logo

 Motivasi Lawan Ketidakpastian

Oleh: Yacob Nauly

Motivasi Lawan Ketidakpastian

18 Juli 2021 12:16 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: Yacob Nauly

Masyarakat negara-nagara di dunia mulai pesimis terhadap manajemen pemberantasan pandemic Covid-19,  terutama oleh organisasi  kesehatan dunia (WHO). Egoisme masyarakat untuk mempertahankan diri di tengah krisis global ini pun  mulai mengarah ke situasi  ketidakpastian. Akibatnya motivasi diri untuk mencapai tujuan seakan terhenti (kalah) karena situasi saat  ini  banyak dipengaruhi  kemunafikan (ketidakpastian) yang dilontarkan ke publik melalui berita hoaks.  

Egois masyarakat memotivasi diri untuk memperoleh kesejahteraan secara kelompok maupun personel, merupakan hukum alam, yang tak dapat dipungkiri. Pasalnya, usaha menuju kesejahteraan masyarakat seperti diketahui  membutukkan dukungan banyak variabel yang saling terkait.

 Motivasi orang untuk meraih cita-cita ekonomi, pendidikan apalagi kesehatan terhadang   kondisi  jatuhnya korban jiwa  akibat terinfeksi Covid-19. Di tengah derasnya era transformasi  informasi dan  komunikasi  warga terkadang tak mampu untuk mengendalikan diri. Terutama, ketika terbawa informasi sesat yang digaungkan pihak tak  bertanggungjawab yang hidup dalam situasi (ketidakpastian).

Kalau disimak secara seksama, masyarakat dunia telah terbawa kondisi sesat yang seakan radikal. Meski, masih dalam batas  kemasan yang  terlihat baik padahal kontennya  merusak. Contoh, bicara soal disiplin kesehatan, agama mengajarkan manusia untuk membersihkan diri. Karena bersih itu sebagian dari iman.

Metode membersihkan diri versi agama yang sangat  rasional itu   sebenarnya  paling tepat direalisasikan saat   pandemic saat ini. Sayangnya  metode ajaran baik itu kurang digaungkan  sebagai  motivasi  ajakan positif  untuk  melawan Covid-19  dalam kemasan 5 M. Bahkan terkadang ajakan mengarah ke situasi ketidakpastian, untuk  mengarahkan mindset manusia ke situasi kemunafikan.

Nah,   narasi itu biasanya disampaikan  seseorang yang telah dirasuki  ketidakpastian alias  kemunafikan.  Orang seperti ini  hanya berpikir bagaimana menginformasikan  pengaruh salah kepada orang lain.  Si- penerima  juga tak menyaring informasi sebelum di-share ke orang lain. Akibatnya banyak orang  terjerumus dalam situasi ketidakpastian.

“Yakni kurang yakin apakah Covid-19 itu  benar ada atau tidak .  Ujung-ujungnya anjuran pemerintah untuk disiplin menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes)  diabaikan  oleh warga  yang terintimidasi ketidakpastian  informasi ”.

Anjuran Pemerintah

Pemerintah Indonesia dalam hal ini tak mau  kalah  lawan  pengaruh orang yang  suka  menebarkan informasi  hoaks ke publik.  Petinggi negeri ini menyadari bahwa hingga Sabtu (17/7/2021)  penambahan 51.952 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir.

Penambahan kasus baru itu tersebar di 34 provinsi. Hingga Sabtu (17/7/2021), total pasien Covid-19 di Tanah Air berjumlah 2.832.755 orang. Menurut data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, penambahan tertinggi ada di DKI Jakarta yaitu sebanyak 10.168 kasus, disusul Jawa Barat dengan 9.398 kasus dan Jawa Timur dengan 6.920 kasus. Secara kumulatif, pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh bertambah 27.903 orang.

 Sehingga, jumlah pasien yang sembuh setelah terinfeksi virus corona menjadi 2.232.394 orang. Kemudian, ada penambahan 1.092 kasus kematian akibat Covid-19. Dengan demikian, pasien Covid-19 meninggal dunia jadi 72.489 orang (suarakarya.id/KompasNews).

Meski Covid-19 telah menewaskan ratusan ribu bahkan jutaan pasien di seluruh dunia, masih ada sejumlah orang di Indonesia yang  belum yakin  terhadap eksistensi  corona virus (Covid-19) yang berasal dari Wuhan China itu.

