logo

Soko Guru

Soko Guru

02 Agustus 2021 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Menutup akhir Juli 2021 tidak bisa terlepas dari catatan menarik seputar perkoperasian di Indonesia. Di satu sisi, tema Hari Koperasi di Juli ini: “Transformasi Digital Koperasi Menuju Bisnis Modern Yang Kuat Dan Bermartabat” dan di sisi lain digitalisasi saat ini sudah semakin membumi.

Oleh karena itu, transformasi keperilakuan dari tradisional – offline ke modern – digital – online menjadi semakin jamak dilakukan. Artinya, realitas di era kekinian bahwa semua layanan berbasis digital sehingga koperasi harus berbenah untuk siap melakukan perubahan menyambut digitalisasi layanan tersebut. Meski upaya itu tidak mudah dan juga membutuhkan investasi yang mahal tetapi persaingan ke masa depan memang semakin menuntut adanya modernitas layanan, termasuk tentunya era layanan digital sehingga semua pelaku usaha, termasuk tentunya koperasi harus bersiap merealisasikannya jika ingin tetap bisa bersaing dengan yang lainnya.

Komitmen terhadap digitalisasi perkoperasian juga harus mempertimbangkan kondisi di era kekinian dari perkoperasian itu sendiri. Oleh karena itu, pengawasan juga harus bisa lebih ketat sehingga eksistensi perkoperasian tidak sekedar papan nama tapi benar-benar mampu bersaing karena kompetisi di masa depan akan semakin pelik dan karenanya era digitalisasi menjadi salah satu kunci sukses untuk merebut pasar.

Fakta lain yang menarik pengawasan yang terjadi relatif longgar. Kementerian Koperasi dan UMKM yang berkompeten pada pengaturan dan pengawasan kurang komprehensif. Realitas ini tentu juga terkait dengan minimnya SDM, selain infrastruktur yang ada. Jadi perlu penambahan secara kuantitas dan kualitas SDM untuk meningkatkan pengawasan di semua lini sehingga kesalahan terkecil bisa terdeteksi dan bisa cepat diambil tindakan secara preventif. Selain itu, aspek yang juga perlu dicermati bahwa perkoperasian mulai ditinggalkan dan tanpa sadar harus juga diakui kesadaran dan kepemilikan terhadap jenis usaha perkoperasiaan mulai tergerus oleh perkembangan fintech yang saat ini menjamur. Tidak bisa dipungkiri unit layanan simpan pinjam koperasi kini bersaing secara frontal dengan fintech yang lebih dahulu melakukan layanan online. Oleh karena itu koperasi di masa depan jangan sampai kalah dengan pembiayaan dari fintech yang kini menjamur dan menyasar ke semua pelosok daerah. 

Dibalik serangkaian kasus yang menimpa perkoperasian nasional tentu juga tidak dapat terlepas dari keterlibatan SDM perkoperasian itu sendiri. Oleh karena itu, kepengurusan koperasi harus kredibel, memiliki integritas tinggi dan berkompeten selain tentunya juga harus memiliki spirit perkoperasian. Tanpa itu semua maka logis jika kemudian koperasi semakin ditinggalkan dan bukan tidak mungkin ke depan koperasi hanya tinggal nama. Kekhawatiran ini bukan tidak beralasan karena generasi muda di era kekinian cenderung semakin abai dengan perkoperasian, sementara di sisi lain generasi muda makin familiar dengan keberadaan fintech yang menyasar ke semua segmen karena adanya dukungan digitalisasi dan layanan real time online tanpa lagi mengenal jeda ruang dan waktu. Fakta ini harus menjadi pembelajaran untuk ‘meremajakan’ dan ‘menggaulkan’ perkoperasian dan dukungan digitalisasi layanan perkoperasian memang memungkinkan untuk itu. 

Terlepas dari sejumlah argumen di atas, pastinya kedepannya Kementerian Koperasi dan UMKM juga perlu meningkatkan regulasi pengaturan dan pengawasan. Setidaknya cara ini untuk meminimalisasi semua risiko yang ada, baik itu risiko finansial atau risiko yang lain. Artinya pencegahan tentu pasti lebih baik dibanding dengan penindakan sebab pencegahan akan bisa meminimalisasi semua risiko yang ada sementara penindakan dari semua kasus akan memberatkan terhadap proses hukum. Dari ragam kasus yang muncul maka eksistensi perkoperasian di masa pandemi dan ketentuan new normal saat ini harus tetap mengedepankan prinsip profesionalisme agar perkoperasian tetap eksis dan mampu memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan melalui layanan digitalisasi yang saat ini telah menjadi bagian dari modernitas layanan di semua lembaga pembiayaan. ***

  • Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo