logo

Mantan Jenderal Bintang Dua Ternyata Dibalik Lahirnya Partai Prima

Mantan Jenderal Bintang Dua Ternyata Dibalik Lahirnya Partai Prima

Mayor JenderaL TNI (Purn) R. Gautama Wiranegara
10 Juni 2021 14:47 WIB
Penulis : Muhajir

SuaraKarya.id - JAKARTA: Mayor JenderaL TNI  (Purn) R Gautama Wiranegara ternyata sosok di balik lahirnya Partai Rakyat Adil Makmur (Prima). Parpol yang terlahir dari gagasan generasi muda itu saat ini terus melebarkan sayapnya ke daerah.

Sosok yang menapaki karir politik di dunia intelijen ini menuturkan bahwa pada prinsipnya dirinya terjun di dunia politik bukan untuk berpolitik praktis. Akan tetapi karena kedekatannya dengan Ketua Umum Partai Prima yang memiliki visi yang sama dalam melihat situasi negara saat ini.

Menurutnya, banyak rakyat yang tertindas dan hak-haknya tidak diberikan pemerintah. Padahal, berdasarkan amanat undang-undang bahwa sumber daya alam dan segala isinya untuk kepentingan rakyat, tapi sekarang tidak jelas untuk kepentingan siapa.

Berangkat dari persoalan itu,  Mayjen (Purn) R Gautama merasa terpanggil untuk memperjuangkan hak rakyat. Oleh karena itu, melalui Partai Prima ini pihaknya berkomitmen untuk memperjuangkan hak-hak rakyat. Karena dia tahu betul bahwa partai yang dilahirkannya, 99 persen merupakan rakyat biasa.

"Partai politik adalah alat perjuangan dan kiprah kita melalui partai politik menunjukkan bahwa kita memiliki semangat untuk terus dan selalu berjuang mewujudkan cita-cita bangsa," ujar mantan jenderal bintang dua ini.

Namun demikian, kata Gautama, untuk menentukan sikap kemana arah partai politik dalam mewarnai dinamika perpolitikan nasional pihaknya tetap menjaga moral dan etika politik, dan itu akan dipertahankan sesuai dengan visi misi Partai Prima.

Lebih lanjut kata dia, dalam  politik tidak mengenal pangkat, dan dari mana asal -usul jabatannya. Di Partai Prima, ia sudah membuktikan. Karena, membangun partai harus kerja keras dan menjunjung tinggi etika politik yang santun. 

"Dengan membangun partai dari bawah, itu lebih terhormat daripada mengkudeta partai yang sudah ada.  Karena, dalam etika politik, tindakan itu amat sangat memalukan," tegasnya. ***

Editor : Pudja Rukmana