logo

Pembakar 2 Sekolah Di Kecamatan  Taniwel  Timur, Tindakan Premanisme

Yacob Nauly

Pembakar 2 Sekolah Di Kecamatan Taniwel Timur, Tindakan Premanisme

19 Juni 2021 15:44 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Yacob Nauly

Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit menginstruksikan Kapolda dan Kapolres di seluruh Indonesia  untuk melakukan tindakan tegas terhadap premanisme.

Instruksi Kapolri Listyo  tersebut berdasarkan  atensi khusus Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) agar Premanisme di Indonesia ditindak tegas (suarakarya.id edisi 12 Juni 2021).

 Gedung Perpustakaan SMP Sukaraja dibakar 5 Juni 2021. Dan, SD Negeri I Sukaraja terbakar pada 13 Juni 2021. Tindalan tersebut adalah aksi premanisme yang harus ditindak tegas sesuai instruksi Kapolri tersebut.

 Kedua sekolah terbakar  itu, berkedudukan di  kecamatan Taniwel Timur, kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Provinsi Maluku.

Pembakaran dua gedung sekolah tersebut membuat resah warga negeri-negeri (desa-desa) di sekitar tempat kejadian perkara (TKP). Antara lain negeri (desa) Sukaraja, Seakasale, Lumahpelu dan Makububui yang letaknya berdekatan hanya dipisahkan olah jalan raya dan sungai kecil.

Saling curiga warga desa mana yang melakukan aksi premanisme menjadi perhatian masyarakat di kecamatan Taniwel Timur tersebut. Masyarakat malah meminta agar pembakar dua sekolah itu sebelum digiring ke polisi berlaku hukum adat.  Seperti potong jari-jari pelaku, agar menjadi efek jera atau  pelajaran bagi warga  setempat.

Pembakaran dua gedung sekolah tersebut sama dengan aksi militan yang sering membuat teror untuk mengintimidasi masyarakat agar saling  mencurigai akhirnya bermusuhan.

Bayangkan, jumlah penduduk desa-desa di sekitarnya cukup banyak. Sementara  selama ini  masyarakat setempat yang berbeda agama dan suku hidup penuh toleransi. Karena, memang secara  kekerabatan warga setempat berlangsung aman dan damai turun - temurun.

Mengapa Kapolri menginstruksikan tindak tegas premanisme di Indonesia termasuk di Maluku. Karena,  premanisme ini menggunakan kekerasan  atau ancaman kekerasan  yang menimbulkan suasana teror. Atau menimbulkan rasa takut yang meluas.

Aksi premanisme ini bisa berakibat  kerusakan pada gedung atau fasilitas umum seperti sekolah-sekolah atau  objek vital lainnya yang strategis. Termasuk lingkungan hidup atau fasilitas publik lainnya.

Premanisme ini juga suatu tindakan atau aksi kejahatan menggunakan kekerasan  untuk menciptakan  iklim ketakutan secara umum dalam suatu lingkungan tertentu. Seperti lingkungan desa-desa yang sangat berdekatan yang bertujuan untuk menghasilkan tujuan politik tertentu.

Aksi kejahatan premanisme ini karena adanya ideologi legitimasi dan mengakar. Misalnya, premanisme ini  membolehkan untuk merusak fasilitas umum bahkan bisa menghilangkan nyawa orang lain demi untuk memenuhi keinginan mereka.

Pelaku premanisme ini memperbolehkan untuk membunuh dan  melakukan kekerasan. Maka, dengan ideologi atau prinsip seperti itu mereka tak ragu untuk meneror seperti membakar gedung sekolah dan lainnya.

Harus ditindak tegas aksi premanisme ini karena, akan memberi dampak kepada sektor investasi dan perekonomian di suatu daerah. Kemudian, seperti misalnya  pembakaran fasilitas umum  dua gedung sekolah di Taniwel Timur ini muncul saling curiga antar penduduk desa. Maka, tentunya, ini sangat merugikan warga setempat.

Masyarakat pun diminta membantu aparat kepolisian setempat untuk melaporkan kegiatan para tamu yang tak dikenal masuk ke desa-desa ini. Bagi tamu-tamu yang  pendatang baru wajib melaporkan diri pada aparat desa setempat.

Hal ini, untuk memutus pergerakan  premanisme yang mungkin datang dari luar desa-desa setempat. Ini, penting karena para preman ini tak ingin melihat Indonesia bebas dari ancaman teror. Mereka menginginkan negara kita termakan  isu menyesatkan agar terjadi kerusakan di mana-mana.