Pemerintah Indonesia menegaskan,  warga harus mewaspadai informasi hoaks yang sengaja dilemparkan ke publik oleh orang tak bertanggungjawab untuk menciptakan situasi yang tidak menguntungkan kepentingan bangsa terkait penanggulangan dan pemusnahan  Covid-19.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, hari ini menegaskan kepada masyarakat untuk tidak percaya pada hoaks atau berita bohong terkait Covid-19 maupun seputar vaksinasi.

 Hal ini disampaikan mengingat masih banyaknya hoaks yang beredar terutama di media sosial dan memberikan informasi yang tidak benar kepada masyarakat. “Karena hoaks itu betul-betul membahayakan diri kita dan orang lain,” kata dr. Nadia, Jumat (16/7/2021).

Dia mendorong masyarakat untuk bisa memastikan informasi berasal dari sumber resmi dan narasumber yang dapat dipercaya.

 Pemerintah, lanjutnya, juga telah menyediakan berbagai informasi resmi misal melalui situs KPCPEN yaitu covid19.co.id. Di situs tersebut ada kanal hoaks buster. Atau bisa mengakses melalui aplikasi ecovid19.co.id yang bisa diunduh di Playstore dan Appstore.

“Sudah banyak akses yang memudahkan kita untuk mengecek kebenaran informasi yang kita terima. Jadi jangan langsung percaya begitu saja dengan informasi yang beredar, khususnya di media sosial,” ujarnya.

Hal senada disampaikan, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI), dr. Hermawan Saputra yang meminta masyarakat untuk betul-betul menyaring berita dan juga opini yang berkembang baik di media publik, maupun di media sosial. Dia mencontohkan, jika ada tokoh agama yang memberikan pernyataan tertentu, apakah tokoh agama ini betul-betul mewakili institusinya atau juga punya otoritas terkait dengan apa yang disampaikan.

“Hal itu harus diverifikasi supaya sejalan juga dengan tokoh agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI),” katanya.

Dia menambahkan, begitu juga jika ada tokoh kesehatan, entah itu dokter, perawat, bidan atau bahkan tenaga kesehatan lainnya, yang memberikan perspektif terkait Covid-19. Maka,  informasi tersebut harus diselaraskan apakah tokoh kesehatan ini mewakili institusinya, profesinya, atau ada di bawah lembaga yang betul-betul kredibel.

Hal tersebut agar bisa ditelusuri kapasitasnya. Atau misal ada tokoh masyarakat yang memang terlibat di dalam penanganan pandemi Covid-19, atau hanya opini yang berkembang di luar dari upaya pengendalian Covid-19.

“Kemampuan kita memverifikasi dari sumber resmi, itu yang akan memudahkan kita juga mempertanggungjawabkan apa yang menjadi materi atau bahan dari diskusi,” katanya.

Termasuk dalam hal ini adanya berita debat tentang obat, dr. Hermawan menyebut, mana yang sudah direstui, mana yang tidak, mana yang efektif mana yang tidak, serahkan kepada otoritas seperti BPOM yang berwenang melakukan clinical review approval.

Ketika BPOM menyampaikan bahwa vaksin itu efektif, bahwa obat itu bisa digunakan sesungguhnya di situlah wilayah yang paling bijak sebagai warga masyarakat supaya bisa menerima dan menyaring berita.

“Kita harus sadar, Covid-19 ini masih ada di sekitar kita. Kita harus sadar bahwa kenaikan kematian dan kesakitan masih berlangsung di sekitar kita. Maka Covid-19 ini walaupun tidak kasat mata penyebabnya, tapi dia nyata,” tegas dr. Hermawan.

Kesimpulan:

Berdasarkan  fakta dan  data  yang penulis paparkan pada tulisan ini disimpulkan bahwa sebagai manusia Indonesia kita harus dapat memotivasi diri  melawan sebuah ketidakpastian yang disebarkan oleh orang  munafik. Atau  hoaks  yang dilontarkan  dari orang yang hidup dalam situasi ketidakpastian. Makanya, kita harus dapat memotivasi diri untuk keluar dari ketidakpastian menuju masa depan yang lebih menguntungkan diri sendiri dan orang lain.Terima kasih.  ***

 

Yacob Nauly: Pemegang Kartu Utama UKW Dewan Pers, Wartawan suarakarya.id, Mantan Ketua PWI Perwakilan Sorong, Kini  Sekretaris Dewan Penasehat PWI  Sorong dan Jurnalis Ubahlaku.