logo

Nadiem: PTM Terbatas Bukan Sekolah 'Biasa', Jokowi: Harus Ekstra Hati-Hati!

Nadiem: PTM Terbatas Bukan Sekolah 'Biasa', Jokowi: Harus Ekstra Hati-Hati!

Jokowi dan Nadiem. (Kolase YouTube)
10 Juni 2021 16:30 WIB
Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menyatakan bahwa pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas, yang akan dimulai Juli mendatang, tidak sama seperti sekolah tatap muka biasa. 

Hal ini ditegaskannya untuk meluruskan mispersepsi yang terjadi di sejumlah pemberitaan terkait pelaksanaan PTM terbatas. “Apa yang Bapak Presiden (Jokowi) sampaikan pada Senin (07/06/2021) lalu benar bahwa pembelajaran yang kita upayakan bersama adalah tatap muka terbatas. Sekali lagi, terbatas,” tekan Nadiem di Kantor Kemendikbudristek, Jakarta, Rabu (09/06/2021).

Sebelumnya Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin usai mengikuti Rapat Terbatas yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Jakarta, Senin (07/06/2021) mengatakan, Presiden menginstruksikan agar penyelenggaraan pembelajaran tatap muka (PTM) dilakukan secara terbatas dan penuh kehati-hatian. Hal ini mengingat lonjakan kasus Covid-19 yang melanda sejumlah daerah belakangan ini.

“Bapak Presiden tadi mengarahkan bahwa pendidikan tatap muka yang nanti akan dimulai itu harus dijalankan dengan ekstra hati-hati. Tatap mukanya dilakukan tatap muka terbatas,” ujarnya dalam video di  kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Presiden Jokowi memberikan contoh praktik baik dalam melaksanakan PTM terbatas. Yakni, satuan pendidikan dapat mengatur satu kelas hanya diisi 25 persen murid, kegiatan belajar mengajar hanya dua jam dan satu minggu hanya 2 kali pertemuan.

Sesuai arahan Presiden Jokowi terdebut maka pembelajaran tatap muka akan dilaksanakan secara terbatas. Selain itu, pembelajaran tatap muka juga bersifat sukarela. Artinya, orangtua yang akan menentukan boleh tidaknya murid hadir ke sekolah. 

"Opsi untuk menghadirkan anak ke sekolah adalah ditentukan oleh orangtua," ungkap Budi pula.

Menurut Menteri Nadiem, seperti diisampaikan Presiden Jokowi, sekolah yang sudah atau dalam proses melakukan PTM terbatas dengan durasi belajar dan jumlah murid berbeda tetap diperbolehkan selama mengikuti protokol kesehatan dan di bawah batas maksimal yang tercantum dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19.

Oleh sebab itu, ditegaskan Mendikbudristek, “Tidak ada perubahan dalam SKB. SKB tersebut menuangkan aturan maksimal. Sekolah bisa menerapkan PTM terbatas dengan sedikit demi sedikit."

Mengacu SKB 4 Menteri

Sebagaimana diketahui bahwa sekitar 30% satuan pendidikan telah melakukan PTM terbatas sesuai situasi dan kondisi masing-masing. Sebagian baru memulai PTM terbatas beberapa bulan terakhir, ada pula yang sudah melakukan PTM terbatas sejak tahun lalu.

“Seperti halnya para guru, orangtua, dan murid yang saya dengar langsung keluhannya dalam melakukan pembelajaran jarak jauh, Bapak Presiden juga menyampaikan kepeduliannya,” kata Nadiem dikutip dari laman resmi Kemendikbudristek, Kamis (10/06/2021).

Presiden menyampaikan bahwa pembelajaran jarak jauh pada kenyataannya menyulitkan anak, orangtua, dan guru. “Beliau menyampaikan, kita harus memiliki keberanian untuk mendorong PTM terbatas yang tentu saja disertai penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat,” ujar Nadiem pula.

Nadiem menjelaskan pernyataan Jokowi beberapa waktu lalu hanya menekankan bahwa belajar tatap muka di sekolah dilakukan dengan sangat terbatas di tengah pandemi. Ia menyebut tak ada perubahan dalam aturan SKB 4 Menteri terkait pelaksanaan sekolah tatap muka, Juli mendatang. 

SKB 4 Menteri ditandatangani Mendikbudristek Nadiem Makarim, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas, dan Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Poin penting dalam SKB 4 Menteri itu menyatakan, setiap sekolah wajib memberikan layanan belajar tatap muka terbatas, setelah seluruh pendidik dan tenaga kependidikan menerima vaksin Covid-19.

Sebelumnya, Kemendikbudristek dan Kementerian Agama (Kemenag) telah menerbitkan Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (PAUD Dikdasmen) di Masa Pandemi Covid-19 yang dapat membantu kelancaran penyelenggaraan PTM Terbatas. Panduan itu sendiri dapat diunduh di laman bersamahadapikorona.kemdikbud.go.id atau spab.kemdikbud.go.id.

Mengacu pada panduan yang ditetapkan Kemendikbudristek, diatur jumlah maksimal siswa maksimal 18 orang per kelas untuk jenjang SD-SMA dan 5 siswa per kelas untuk sekolah luar biasa dan PAUD.

Sementara jumlah hari dan jam belajar di sekolah ditentukan oleh satuan pendidikan dengan mengutamakan kesehatan dan keselamatan warga sekolah. ***

Editor : Pudja Rukmana