Kapolri Jenderal  Listyo Sigit  menjelaskan negara takkan kalah dengan aksi premanisme. Oknum premanisme segera ditangkap dan diproses ke pengadilan.

Kapolri Jenderal Listyo, mengimbau masyarakat untuk  berperan aktif melaporkan kepada polisi, jika ada kasus  premanisme melalui  hotline 110. Kapolri, mengatakan layanan tersebut aktif 24 jam bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan dari aparat kepolisian.

Kapolri, mengingatkan masyarakat di seluruh Indonesia termasuk di Taniwel Timur, tentunya, untuk tetap tenang. Dan, jangan khawatir karena setiap permasalahan di lapangan, seperti pembakaran dua  gedung sekolah itu akan tetap diproses. Itu, terbukti dengan telah dipasangnya garis polisi  (police line) di tempat kejadian perkara (TKP).

Kapolri dalam hal ini telah menginstruksikan seluruh Kapolda  untuk tidak memberikan ruang bagi preman  yang melakukan  aksi premanisme. Bahkan Kapolri Listyo, menginstruksikan agar polisi mempublikasikan  atau merilis setiap penangkapan preman tujuannya untuk  memberangus atau membuat efek jera kepada preman.

Pembakaran  Sekolah Di Taniwel Timur

 Pelaku Pembakaran  sebagian ruangan  kelas Sekolah  Dasar Negeri (SDN) I Sukaraja dan  gedung Perpustakaan SMP Negeri setempat (Sukaraja,Red),kecamatan Taniwel Timur , kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) Provinsi Maluku,   hingga  Sabtu  (19/6/2021) belum ditangkap Polisi.

Padahal Pembakaran gedung Perpustakaan SMP Negeri  Sukaraja tersebut  sudah terjadi pada 5 Juni 2021 lalu.

Berselang hanya 8 hari kemudian tepatnya 13 Juni 2021, SDN I Sukaraja,  juga terbakar sejumlah ruangannya. Anehnya, hingga  saat ini  tak satu pun pelaku, yang diduga membakar dua  Lembaga Pendidikan itu ditangkap polisi.

Keluhan warga atau masyarakat  Taniwel Timur SBB, diungkapkan melalui facebook yang tersiar ke mana-mana.

 Pasalnya, warga kecamatan Taniwel Timur mengeluh dan kecewa karena  pelaku diduga membakar dua lembaga pendidikan itu belum ditanggapi.   

Suarakarya.id, menghubungi salah seorang Guru SMP Negeri Sukaraja, Rizard Tibali, S.Pd , terkait pembakaran gedung Perpustakaan  tersebut, ia membenarkannya.

“Ia, benar, gedung Perpustakaan SMP Negeri Sukaraja terbakar. Gedung Perpustakaan itu  bersama buku-buku penting yang biasanya digunakan untuk proses belajar mengajar di sekolah ini ludes terbakar,”kata Tibali.

Ia, berharap pelaku diduga membakar perpustakaan itu segera ditangkap untuk diproses ke pengadilan. Karena akibat perbuatannya, anak-anak didik dan para guru kesulitan mendapatkan buku-buku penting  untuk kebutuhan belajar mengajar.

Dihubungi secara terpisah Guru SDN I Sukaraja, Ronaldo Elake S.Pd, menjelaskan, sebagian ruangan belajar mengajar sekolah ini terbakar. “Akibat terbakarnya beberapa ruangan belajar mengajar itu akan memperlambat belajar tatap muka ketika digelar dalam waktu dekat ini,” kata Elake.

Menurutnya, sejumlah  ruangan belajar mengajar SDN I, itu terbakar  pada 13 Juni  2021 pukul 3. 00 siang  Waktu Indonesia Timur (WIT). Untung ,lanjut Elake, warga sekitarnya  bergerak cepat memadamkan api. Kalau tidak, pasti seluruh gedung  hangus  terbakar.

“Karena itu, masyarakat dan orang tua siswa meminta polisi segera menangkap terduga pembakar  dua gedung lembaga pendidikan itu. Kalau pelakunya tak ditangkap, ditakutkan  kejadian ini bisa berulang di masa datang,”katanya.

Masyarakat Taniwel Timur, meminta  aparat kepolisian segera menangkap pelaku pembakaran dua gedung sekolah tersebut. Itu,  sesuai instruksi Kapolri Jenderal Polisi  Listyo Sigit terkait tindakan tegas  terhadap premanisme di Indonesia. ***

* Yacob Nauly - Wartawan Utama  UKW Dewan Pers, Wartawan suarakarya.id dan Jurnalis Ubahlaku