logo

Menlu Retno berharap Hak-Hak Perempuan Afghanistan Dihormati 

Menlu Retno berharap Hak-Hak Perempuan Afghanistan Dihormati 

Foto: YouTube
22 Agustus 2021 21:20 WIB
Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi berharap kaum perempuan di Afghanistan dihormati hak-haknya. Indonesia juga ingin agar perdamaian dan stabilitas di Afghanistan dapat tercipta pasca penguasaan oleh pemerintahan de facto Taliban.

Demikian disampaikan Menlu Retno saat bersama Panglima TNI menyambut kedatangan 26 warga negara Indonesia (WNI) yang berhasil dievakuasi pemerintah dari Kabul, Afghanistan, Sabtu (21/08/2021) dinihari, di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

"Indonesia terus berkomitmen untuk membantu menciptakan perdamaian di Afghanistan, terutama melalui kerja sama pemberdayaan perempuan," ungkap Retno dalam konferensi persnya di akun YouTube MoFA Indonesia, Sabtu (21/8/2021).

Mewakili Indonesia, Retno berharap agar Afghanistan bisa bebas konflik melalui 'Afghan-Led' dan 'Afghan-Owned'. Hal itu, menurutnya, demi kebaikan masa depan rakyat Afghanistan.

Jangan Tergesa-gesa

Sementara itu Ketua Komisi I DPR RI, Meutya Hafid meminta Kemlu menyikapi dinamika di Afghanistan setelah dikuasai Taliban. Banyak hal harus dipertimbangkan secara matang sebelum RI memutuskan sikap politik di luar hal-hal kemanusiaan.

Menurut Meutya, keputusan politik terkait posisi di Afghanistan perlu waktu dan kematangan diplomasi. "Prinsipnya, Komisi 1 meminta Kemlu menimbang berbagai aspek terlebih dahulu," kata Meutya kepada wartawan, Sabtu (21/08/2021).

Senada dengan Meutya, anggota Komisi I DPR RI Fraksi Golkar, Dave Laksono meminta pemerintah tak tergesa-gesa untuk mengakui Taliban. Sebab pemerintahan Afghanistan sebelumnya masih ada.

"Sebaiknya menunggu dulu, jangan tergesa-gesa mengakui, dikarenakan pemerintah sebelumnya masih ada. Walaupun defacto sudah tidak berkuasa," kata Dave dalam kesempatan terpisah.

Secara khusus Dave juga merespons langkah Kemlu dan TNI AU mengevakuasi WNI dari Afghanistan karena masalah keamanan. Menurut Dave, tentara AS ditarik mundur sudah direncanakan sejak awal mengingat betapa rapuhnya keamanan dan pemerintah Afghanistan sebelumnya.

KBRi Beroperasi?

Tentang operasionalisasi KBRI) Kabul, Afghanistan, Menlu mengungkapkan bahwa semula pihaknya merencanakan untuk tetap melakukan misi KBRI Kabul dengan tim kecil atau tim esensial yang terbatas. 

Namun, di saat-saat terakhir proses evakuasi terjadi perkembangan baru dan diputuskan untuk sementara operasi KBRI Kabul dilakukan dari Islamabad, Pakistan. 

Sebelumnya diberitakan, Kepada Al Jazeera Mubasher TV, Minggu (15/8/2021), 

Juru bicara Taliban urusan politik Mohammad Naeem mengatakan perang telah usai. Pernyataan tersebut disampaikan Naeem beberapa saat setelah Taliban memasuki ibu kota Afghanistan, Kabul.

Setelah Taliban memasuki Kabul pada Minggu, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dilaporkan meninggalkan Afghanistan. Alasannya, dia ingin menghindari pertumpahan darah. Beberapa orang di media sosial mengecamnya sebagai pengecut.

"Jatuhnya Kabul ke tangan Taliban tak lepas dari hengkangnya pasukan asing yang dipimpin Amerika Serikat (AS).

Semula AS bakal menarik seluruh pasukannya dari Afghanistan dengan tempo 11 September 2021. “Negeri Paman Sam” mengatakan pasukannya bakal ditarik secara bertahap mulai Mei.

Sejak saat itu, 50 dari 370 distrik di Afghanistan telah jatuh di tangan Taliban sejak Mei, saat dilanjutkannya penarikan pasukan AS dari Afghanistan.

Rupanya, penarikan pasukan asing maju dari jadwal. Pada awal Juni ini, lebih dari 50 persen tentara AS yang ada di Afghanistan telah dipulangkan. ***

Editor : Pudja Rukmana