logo

Enam Jaksa Dipecat Walau Gencar Dicanangkan ZI, WBK & WBBM

Enam Jaksa Dipecat Walau Gencar Dicanangkan ZI, WBK & WBBM

Jaksa Agung ST Burhanuddin saat HBA
23 Juli 2021 17:55 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Di tengah-tengah gencarnya pencanangan Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) di Kejaksaan Agung beserta jajarannya,   enam jaksa dalam kurun waktu Januari – Juni 2021 diberhentikan sementara sebagai PNS.

ZI, WBK dan WBBM tampaknya belum bisa menjamin aparat-aparat menjalankan tugas penuh tanggung jawab, professional, jujur dan bersih. Terbukti, selain ke-6 jaksa tadi Kejaksaan Agung juga memberikan sanksi disiplin kepada 101 aparatnya.

Menurut Jaksa Agung ST Burhanuddin, penjatuhan sanksi disiplin dan pemberhentian sementara 6 jaksa sebagai PNS adalah hasil pemeriksaan Bidang Pengawasan Kejaksaan Agung, Januari – Juni 2021. Namun,  pernyataan yang disampaikan saat Upacara Peringatan Hari Bhakti Adhyaksa (HBA) ke-61  tersebut tidak disertai jenis pelanggaran apakah terkait penanganan perkara dan atau lain.

Meski demikian, kata Jaksa Agung Burhanuddin, bahwa dari hasil kerja keras seluruh aparat Kejaksaan membuat kepercayaaan masyarakat semakin meningkat terhadap institusinya.
Berdasarkan hasil survei dari sejumlah lembaga penelitian, tren kepercayaan dan kepuasan masyarakat terhadap Kejaksaaan pada Desember 2019 hanya berada di angka 52,9 persen. Namun pada bulan Mei 2021 kini telah naik pesat mencapai angka 82,2 persen.

Namun capaian ini, tidak membuat jajaran Kejaksaan berpuas diri dan lengah, melainkan akan menjadi motivasi bagi jajaran Kejaksaan untuk terus memberikan karya yang terbaik untuk bangsa.  "Kami tetap fokus, semangat, dan ikhlas dalam bekerja. Teruslah berkarya karena itu yang akan membedakan kapabilitas dan kualitas kinerja saudara dengan yang lain. Selalu niatkan dalam diri saudara, bekerja adalah sebagai nilai ibadah dan jadikan jabatan sebagai ladang kita dalam menabur kebaikan," ujarnya.

Burhanuddin mengatakan, dalam perkembangan global seperti saat ini, dimana segala sesuatunya bergerak dengan cepat melampaui batas ruang dan waktu, Kejaksaan dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Peran Kejaksaan sebagai aparat penegakan hukum semata-mata tidak lagi berorientasi pada kepastian dan keadilan, melainkan harus mampu memberikan kemanfaatan hukum bagi masyarakat.

Dalam perkembangannya, kemanfaatan penegakan hukum sangatlah dibutuhkan dalam proses pembangunan dalam menciptakan kondisi yang mendukung dan mengamankan pelaksanaan pembangunan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Pembangunan ekonomi akan kokoh apabila ditopang oleh hukum yang kuat dan Kejaksaan sebagai institusi penegak hukum harus dapat memegang peranan sebagai aktor intelektual yang mampu menyeimbangkan neraca keadilan yang tersirat dengan kepastian hukum yang tersurat.

"Setiap proses penegakan hukum yang dilakukan seyogyanya mampu memberikan kemanfaatan pada setiap proses pembangunan. Dalam arti lain, proses penegakan hukum haruslah seiring dan tidak boleh menghambat jalannya pembangunan dan roda perekonomian," kata Jaksa Agung.

Melalui upacara yang berlangsung secara virtual dari ruang kerjanya di Menara Kartika Adhyaksa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Burhanuddin menyampaikan 7 Perintah Harian, Kamis (22/7/2021). Yaitu perintah 1. Dukung penuh Kebijakan Pemerintah dalam Penanggulangan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional sesuai ketentuan. 2. Gunakan hati nurani dalam setiap pelaksanaan tugas dan kewenangan. 3. Ciptakan karya-karya yang inovatif dan terintegrasi yang dapat meningkatkan pelayanan publik. 4. Wujudkan Kejaksaan Digital dalam penyelenggaraan manajemen teknologi informasi dan sistem satu data Kejaksaan. 5. Perkuat asas dominus litis dalam setiap pembentukan peraturan perundang-undangan. 6. Segera sinergitaskan peran penuntutan dan penanganan perkara koneksitas pada Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Militer. 7. Jaga marwah institusi dengan bekerja secara cerdas, integritas, profesional, dan berhati nurani.***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto