logo

Menjanjikan, Objek Wisata Dan Kearifan Lokal Masyarakat Taniwel Timur, Maluku

Menjanjikan, Objek  Wisata Dan  Kearifan Lokal Masyarakat Taniwel Timur, Maluku

Yacob Nauly, Putra Adat Negeri Lumahlatal Taniwel Timur-Maluku
12 Juli 2021 10:30 WIB
Penulis : Yacob Nauly

SuaraKarya.id - TANIWEL TUMUR: Secara umum,  ciri khas dan etika masyarakat kecamatan Taniwel Timur, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Provinsi Maluku,  sama dengan budaya atau kebiasaan warga Maluku lainnya. Masyarakat  adat negeri-negeri Taniwel Timur adalah suku bangsa, Wemale, yang masih tergolong tradisional, mendiami sebagian  kawasan  Utara Pulau Seram.

Selain Wemale, ada suku bangsa lain,  dikenal   dengan nama  suku Alune.   Suku ini berada di sekitar  pegunungan Taniwel  hingga sebagian pesisir pantai. Dan, dataran pulau Seram lainnya berdampingan dengan suku Wemale, tentunya.

Dalam kelompok ekosistem, manusia  adalah subsistem yang punya ketergantungan dengan lingkungan sekitarnya. Setiap bagian dari ekosistem ini memiliki fungsi yang saling mendukung (ada keterkaitan), sehingga tercipta keutuhan ekologis yang saling menguntungkan.

Begitu sebaliknya, ketika sub-sub bagian tak saling mendukung keutuhan-nya maka  berdampak pada  hancurnya tatanan ekosistem itu sendiri. Maksudnya, jika manusia menghianati seperti menebang pohan atau membuka lahan perkebunan tanpa membuat Amdal yang baik  maka alam marah lalu merusak kehidupan manusia.  Seperti banjir, longsor kebakaran hutan dan lainnya. 

Hingga kini warga Taniwel Timur masih memiliki ketergantungan alam   karena lingkungan hidup setempat, masih terjaga dengan baik. Beberapa tahun lalu, ada sejumlah pengusaha kayu yang mencoba merusak hutan setempat. Namun, tak sampai parah karena Pers atau  melalui media massa, perusak hutan  itu dihalau (diusir)  hingga  kegiatan  penebangan  hutan itu,  dihentikan.

Setelah diamati, kesadaran terhadap kearifan lokal itu sangat tinggi di benak warga ini  meski sebagian sudah terkikis oleh derasnya budaya  barat. Atau,  teknologi informasi  modern yang juga mempengaruhi kehidupan sosial kelompok masyarakat ini. Warga Taniwel Timur  menyadari benar  bahwa alam daerah ini masih belum banyak tersentuh tangan-tangan  perusak hutan seperti   di kawasan lainnya.

Sebagian besar  kelompok ini masih tergolong masyarakat tradisional. Sehingga, sejak lama mereka  memahami pentingnya melindungi lingkungan  berupa hutan dan sungai  melalui sejumlah aturan   yang tak tertulis. Misalnya, “ sasi  “.

Sasi, ini merupakan pola tradisional warga untuk memberikan kesempatan kepada alam   melindungi tumbuhan menuju proses kematangan barulah dipanen, hasilnya.  Dasar sasi ini, adalah karena secara  ekologis, manusia merupakan salah satu subsistem dalam ekosistem lingkungan hidup.

Masyarakat  Taniwel Timur sejak dahulu menganggap, manusia  memiliki sifat kesatuan dengan alam lingkungan di sekitarnya. Makanya, manusia  di pulau Seram termasuk warga  Taniwel Timur sangat menghormati fungsi ekosistem itu dengan  menyebut alam sebagai penguasa (di zaman dahulu kala).

 Lante Takule

Sebelum  masuk agama-agama yang percaya adanya Allah (Tuhan) di Indonesia bahkan diperkirakan masih pada zaman purbakala, warga adat pegunungan Taniwel Timur, pernah memiliki keyakinan (religi) yang terorganisir meski tak tertulis

Bila disimak dengan seksama Lante Takule,  ini  memiliki  dua kata  yang  berbeda bermakna. Lante, artnya langit dan Takule  adalah tanah dalam bahasa suku bangsa  Wemale. .

Artinya, masyarakat suku Wemale yang mendiami pegunungan Taniwel Timur ini yakin bahwa  manusia adalah satu kesatuan terpadu dengan lingkungannya. Artinya, terjalin  hubungan penting yang tak boleh terpisahkan. Manusia zaman purba,   berkeyakinan bahwa  ketika antara bagian-bagian ekosistem itu tak saling mendukung maka terjadi kiamat kecil (bencana alam).

Pemahaman nenek moyang  suku Wamale bahwa ada hubungan penting manusia dan alam atau lingkungan sangat  tepat. Ini bermakna bahwa alam atau lingkungan merupakan  sumber kehidupan bagi kelangsungan ekonomi (kesejahteraan) manusia. Bahkan sampai kapan pun “manusia” terus  bergantung pada alam atau di mana pun  ia berada.

