logo

Birokrasi

Birokrasi

07 Juni 2021 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Birokrasi menjadi komponen penting bagi penyelenggaraan pemerintahan, baik di pusat dan daerah. Oleh karena itu, beralasan jika birokrasi menjadi kunci sukses dalam model operasional termasuk juga tentu berkaitan dengan pelayanan publik.

Era otda tidak dapat terlepas dari kepentingan birokrasi, baik di daerah baru pemekaran atau induk daerahnya sehingga birokrasi menjadi nadi dalam sukses penyelenggaraan aparatur itu sendiri. Hal ini memberikan gambaran bahwa euforia pemekaran berdampak terhadap penambahan birokrasi, tentu juga ASN-nya dan alokasi anggaran untuk belanja pegawai - ASN.

Jika kemudian dalam perkembangan otda dan juga euforia pemekaran daerah akhirnya justru ditandai dengan semakin banyaknya alokasi anggaran untuk pos belanja pegawai maka daya serap perpajakan di daerah yang bermuara untuk memacu penerimaan PAD justru menjadi rancu karena tidak relevan dengan spirit otda itu sendiri. Oleh karena itu, beralasan jika pemerintah dalam 5 tahun terakhir telah menghentikan pengangkatan PNS sebagai upaya mereduksi terjadinya inefisiensi birokrasi dan mengoptimalkan birokrasi, selain sebagai langkah strategis untuk mengurangi belanja pegawai yang semakin boros. Hal ini mengindikasikan telah terjadi peningkatan rasio yang tidak dibarengi kinerja dan profesionalisme. Indikasinya yaitu masih lambannya pelayanan yang diberikan birokrasi kepada masyarakat. Fakta lain yang ironis adalah terjadinya pelibatan sejumlah birokrasi dalam berbagai kasus korupsi, baik di pusat atau di daerah.

Adanya berbagai temuan tentang kasus korupsi secara tidak langsung menjadi pembenar bahwa budaya - tradisi suap, pungli dan berbagai turunan KKN memang benar adanya dan telah merasuk di semua sendi kehidupan di jajaran birokrasi republik ini yang katanya demokratis. Yang juga mencemaskan ternyata budaya tradisi itu kian marak di era otda. Pengamatan empiris menyatakan pemberlakuan era otda justru memicu distorsi dan high cost economy. Padahal, distorsi dan high cost economy tidak bisa terlepas dari suap, pungli dan berbagai turunan KKN. Selain itu, upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan penerimaan ternyata tidak diikuti upaya meningkatkan pelayanan publik. Ironisnya porsi terbesar dari penerimaan itu akhirnya justru dialokasikan kepada belanja pegawai. Jadi, benar adanya jika kemudian pemerintah mulai melakukan upaya perampingan birokrasi, tidak hanya di pusat tapi juga sampai ke daerah secara kontinu.

Sinergi kuantitas dan kualitas birokrasi, Bank Dunia menyebut bahwa stabilitas ekonomi makro, tingkat korupsi, birokrasi, dan kepastian kebijakan ekonomi adalah empat faktor penting untuk menilai prospek pemerintahan suatu negara. Terkait kasus ini, Menkeu Sri Mulyani meminta dukungan dari pelaku usaha untuk tidak memanjakan dan merusak birokrasi di pemerintahan melalui pemberian suap. Birokrat memang bukan malaikat, jika terus digoda suap, mereka juga bisa tergoda. Oleh karena itu, penerapan reformasi birokrasi dan kebijakan zero tolerance of corruption di semua departemen dan juga di berbagai daerah harus ditingkatkan, mulai dari provinsi sampai kabupaten/kota.

Relevan dengan kuantitas dan kualitas birokrasi di era otda, bahwa perbaikan terhadap perekonomian hanya bisa terwujud jika ada komitmen bersama untuk membenahi secara fundamental attitude, mindset, dan juga kultur semua pihak, karena dalam banyak kasus, praktik suap atau pemberian amplop dilegitimasi oleh kultur (budaya) yang ada. Terkait ini, birokrasi sendiri sering dihadapkan pada situasi di mana aspek kepercayaan kepada institusi publik begitu rendah. Artinya sangatlah sulit untuk dapat memperbaiki ekonomi jika birokrasi dan institusi publik ternyata justru menjadi bagian dari sumber masalah dan bukannya bagian dari solusi atas persoalan yang muncul. Jadi, disinilah pentingnya profesionalisme birokrasi dan reformasi birokrasi yang kemudian menjadi tantangan di tahun 2021. ***

  • Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo