logo

Hakim Dinilai Ingkar Janji, Finny Fong Pun Interupsi Berapi-api

Hakim Dinilai Ingkar Janji, Finny Fong Pun Interupsi Berapi-api

sidang kasus Arwan Koty
24 Juni 2021 11:24 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Istri terdakwa Arwan Koty, Finy Fong, tiba-tiba mengintervensi majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan pimpinan Arlandi Triyogo SH MH dengan berkata: "Tidak bisa begitu majelis, masa langsung pemeriksaan saksi a de charge dan ahli. Dihadirkan dulu Soleh Nurcahyo dan Tommy Tuasihan untuk dikonfrontir, bukankah agenda sidang adalah konfrontir sesuai janji majelis hakim di persidangan sebelumnya???".

Finy menyebutkan konfrontir dengan Soleh Nurcahyo dan Tommy Tuasihan penting sekali. "Soleh dan Tommy ini saksi kunci, karena mereka bersaksi di persidangan adalah pelaku jasa pengangkutan dan pelayaran dan mengaku telah mengirimkan alat berat ke Nabire," katanya memberi alasan mengapa masih terus menginginkan  konfrontir tersebut. Terutama mengingat dua saksi ini tidak mempunyai dokumen-dokumen asli terkait pengangkutan dan pelayaran. Apalagi Tommy, tidak ada sama sekali sepotong surat terkait pelayaran yang ditemukan di dalam surat penetapan penyitaan alat alat bukti yang dibuatkan oleh Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan faktanya memang alat berat tersebut belum diterima Arwan Koty sampai saat ini.

Ketua Majelis Hakim Arlandi Triyogo menanggapi interupsi sekaligus permintaan Finy Fong dengan menanyakan kepada JPU Sigit Hendradi SH apakah   bisa hadirkan Soleh dan Tommy, yang dalam agenda sidang, Rabu (23/6/2021) bakal dikonfrontir namun mangkir. "Sulit menghadirkan mereka Pak Hakim, karena saat ini mereka bekerja di luar Pulau Jawa," tutur Sigit.

Finy meminta hakim menunda sidang dua pekan guna memberi waktu kepada jaksa menghadirkan saksi kunci tersebut.

Majelis mengatakan JPU sudah menyerah hadirkan kedua saksi untuk dikonfrontir, maka disilahkan terdakwa Arwan Koty dan penasihat hukumnya menghadirkan saksi a de charge dan ahli. "Hadirkan saksi meringankan sebanyak-banyaknya dan paling banyak dua ahli. Keterangan saksi dan ahli itu siapa tahu dapat mengcounter keterangan saksi JPU, hingga terdakwa tidak terbukti bersalah," kata Arlandi Triyogo.

Kendati mengelak berdebat, Arlandi Triyogo menganjurkan terdakwa dan penasihat hukum Aristoteles Siahaan SH dan Efendi Sidabariba SH agar memasukkan segala sesuatunya yang dinilai janggal dalam kasus pengaduan bohong itu ke dalam pledoi. "Kalau tidak ada bukti  terdakwa atau klien anda kan bebas. Tunjukkan di situ bahwa keterangan saksi-saksi JPU itu tidak benar," kata Arlandi Triyogo.

Menurut Ketua Majelis Hakim kasusnya sesungguhnya sederhana saja. Alat berat yang dibeli dari PT IU belum diterima sampai saat ini. Maka buktikanlah belum adanya penerimaan alat berat itu untuk dipertimbangkan. Percayakanlah kepada majelis hakim untuk menilai dan mempertimbangkan siapa yang benar," kata Arlandi Triyogo.

Arwan Koty membeli alat berat lunas dari PT IU dengan Perjanjian Jual Beli dan serahterimanya di Yard PT Indotruck Utama di Cakung, Jakarta Timur. Namun hingga kini alat berat tersebut tak kunjung diserahterimakan. PT IU berdalih dikirim ke Nabire, tetapi Arwan Koty tidak pernah pula menerimanya di sana.

Finy Fong yang mengklaim sebagai pelaksana lapangan pembelian alat berat dari PT Indotruck Utama (IU) tidak puas dengan usul hakim. "Majelis sebelumnya yang menawarkan konfrontir, sekarang kok majelis yang membatasi kami pencari keadilan melakukan upaya pencarian keadilan. Di mana keadilannya. Kalau begitu vonis saja sekarang suami saya bersalah tidak perlu lagi pakai alat bukti, tapi sesuai kehendak majelis hakim. Persidangan ini sudah tidak untuk keadilan lagi, Hal ini sudah dimulai sejak penyelidikan, Penyidikan terus ke praperadilan (hakim praperadilan Arlandi Triyogo juga) hingga persidangan saat ini," ujar Finy Fong  dari tempat pengunjung sidang.

Majelis hakim akhirnya menunda sidang dua pekan (7/7/2021) guna memberi kesempatan kepada terdakwa dan pembela menghadirkan saksi a de charge maupun ahli hukum.***

Editor : Markon Piliang