Dengan demikian , maka “Lante Takule”  diyakini sebagai unsur yang bisa memusnah-kan bahkan sebaliknya  dapat memberikan sumber kehidupan bagi mahkluk hidup yaitu manusia dan lainnya. Ini sebuah keyakinan manusia purbakala di Taniwel Timur.

Potensi Wisata Pegunungan

Meski hingga kini belum diidentifikasi oleh LSM atau pemerintah daerah terkait potensi   wisata pegunungan  di  Kecamatan Taniwel Timur . Namun, dari kasat mata daerah ini punya potensi besar untuk dijadikan  negeri pariwisata yang dapat diandalkan ke depan.

Kawasan  ini diapit  oleh dua sungai. Yaitu, sungai  Uli dan sungai Makina yang dapat  diandalkan  karena sangat berpotensi sebagai pendukung  usaha pariwisata di Taniwel Timur.

Semua orang tahu bahwa tinggal di kawasan pegunungan tentunya sangat menyenangkan. Selain dapat menikmati pemandangan di lingkungan   yang indah. Para pengunjung bisa menghirup udara segar.

Kendala utamanya adalah akses jalan menuju ojek wisata pegunungan sangat sulit. Karena itu, pihak terkait seharusnya membuat terobosan baru memanfaatkan potensi yang ada. Khususnya di pegunungan kawasan Taniwel Timur itu.

Karena pendapatan dari sektor pariwisata ini sangat menjanjikan.  Seperti,  pengalaman  provinsi-provinsi yang minim PAD di sektor Migas. Tapi, karena memanfaatkan pariwisata.  Sehingga, Penerimaan Asli Daerahnya (PAD) juga tak kalah dengan  daerah penghasil minyak dan gas (Migas) di daerah lain.

Khusus daerah Taniwel Timur masih belum ada investor yang  menguasai lahan potensi wisata pegunungan. Karena itu, pemerintah seharusnya mencari alternatif  pendukung  guna membantu warga menggali potensi ini.

Kalau saja  pemerintah membuka peluang  pinjaman modal kepada generasi  muda daerah  ini (Taniwel Timur,Red) untuk menggali potensi pariwisata, bukan tidak mungkin  kecamatan  ini menjadi penyumbang  PAD dari sektor pariwisata  pegunungan.

Lingkungan Hidup

Seperti diketahui, di mana-mana kerusakan lingkungan hidup tinggi karena pemahaman masyarakat adat  terkait manfaat alam belum  maksimal. Pihak-pihak yang ikut merusak lingkungan  dengan alasan membuka lahan  pertanian baru kebanyakan   adalah masyarakat  adat   sekitarnya.

 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dijelaskan bahwa Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan dan pengendalian lingkungan hidup.

Selanjutnya,  pasal 2 Undang-Undang  Nomor  32 Tahun  2009 menegaskan,  Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup. Dan, mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup meliputi perencanaan, pemanfaatan,  pengendalian, pemeliharaan dan pengawasan

Serta,  penegakan hukum dan selanjutnya dalam  Pasal 4   mengatur tentang  Ruang Lingkup Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup meliputi  perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan dan penegakan hukum.

Pengelolaan lingkungan hidup yang diselenggarakan dengan asas tanggung jawab Negara, asas berkelanjutan dan asas manfaat bertujuan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. Adapun, sasaran pengelolaan lingkungan hidup adalah :

a.        Tercapainya keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup

b.        Terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindakan melindungi dan membina lingkungan hidup

c.        Terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan

d.        Tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup

e.        Terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana

f  .        Terlindunginya Negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan/atau kegiatan di luar wilayah Negara yang menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.

Memang benar, bahwa Pengelolaan lingkungan hidup bukan semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah. Misalnya, di Taniwel Timur,  masyarakat  harus   berperan peran  penting serta dalam melaksanakan  kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup.

Masyarakat mempunyai kewajiban  dalam peran sertanya  mengelola lingkungan hidup. Maksudnya, agar tercipta kelestarian lingkungan hidup yang bermanfaat bagi  umat manusia

Warga negara Indonesia dari Sabang hingga Merauke berhak  untuk mengembangkan diri membangun negeri ini. Tentu proses dan cara melaksanakan pembangunan itu sesuai dengan kondisi dan peran masing-masing kelompok daerah sesuai potensi yang dimiliki.

Warga Taniwel Timur punya potensi lingkungan yang sangat mendukung pembangunan bangsa dari aspek pertanian, perkebunan bahkan pariwisata. Termasuk perikanan tangkap dan budi daya yang menjanjikan. Kini tinggal dukungan  pemerintah untuk mengembangkan potensi itu menuju kesejahteraan masyarakat dan daerah.

Keberhasilan sejumlah daerah, di  Indonesia, itu lebih pada  pengelolaan dengan baik  ”Ojek  Wisata”. Dan, meningkatkan  Kearifan Lokal Masyarakat Adat  setempat.

 Jika demikian, maka  Taniwel Timur  diproyeksikan mampu berkembang menjadi daerah  wisata. Apalagi didukung kearifan lokal masyarakat yang terbuka dan ramah terhadap tamu.   (Sumber bacaan: dari berbagai kajian ilmiah terkait Pariwisata dan Lingkungan Hidup)  ***  

   

Editor : Dwi Putro Agus Asianto