logo

Perkotaan & Kemacetan

Perkotaan & Kemacetan

16 Agustus 2021 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Problem kemacetan Jabodetabek tidak bisa lepas dari tantangan perkotaan. Terkait ini, pembangunan di perkotaan tentu berimbas kemacetan. Teoritis pembangunan perkotaan gamblang menegaskan salah satu persoalan klasik yang siap dihadapi adalah kemacetan, termasuk juga dampak sosial - ekonomi dari kemacetan itu sendiri.

Terkait ini tidak bisa dipungkiri semua daerah melakukan berbagai cara untuk mereduksi kemacetan, misal menerapkan sejumlah sistem satu arah atau SSA dengan harapan mengurai kemacetan di sejumlah titik. Asumsi yang mendasari tidak bisa terlepas dari fakta kian macetnya sejumlah jalan saat tertentu.

Oleh karena itu, jika kemacetan diurai akan meningkatkan lalu lintas dan tentu beban jalan akan berkurang. Meski demikian, tentunya ada social cost yang harus dikaji agar kebijakan SSA tidak memicu kerugian di sisi lain. Selain itu, pembangunan flyover dan underpass juga tidak bisa terlepas dari komitmen perkotaan untuk mereduksi kemacetan.

Problem kemacetan di perkotaan nampaknya semakin tahun kian parah dan dipengaruhi oleh banyak faktor, baik internal atau eksternal, termasuk juga peran daerah penyangga yang ada di sekitarnya. Belajar dari kasus Jakarta maka pembangunan jalur transportasi massal adalah salah satu strategi untuk mereduksi kemacetan dengan memanfaatkan penggunaan moda transportasi massal. Terkait ini, kesadaran kolektif untuk pengguna transportasi massal menjadi penting, setidaknya bisa memetakan persoalan transportasi umum dan mencari solusinya, misal kebutuhan akan angkutan umum dan optimalisasi pelayanannya. Meskipun demikian, peran dan dukungan dari semua pihak juga menjadi faktor penting dari keberhasilan mereduksi kemacetan.

Mengurai

Urgensi mengurai kemacetan, termasuk dengan model SSA, pembangunan flyover dan underpass menjadi sesuatu yang menarik dicermati, terutama terkait ancaman social cost kemacetan dan implikasi terhadap perekonomian dan kehidupan sosial. Argumen yang mendasari prediksi kemacetan kian parah dan trend volume kendaraan bermotor terus meningkat 16 persen setiap tahun dan 5 tahun lagi semakin parah.

Ancaman kemacetan terutama disebabkan ruas jalan yaitu kondisi panjang jalan dan lebar jalan yang tidak bertambah signifikan di perkotaan, tidak hanya kasus Jabodetabek tapi merata di semua perkotaan. Selain itu, mobilitas yang bersifat homogen yaitu kasus jam berangkat kerja –

sekolah dan pulang kerja – sekolah juga menjadi muara dari ancaman kemacetan di ruas jalan tertentu yang terjadi di perkotaan. Oleh karena itu, mengurai kemacetan tidak lain adalah komitmen mereduksi muasal dari kemacetan itu sendiri karena hal ini tidak dapat dilakukan hanya sektoral dan harus lintas sektoral secara sistematis dan berkelanjutan.

Problem volume kendaraan bermotor yang naik terus bisa dicermati dari 2 aspek, yaitu pertama: tuntutan mobilitas penduduk yang semakin tinggi. Tidak bisa disangkal jumlah penduduk di perkotaan antara di siang dan malam hari cenderung berbeda dan fenomena ini adalah hal

wajar di rutinitas kehidupan perkotaan. Oleh karena itu, penduduk yang di luar permukiman di pagi hari akan menyerbu karena tuntutan pekerjaan dan mobilitas. Fakta ini dilakukan karena keterbatasan aspek kepemilikan perumahan sehingga mereka menyingkir di pinggiran, meski aktivitas dan rutinitas - mobilitas pekerjaan tetap menuju ke kota. Akibatnya kemacetan di waktu pagi dan sore semakin tidak bisa dihindari.

Kedua: konsekuensi dari tuntutan mobilitas tersebut maka mereka membutuhkan moda transportasi yang murah dan hal ini bisa dipenuhi dengan kepemilikan kendaraan. Yang juga mendukung fenomena ini adalah dukungan dari lembaga pembiayaan. Bahkan, kini banyak lembaga pembiayaan yang memberikan kemudahan kredit kendaraan bermotor tanpa

uang muka dengan cicilan yang bisa dinego. Akibatnya, semua kini bisa memiliki kendaraan bermotor untuk mendukung rutinitas, aktivitas serta mobilitas di perkotaan. Jadi, wajar jika tiap tahun jumlah kendaraan terus bertambah dan konsekuensinya adalah kemacetan di perkotaan.Ironisnya layanan moda transportasi umum belum menjamin keamanan – kenyamanan.

Persoalan kemacetan tentu memberikan dampak negatif bagi perekonomian karena bisa berpengaruh terhadap distribusi barang – jasa. Bahkan, kalkulasi ekonomi menunjukan bahwa kemacetan juga berpengaruh terhadap ekonomi biaya tinggi karena memberikan pengaruh terhadap biaya produksi dan distribusi. Oleh karena itu, mengurai kemacetan tidak hanya berpengaruh terhadap aspek sosial, tetapi juga berpengaruh positif terhadap aspek bisnis – ekonomi secara berkelanjutan.

Bahkan, keberhasilan mengurai kemacetan juga berpengaruh positif terhadap kebutuhan konsumsi BBM. Paling tidak, kalkulasi matematis dapat dihitung berapa rupiah yang bisa dihemat jika tidak terjebak kemacetan dan berapa kiloliter BBM yang bisa dihemat oleh konsumsi publik.Wacana kedepannya penggunaan moda transportasi massal dan berbasis

listrik tentu perlu dipertimbangkan. ***

  • Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo