logo

Hakim Tunda Sidang Tanpa Kehadiran Seorang Pun Jaksa

Hakim Tunda Sidang Tanpa Kehadiran Seorang Pun Jaksa

sidang tanpa kehadiran jaksa
10 Juni 2021 11:01 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Persidangan kasus dugaan laporan bohong dengan terdakwa Arwan Koty dibuka tanpa kehadiran JPU Abdul Rauf SH dari Kejaksaan Agung dan jaksa Sigit Hendradi SH dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan, Rabu (9/6/2021), di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan.

"Jaksa tidak hadir, maka sidang ditunda dengan agenda sama konfrontir pada persidangan berikutnya pekan depan," kata Ketua Majelis Hakim Arlandi Triyogo SH MH seraya mengetukkan palunya pada sidang singkat tanpa seorang pun jaksa duduk di kursi JPU.

Padahal, beberapa saat sebelum sidang penundaan itu dibuka (pukul 17.30 WIB), jaksa pengganti Sigit SH mengabari pihak terdakwa akan sidang pukul 15.00 WIB dengan agenda sidang konfrontir saksi Susilo, Sales Marketing PT Indotruck Utama (IU) dengan saksi istri terdakwa Arwan Koty, Finy Fong.

"Kami tiba-tiba dikabari Pak Jaksa Sigit Hendradi SH bahwa yang bersangkutan dipanggil pimpinannya ke Kejaksaan Agung," ungkap Finy Fong, saksi yang mau dikonfrontir dengan Susilo.

Penasihat hukum Arwan Koty, Aristoteles Siahaan SH, menyatakan kaget sekaligus tanda tanya dengan penundaan sidang yang tiba-tiba tersebut. "Kami sampai di PN Jakarta Selatan pukul 14.30 WIB, bahkan beberapa saat setelah itu, masih dikabari jaksa bahwa sidang bakal digelar dengan agenda konfrontir. Betul-betul mengagetkan kami kalau akhirnya sidang ditunda dengan alasan jaksa dipanggil pimpinan," kata Aristoteles. Maka digelarlah persidangan beragendakan penundaan tanpa kehadiran seorang pun jaksa. Ini tidak lazim. Biasanya, ada saja jaksa yang siap dengarkan penundaan dari hakim.

Menanggapi penundaan sidang yang mendadak itu, saksi Finy Fong yang sedianya dikonfrontir dengan Susilo melontarkan kekecewaannya terhadap jaksa dan majelis hakim. Ketua Majelis Hakim Arlandi Triyogo SH MH yang sebelumnya menolak permohonan praperadilan Arwan Koty terkait perkara sama selama ini berusaha menekankan persidangan cepat-cepat termasuk pemeriksaan terdakwa. Kenyataannya majelis dan jaksa yang menunda-tunda. "Di mana equality before the law (persamaan hak di hadapan hukum) dalam penanganan kasus ini. Apakah equality before the law itu berlaku hanya bagi kalangan the have?," tanya Finy.

Dia menyebutkan semakin berlarut-larut persidangan maka semakin lama suaminya (Arwan Koty) menyandang status terdakwa dan mereka terpaksa menyendiri dengan status terdakwa karena malu dengan keluarga serta terhadap kawan-kawannya.

Finy menyebut hanya karena kasus dugaan laporan palsulah Arwan Koty atau suaminya jadi terdakwa. "Mengapa saya bilang laporan palsu, karena dalam pengaduan ke Mabes Polri saksi korban Bambang Prijono menyebutkan laporan Arwan Koty ke Polda Metro Jaya sudah tahap penyidikan. Kenyataannya masih tahap penyelidikan terus dihentikan. Di mana di KUHAP ada diatur tahap penyelidikan dapat dibuat ditersangkakan seseorang?? Saya butuh pencerahan hukum dari Ketua Majelis Hakim," tanya Finy Fong kemudian menyebutkan bahwa pengaduan Bambang Prijono yang masih tahap penyelidikan namun disebutkan penyidikan itu tidak saja telah berdampak hukum hingga Arwan Koty jadi tersangka bahkan sekarang duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa, juga berdampak bagi keluarganya bahkan pada   bisnisnya karena nama baiknya tercemar.

Arwan Koty dilaporkan ke  Mabes Polri oleh saksi korban Bambang Prijono atas dasar dugaan laporan bohong dan merusak citra PT Indotruck Utama. Padahal, Arwan Koty melapor ke Polda Metro Jaya karena satu unit alat berat yang dibelinya lunas dari PT Indotruck Utama tidak kunjung diterima hingga saat ini. Begitupun, laporan tersebut dihentikan pada tahap penyelidikan atau belum ada ditetapkan tersangka dari pihak PT Indotruck Utama. Dengan belum ada tersangkanya, siapa yang telah menjadi korban dan siapa yang tercemar nama baiknya. ***

Editor : Pudja Rukmana