logo

Menelusuri Pantai Bulukumba, Menko PMK Dorong Pemberdayaan Petani Rumput Laut

 Menelusuri Pantai Bulukumba, Menko PMK Dorong Pemberdayaan Petani Rumput Laut

Menko PMK Muhadjir Effendy (membungkuk) menyapa anak-anak petani rumput laut.(foto,ist)
10 Juni 2021 18:39 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - BULUKUMBA: Budidaya rumput laut menjadi pilihan kegiatan ekonomi masyarakat pesisir, termasuk di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Sayangnya, kehidupan petaninya belum sepadan dengan potensi keuntungan ekonomi, dari hasil budidaya rumput laut itu.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy secara informal, saat menelusuri pantai di sekitar menara suar Bulukumba, berbincang dengan para nelayan dan petani rumput laut, di sana, Kamis (10/6/2021).

Menko PMK menghamopiri dan menyentuh rumput laut, yang baru dipanen dan masih dalam perahu. Dia menanyakan suka duka menjadi petani rumput laut, pada sorang petani rumput laut. Dia juga menemui ibu-ibu yang tengah menjemur rumput laut.

Data Pemerintah Provinsi Sulsel menunjukan, produksi rumput laut di Kabupaten Bulukumba pada tahun 2016 sebanyak 158.440 ton atau sekitar 6,71 persen dari total produksi rumput laut di provinsi tersebut. Seperti diketahui, rumput laut memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, karena merupakan salah satu komoditas ekspor andalan Indonesia.

Namun, dari hasil perbincangan dan penelusuran Menko PMK selama sekitar satu jam. Dia mendorong Pemerintah Daerah Kabupaten Bulukumba, agar lebih memberdayakan para petani, khususnya petani rumput laut yang ada di kawasan pesisir.

"Tolong berdayakan petani, terutama petani rumput laut karena pantai di Bulukumba ini bagus, bersih, panjang, kemudian kandungan airnya juga sangat memungkinkan, sangat cocok untuk rumput laut," tuturnya.

Menko PMK berada di Kabupaten Bulukumba, dalam rangka memberikan orasi ilmiah, di acara Wisuda Universitas Muhammadiyah Bulukumba, Sulsel. Dia menceritakan berdasarkan pantauannya langsung di pesisir pantai Bulukumba, dia melihat kegigihan dan kerja keras masyarakat pesisir.

Termasuk, para petani rumput laut yang sedang memanen hasil budidaya dan juga para nelayan. "Para petani rumput laut dan nelayan di Bulukumba ini pekerja keras, pagi-pagi sudah memanen rumput lautnya, memanen ikan. Saya tanyakan berapa harga rumput lautnya kalau dijual, ternyata hanya Rp15 ribu per kilogram," tuturnya.

Dikemukakannya, dibandingkan dengan harga impor 'plastik' pembungkus makanan olahan seperti sosis bisa mencapai Rp 1 juta per kilogram. "Harga bahan baku rumput laut di Kabupaten Bulukumba ini sangat rendah," ujarnya.

Faktanya, lanjutnya, bahan dasar plastik pembungkus makanan olahan itu, justru rumput laut yang diekspor Indonesia ke Jerman. "Jadi bayangkan kalau kita makan nugget (sosis) itu rumput lautnya dari Indonesia tapi bikinnya di Jerman. Kita mengekspor rumput laut, kembali pulang ke Indonesia sudah dalam bentuk 'plastik' pembungkus sosis," terangnya.

Sementara, saat menyampaikan orasi ilmiah, Menko PMK mengajak seluruh sivitas akademika perguruan tinggi, khususnya Universitas Muhammadiyah Bulukumba, untuk mengambil peran.

Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama para petani rumput laut. Dia menyebut, rumput laut merupakan komoditas yang sangat menjanjikan. Rumput laut bukan hanya komoditas lokal, tapi komoditas internasional dengan nilai ekspor yang sangat tinggi, karena termasuk jenis bahan yang multiguna. Seperti untuk bahan olahan makanan hingga bahan kosmetik.

"Bagaimana bisa mereka (petani rumput laut) menghasilkan bahan yang bagus untuk ekspor, tapi kok mereka masih miskin itu pasti ada yang salah. Ini merupakan tanggung jawab kita, tanggung jawab Universitas Muhammadiyah Bulukumba dan juga tentu alumni-alumninya," tutur Menko PMK menegaskan.

Dia meyakinkan apabila perguruan tinggi mau peduli dan menaruh perhatian besar terhadap upaya kemajuan daerah masing-masing, Indonesia akan mampu menjadi negara maju dengan masyarakatnya yang hidup makmur dan sejahtera.

"Cobalah itu rumput laut dipelajari betul mulai dari hulunya, petaninya sampai mata rantai _supply chains_ nya sampai nanti ke tangan terakhir pemroduksi itu. Kalau bisa jangan dilepas begitu saja, tapi betul-betul diatur sedemikian rupa. Sehingga, keuntungan yang diperoleh para petani ini juga memadai," ungkap Menko PMK.***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto