logo

Sentimen Pandemi

Sentimen Pandemi

05 Juli 2021 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

 

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Pandemi setahun terakhir berdampak sistemik terhadap semua sector.  Tidak terkecuali  sektor bursa juga terdampak. Oleh karena itu pemberlakuan PPKM darurat pada 3-20 Juli juga dipastikan berdampak terhadap semua sektor tanpa terkecuali.

Meski demikian, ada juga sejumlah sektor yang mendapatkan berkah dari pandemi termasuk misalnya saham di bidang kesehatan dan farmasi. Bahkan indeksnya terkesan moncer setahun terakhir.

Yang menarik dicermati meski indeks meradang, tetapi saham farmasi justru mengalami perbaikan kinerja. Data BEI untuk saham PT Kalbe Farma naik 1,23%, saham PT Kimia Farma menguat 52,6%, saham Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul terkerek 0,81%, termasuk saham BUMN farmasi lain yaitu PT Indofarma naik 72,99%, PT Tempo Scan Pacific naik 2,42% dan saham PT. Darya-Varia Laboratoria naik 2,79%.

Imbas situasi ini Kalbe Farma mengekspor ke Korsel bahan baku sehingga menjadi peluang memacu ekspor lebih banyak lagi ke Korsel karena Korsel merupakan negara kedua terbanyak terserang corona setelah China. Potensi ini juga harus diwaspadai terutama menyangkut peluang masa depan.

Di sisi lain, industri bahan baku jamu dalam negeri juga mendapat nilai positif dibalik situasi ini. Artinya, ada dualism di balik sebaran corona ini yaitu ada yang mendapat keuntungan sementara di sisi lain ada juga yang mendapat kerugian.

Mencermati situasi indeks yang terkoreksi maka otoritas BEI dan OJK memberi peluang bagi emiten melakukan buyback. Kementerian BUMN telah memberi penegasan untuk melakukan buyback atas 12 BUMN dengan nominal Rp.8 triliun.

Dari sektor perbankan misal yang siap buyback BRI, Mandiri, BNI dan BTN. Dari sektor konstruksi misal PT WIKA, PT ADHI, PT Jasa Marga dan PT Waskita Karya dan sektor pertambangan yaitu PT Aneka Tambang, PT Bukit Asam dan PT Timah.

Argumen yang mendasari karena dari buyback diharapkan memberikan stimulus dan mereduksi dampak kerugian akibat fluktuasi pasar yang meradang. Menyelamatkan bursa dengan memberikan keleluasaan emiten untuk buyback sahamnya pada dasarnya adalah salah satu upaya untuk meredam gejolak yang semakin rentan.

Jadi, kebijakan buyback bisa dilakukan tanpa perlu ada RUPS dan jumlah sahamnya yaitu 10 persen dari modal disetor dan maksimal 20 persen (minimal saham beredar 7,5 persen dari modal disetor). Kebijakan itu tertuang di Surat Edaran OJK no.3/SEOJK.04/2020 tanggal 9 Maret 2020. Jika dari sektor bursa dimungkinkan buyback maka dari moneter dan juga sektor lainya juga perlu kebijakan sehingga mampu menyelamatkan situasinya yang sampai saat ini semakin meradang, terutama pasca melonjak kembali pandemi.

Kalkulasi dari dampak berantai virus corona maka beralasan jika sejumlah analisis justru memprediksi jika situasinya tidak berubah maka indeks akan terus terjun bebas. Terkait hal ini, data BEI menunjukan IHSG pada 2 Januari masih di level 6.283,58 lalu pada 29 Pebruari di level 5.452,79 dan 9 Maret 2020 (awal pandemi) menjadi 5.136,50. Hal ini pernah terjadi saat bom Bali sehingga indeks merosot 10,36% (penutupan perdagangan 14 Oktober 2002).

Dari fakta di atas memberi gambaran terkait virus corona dan investor cenderung wait and see sambil menata instrumen investasi yang aman dan situasinya dapat berubah jika penanganan virus corona tidak terkontrol dan ini bisa menjadi wait and worry. Oleh karena itu, pesimisme menatap ekonomi 2021 menjadi beralasan dan prediksi terhadap pertumbuhan memang harus direvisi. Setidaknya PPKM darurat mulai 3-20 Juli harus diwaspadai karena dampak sistemiknya pasti dirasakan oleh semua. ***

  • Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo