logo

Ganda Putri Ingin Sumbang Medali di Olimpiade Tokyo

Ganda Putri Ingin Sumbang Medali di Olimpiade Tokyo

Apriyani Rahayu, belum pernah tampil di Olimpiade. (Foto: Dok PBSI)
09 Juni 2021 10:03 WIB
Penulis : Markon Piliang

SuaraKarya.id - JAKARTA: Satu-satunya wakil Indonesia di sektor ganda putri pada Olimpiade Tokyo 2020, pasangan Greysia Polii/Apriyani Rahayu bertekad menyumbang medali. Baik itu medali emas, perak, maupun perunggu.

Untuk mencapai target tersebut, Greysia/Apriyani sedang fokus mematangkan persiapan menuju Olimpiade yang akan berlangsung 23 Juli-8 Agustus mendatang.

Kendati digenjot latihan, sang pelatih Eng Hian meminta kedua pemain tersebut tidak terlalu tertekan dan terus menjaga ekspektasi.

"Untuk sisi fisik mereka sudah siap, tetapi ini kan turnamen besar di olahraga bukan hanya bulutangkis dan digelar pun hanya empat tahun sekali. Jadi saya menaruh perhatian lebih pada masalah nonteknisnya," ujar Eng Hian di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (8/6/2021).

"Bagaimana saya bisa menjaga mereka tidak berada di bawah tekanan atau terlalu berekspektasi tinggi, saya buat serileks mungkin seperti turnamen biasa saja," lanjutnya.

Dia mengatakan bahwa dirinya juga meminta bantuan tim psikolog di PBSI untuk mendampingi Greysia/Apriyani sejak saat ini hingga hari pertandingan tiba.

"Saya juga meminta bantuan psikolog untuk membuat program serta mendampingi Greys/Apri, agar kondisi mental mereka tetap bagus dan terjaga. Juga agar mereka selalu bisa mengikis ketegangan saat pertandingan di lapangan atau saat di luar lapangan," ucap peraih medali perunggu Olimpiade Athena 2004 bersama Flandy Limpele itu.

"Saya pernah merasakan bagaimana tegangnya bermain di Olimpiade. Tegangnya bukan hanya di lapangan tapi kadang sebelum tidur juga ada rasa tegang dan kalau tidak bisa mengatasinya bisa merugikan. Itu yang saya tidak mau terjadi pada mereka, terutama Apri yang baru kali ini turun di Olimpiade," lanjut Didi, sapaan akrab Eng Hian.

Greysia/Apriyani yang saat ini berada di peringkat enam dunia dipastikan turun di Olimpiade tanpa turnamen pemanasan. Turnamen terakhir yang diikuti mereka adalah Yonex Thailand Terbuka dan Toyota Thailand Terbuka, Januari lalu.

Di All England, Greysia/Apriyani gagal tanding karena seluruh tim Indonesia dipaksa mundur kala itu. Sementara Malaysia dan Singapura Terbuka yang rencananya menjadi turnamen antara sebelum ke Tokyo juga batal digelar karena pandemi Covid-19 yang kembali mengganas.

"Pasti ada pengaruhnya pembatalan turnamen-turnamen itu, terutama untuk kondisi mentalnya. Sebagai atlet kan butuh suasana kompetisi untuk mencoba hasil latihan. Begitu juga pelatih, untuk bisa menilai hasil latihan ini efektif atau tidak. Tetapi nyatanya tidak ada ajang untuk melakukan itu," kata Didi. ***