022 mendatang.

Menariknya dalam pameran tersebut, ditampilkan 38 sketsa asli yang dibuat Sudjojono dalam mempersiapkan pembuatan lukisan "Pertempuran Antara Sultan Agung dan JP Coen” (1973). Ini pertama kalinya seluruh sketsa tersebut dipamerkan secara lengkap di Indonesia.

Lukisan “Pertempuran Antara Sultan Agung dan JP Coen” sendiri saat ini menjadi koleksi Museum Sejarah Jakarta. Sedangkan yang dipamerkan di Tumurun Private Museum adalah lukisan hasil repro tetapi dengan ukuran yang sama yakni 3 x 10 meter. Lukisan tersebut dipesan khusus oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu Ali Sadikin.

"Ini adalah kehormatan bagi Bapak saya karena mendapatkan proyek membuat lukisan Sultan Agung. Sebelum membuat lukisan beliau melakukan riset tidak hanya di Yogyakarta dan Solo tapi juga di Belanda. Hasil riset dituangkan dalam sketsa yang dilengkapi dengan catatan-catatan, untuk pembuatan lukisannya selesai dalam tujuh bulan," jelas putri dari S Sudjojono, Maya S Sudjojono.

Dalam pameran tersebut, pengunjung akan dibawa ke masa lalu mengenal sejarah dari sosok Raja Mataram, Sultan Agung yang dikenal berani melawan Belanda. Serta sosok pelukis S Sudjojono. Pameran tersebut berada di lantai dua Tumurun Private Museum.

Pengunjung bisa melihat perjalanan seorang Sultan Agung melalui lini masa, dilanjutkan perjalanan lini masa dari sosok S Sudjojono. Pameran dibagi dalam beberapa panel, untuk panel pertama menampilkan sosok S Sudjojono, seorang pelukis dan pemikir yang membangun seni rupa modern. Ditampilkan juga potret diri dari S Sudjojono yang memegang bunga mawar merah.

"Di sini memang ditampilkan S Sudjojono secara personal. Mulai potret diri, puisi serta barang-barang pribadi beliau seperti sepatu, cangklong dan lain-lain," ujar Kurator Museum, Santi Saptari.

Bagian berikutnya menampilkan sosok Sultan Agung penguasa Mataram. Seorang raja dengan daerah kekuasaan terbesar yang dikenal cerdas dan memiliki hubungan baik dengan penguasa di luar Jawa. Sultan Agung dikenal sebagai raja yang berani melawan penjajah dan dikenal dalam perjuangannya dalam penyerangan ke Batavia.

Selanjutnya, pengunjung diperlihatkan proses awal pembuatan lukisan tersebut. Mulai dari ide awal hingga riset yang dilakukan Sudjojono hingga ke Belanda. Sampai akhirnya pembuatan lukisan yang dimulai tahun 1973 dan selesai 1974 dengan memakan waktu tujuh bulan. Disana juga dtampilkan foto saat peresmian Museum Sejarah Jakarta dengan menampilkan lukisan Sultan Agung, yang dihadiri Ratu Elizabeth dan Pangeran Philip.

Di bagian tersebut juga dipamerkan surat-surat dokumen perjanjian proyek pembuatan lukisan tersebut. Selain itu juga diperlihatkan video prosea restorasi lukisan Sultan Agung.

Selanjutnya, pengunjung bisa melihat lukisan Sultan.Agung yang dalam lukisan tersebut dibagi dalam tiga bagian yakni sosok Sultan Agung dengan baju kebesaran seorang raja, pertempuran yang dipimpin Sultan Agung yang digambarkan dari arah tenggara Kota Tua sekarang. Serta gambar pertemuan JP Coen dengan utusan Sultan Agung yang akhirnya menimbulkan peperangan.

"Untuk melukis cara duduknya Sultan Agung, Sudjojono secara detail menggambarkan melalui sketsa termasuk ekspresi wajah dan detail baju kebesaeannya,. Beliau juga menghabiskan riset dan studi tentang gedung yang terbakar yang menjadi latar belakang pertempuran," kata Santi.

Masih menurut Santi, lukisan tersebut 70 persen berdasarkan riset dan 30 persen berdasar imajinasi seorang Sudjojono. Dalam melukis pertempuran, Sudjojono juga berusaha tidak memihak, dia lebih setuju menyelesaikan masalah tanpa kekerasan. Sehingga dalam lukisan itu sama sekali tidak ada darah. 38 sketsa yang dibuat Sudjojono berdasarkan hasil riset diperlihatkan dalam bagian berikutnya. Sketsa-sketsa itu menjadi bagian terpenting dari Sudjojono.

"Sudjojono memiliki kemampuan melakukan riset yang detail. Tidak ada karya lain yang risetmya sedetail lukisan Sultan Agung," katanya lagi.

Bagian terakhir pameran diakhiri dengan bagian interaktif mempelajari simbol-simbol yang ada dalam lukisan. Diantaranya motif kain yang dipakai Sultan Agung saat berada di keraton hingga gedung yang terbakar.

"Melalui pameran ini diharapkan generasi muda memahami dan memgerti pentingnya proses panjang untuk mendapatkan karya yang besar. Pameran ini mengedukasi generasi muda tentang dua tokoh besar yakni Sultan Agung dan S Sudjojono," pungkas pemilik Tumuran Private Museum, Iwan K Lukminto. ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto