logo

Potensi Wisata

Potensi Wisata

09 Agustus 2021 00:56 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi  

Potensi wisata terdampak pandemi setahun terakhir dan sejumlah daerah tujuan wisata – DTW tidak bisa terlepas dari persoalan ini sehingga daerah yang memiliki aspek potensi kepariwisataan menjerit.

Bahkan potensi wisata halal juga terdampak. Terkait realitas ini beralasan jika rilis lembaga pemeringkat Mastercard-Crescent menempatkan Indonesia diurutan ke-4 dari 140 negara sebagai negara tujuan wisata halal mengacu standar Global Muslim Travel Index-GMTI 2021. Ironisnya situasinya justru diperparah dengan PPKM darurat 3-20 Juli  (diperpanjang 25 Juli dan 9 Agustus untuk sejumlah daerah).

Jawa Tengah sebagai salah satu DTW terdampak pandemi sehingga kunjungan wisman berkurang dan atau setidaknya orang akan menunda perjalanannya sampai situasi reda, apalagi ada PSBB dan PPKM darurat 3-20 Juli (dan diperpanjang). Artinya meski Jawa Tengah adalah salah satu DTW yang potensial dikembangkan karena 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah pada dasarnya adalah DTW yang memiliki karakteristik unik tapi imbas corona tetap harus diantisipasi. Jadi, mengemas - menjual DTW Jawa Tengah menjadi isu strategis saat pandemi mengacu potensi dan prospek kepariwisataan di tahun 2021.

Argumennya karena sukses kepariwisataan berpengaruh terhadap sektor riil, tidak saja geliat ekonomi-bisnis di sekitar DTW, tapi juga industri kerajinan dan kuliner, termasuk juga sentra kerajinan cinderamata. Keyakinan ini didukung komitmen pemerintah yang menjadikan sektor pariwisata sebagai ‘core business’ bagi penyumbang devisa terbesar kedua setelah CPO.

Dari nilai jual dan tuntutan mengemas DTW Jawa Tengah beralasan jika Pemprov Jawa Tengah kini berusaha mengembangkan pesisir utara yaitu Blora dan Rembang. Hal ini mengemuka di FGD bertemakan ‘Identifikasi Segmen Pariwisata Jateng’ pada Kamis 19 Oktober 2017 lalu.

Karakteristik unik yang ada di DTW Blora - Rembang diyakini akan memacu kunjungan dan lama inap. Oleh karena itu, ragam paket wisata yang bersinergi dengan kawasan Blora – Rembang bisa dikemas dan dijual untuk mendukung daya tarik wisata Jawa Tengah dan bisa disinergikan dengan kepariwisataan Yogya. Artinya, pintu masuk bandara dari Jawa Tengah dan Yogya bisa rentan terhadap wisman dari Cina dan tentu ini harus diantisipasi. Potensi ini bisa disinergikan dengan prospek wisata halal. Potensi DTW Jawa Tengah untuk menyerap kunjungan wisatawan tidak lepas dari target kunjungan wisatawan global. Data dari World Tourism Organization jumlah wisatawan global mencapai 5,5 juta orang dan prediksi tahun 2030 sekitar 1,2 miliar dan karenanya Jawa Tengah berkepentingan memanfaatkan target wisatawan global ini, meski saat ini ada ancaman pandemi.

Aspek dari pengembangan DTW pertama: berkenaan keragaman objek. Era digital dan potensi global memungkinkan daerah mengemas - menjual DTW karena semua DTW memiliki beragam objek wisata yang relatif menyeluruh, baik dari segi fisik atau non-fisik, di samping kesiapan sarana penunjang wisata dan infrastruktur.  Kedua: berkaitan ragam spesifisitas objek dengan karakter mantap – unik seperti budaya - kebudayaan, kerajinan cinderamata, kuliner dan beragam keunikan. Spesifikasi ini didukung kombinasi objek fisik dan nonfisik dalam paduan serasi. Hal ini memperkuat daya saing DTW di Jawa Tengah sebagai primary destination. Semua keunikan itu tentu diharapkan mendukung daya tarik wisata Jawa Tengah.

Jawa Tengah potensial menjual karakteristik dan keberagaman wisata yang dimilikinya. Faktor lain yang mendukung kepariwisataan Jawa Tengah yaitu adanya industrialisasi. Meski industrialisasi tidak menjamin utuh bagi pengembangan kepariwisataan, tapi yang bersifat kerajinan mendukung kepariwisataan. Potensi lain yaitu jaminan keaslian wisata yang ditawarkan, khususnya wisata alam, termasuk hal ini ketersediaan SDM, terutama dikaitkan potensi penduduk yang padat.

Hal lain yang mendukung kepariwisataan Jawa Tengah khususnya dan pariwisata di era global pada umumnya adalah digitalisasi yang memungkinkan semua terekspose secara luas melalui peran internet yang kini semakin mudah dan murah. Oleh karena itu, dampak virus corona cepat menyebar di dunia maya dan berdampak sistemik terhadap kepariwisataan secara global, termasuk Indonesia pada umumnya dan Jawa Tengah khususnya, sementara ada kepentingan untuk mendapatkan limpahan kunjungan wisatawan sesuai prediksi World Tourism Organization dan tentu potensi dari kunjungan wisata halal. ***

  • Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo