logo

Lagu

Lagu "Ibu Pertiwi", Bisa Jadi Gambaran Kecemasan Seorang Ismail Marzuki

20 Agustus 2021 15:18 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Syamsudin Walad

Masih hafal lirik lagu "Ibu Pertiwi"? Tentu sebagian besar kita hafal dengan lagu tersebut. Lagu ini biasanya dinyanyikan oleh anak-anak sekolah di Indonesia, dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah, atau dimainkan dalam orkestra saat perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Tak hanya itu, pada setiap bencana atau seperti masa-masa pandemi virus corona seperti saat ini, lagu nasional "Ibu Pertiwi" banyak juga dinyanyikan oleh masyarakat Indonesia.

Banyak yang mengartikan atau mencocok-cocokan lagu tersebut seakan menggambarkan kondisi Tanah Air yang sedang dilanda bencana atau musibah. Hal itu dapat dilihat dari lirik-liriknya. Terdapat kata-kata "bersusah hati", "ibu sedang lara" dan "merintih dan berdoa". Meskipun sebenarnya yang tahu adalah sang pencipta lagu, yakni Ismail Marzuki. Ya, hanya Ismail Marzuki sendirilah yang bisa menerjemahkan lagu "Ibu Peetiwi" berkisah tentang apa.

Terlepas dari apa yang terkandung dalam lagu "Ibu Pertiwi" berdasarkan gambaran sang pencipta, tak salah juga jika lagu tersebut dianggap cukup menggambarkan kondisi Indonesia saat ini. 

Mungkin Ismail Marzuki tidak pernah menyangka kalau ternyata lagu karyanya ini terbukti pas dengan yang terjadi di masa kini, setelah 76 tahun merdeka: "KINI IBU SEDANG LARA, MERINTIH DAN BERDOA". Ibu, dalam hal ini Indonesia, kini tengah bersedih dan terus berdoa. Sedih, semua karena ulah "anak-anaknya" yg tidak juga bisa mengurus negara dengan baik. Tidak juga bisa membuat rakyatnya hidup sejahtera dan menjadi negara maju.

"AIR MATANYA BERLINANG EMAS INTANNYA TERKENANG". Ya, semua kini tinggal kenangan., Gunung emas Freeport kini sudah menjadi lembah. Yang dulu gunung, kini menjadi lembah dan terus dikorek-korek. Hingga sampai kini, lembahnya semakin dalam, tak mampu mensejahterakan rakyatnya. Hanya orang luar yag puas menikmati itu semua.

Bukti besarnya kekayaan alam "Gunung Emas" di Papua, tambang emas di sana sampai sekarang belum juga habis. Sumber daya tersebut sudah puluhan tahun dikelola PT Freeport MCMoran. Mulai dari emas, tembaga, perak dan mineral yang ada di wilayah Pegunungan Tengah Papua.

Perusahaan pertambangan milik Amerika Serikat, Freeport McMoRan ini sudah lebih dari lima dekade menyedot emas, tembaga, perak, dan mineral lain dari perut bumi di pegunungan tengah Papua. Perusahaan ini awalnya milik asing selama puluhan tahun. Baru dua tahun belakangan ini sudah beralih ke PT Inalum. PT Freeport Indonesia kini memiliki 51,23% saham. Betapa kayanya mereka menguras tanah pertiwi.

Kebijakan Presiden Jokowi dalam kasus Freeport patut diapresiasi. Meski juga menimbulkan pro kontra lantaran pembelian sahamnya lewat pinjaman utang berbunga dari sejumlah perusahaan asing.

Tak hanya Freeport, masih banyak gunung emas lain yang di kelola asing, sebut saja yang ada di Dompu, NTB, Gunung Pongkor di Jawa Barat dan lain-lain.

Sementara itu hutan, gunung, sawah dan lautan, simpanan kekayaan. Yang menjadi simpanan kekayaan juga belum mampu membuat kita sejahtera. Hasil buminya malah terdesak oleh hasil-hasil dari importir oligarki ekonomi. Sama sekali tak ada proteksi buat para petani dan nelayan kita. Bahkan satu persatu, sejengkal demi sejengkal lahan pertanian berubah jadi pabrik-pabrik dengan investasi asing.

Bagaimana dengan hutan? Seperti diketahui hutan-hutan Indonesia terus terkikis dan kini tinggal 10 persen sisanya. Hutan-hutan digerus dan hasilnya hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Itupun mereka lebih banyak bekerjasama dengan asing sehingga asing-asing juga yang menikmati hasilnya.

Jika hutan di Jawa yang sudah dikelola dan diusahakan semenjak masa VOC Belanda habis oleh Belanda, sebenarnya sampai dengan awal dekade 1960an hutan alam di luar Jawa relatif tidak tersentuh. Hal ini berubah drastis saat Soeharto naik ke tampuk pimpinan nasional.

Presiden Soeharto melihat potensi luar biasa hutan alam luar Jawa untuk menjadi pelumas mesin pembangunan. Awalnya, perusahaan multinasional mendapatkan kesempatan mengeruk kekayaan hutan Indonesia yang berlimpah, terutama dengan persyaratan istimewa bagi investasi asing di UU Penanaman Modal Asing No. 1/ 1967. Perusahaan multinasional yang melakukan ekstraksi sumberdaya hutan di Indonesia di awal timber boom ini antara lain Weyerheuser, Georgia Pacific, dan Unilever. Mereka sangat menikmati hasil hutan Indonesia.

Saat ini bahkan Indonesia masih dinobatkan sebagai negara dengan pengurangan pohon hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia. Hal ini berdasarkan analisis UN Environment Programme World Conservation Monitoring Centre dalam laporan FAO “The State of the World's Forests 2020” belum lama ini. Forest Watch Indonesia (FWI) pun mencatat laju kehilangan hutan periode 2013-2017 mencapai rata-rata 1,47 juta hektare per tahunnya.

Banyak sekali kekayaan alam Indonesia yang digerus asing sehingga Ibu Pertiwi pun menangis. Seperti tangisan dalam lagunya. Tak bisa diurai satu persatu karena keterbatasan tempat. Kini emas intannya terkenang, ibu sedang  lara, merintih dan berdoa.

Ibu Pertiwi

Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Emas intannya terkenang

Hutan, gunung, sawah, lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa
***

Syamsudin Walad - wartawan suarakarya.id

Editor : Gungde Ariwangsa SH