logo

Pokja Satgas BLBI Dillantik, Siap Kejar Pengemplang BLBI Sampai LN

Pokja Satgas BLBI Dillantik, Siap Kejar Pengemplang BLBI Sampai LN

Foto: Dok Kemenkeu.
04 Juni 2021 17:52 WIB
Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Rionald Silaban selaku Ketua Satuan Tugas Penanganan Hak Tagih Negara Dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (Satgas BLBI), melantik Kelompok Kerja (Pokja) Satgas BLBI dan Sekretariat di Aula Djuanda I Kemenkeu, Jakarta, Jumat (04/06/2021).

Pelantikan Pokja dan Sekretariat merupakan bagian tindak lanjut dari Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 6 Tahun 2021 tentang Satuan Tugas Penanganan Hak Tagih Negara Dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Pokja Satgas BLBI akan bertugas sejak tanggal pelantikan sampai dengan 31 Desember 2023.

Pelantikan disaksikan oleh Pengarah dan Pelaksana Satgas BLBI. Mereka adalah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, Perwakilan Jaksa Agung, yakni Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara, serta Perwakilan Kapolri yakni Badan Reserse Kriminal Polri. 

Pelantikan juga dihadiri Perwakilan Menko Bidang Perekonomian, Perwakilan Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Perwakilan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM), Perwakilan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR BPN), Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

“Tidak ada yang bisa bersembunyi karena ada daftar jadi kami tahu. Kami akan bekerja untuk negara. Kalau ada terjadi pembangkangan meskipun ini perdata, bahwa kalau sengaja melanggar, ini bisa saja berbelok ke pidana, karena kalau dia memberi bukti-bukti palsu, atau selalu ingkar, bisa dikatakan itu, satu, merugikan negara, dua, memperkaya diri sendiri atau orang lain, sehingga hukumnya bisa berbelok ke korupsi,” kata Menkopolhukam Mahfud MD.

"Di internasional kita juga punya UNCAC, itu bisa dipakai. kerja sama antarnegara untuk memberantas korupsi," ujarnya, seperti dikutip dari laman resmi Kemenkeu. 

Satgas BLBI dibentuk dalam rangka penanganan dan pemulihan hak negara berupa hak tagih negara atas sisa piutang negara dari dana BLBI maupun aset properti. Satgas BLBI berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Pembentukan Satgas BLBI bertujuan untuk melakukan penanganan, penyelesaian, dan pemulihan hak negara yang berasal dari dana BLBI secara efektif dan efisien, berupa upaya hukum dan/ atau upaya lainnya di dalam atau di luar negeri, baik terhadap debitur, obligor, pemilik perusahaan serta ahli warisnya maupun pihak-pihak lain yang bekerja sama dengannya.

"Tadi yang disampaikan oleh Pak Menko adalah sangat penting, (bahwa) kami tidak bekerja sendirian dari Kementerian Keuangan, namun bersama-sama dengan instansi-instansi lain. Sehingga, tadi Pokja-nya mencerminkan pendekatan, meskipun perdata namun tegas dan lengkap, yaitu dari data dan informasi, kemudian pelacakan, dan yang terakhir penagihan serta litigasi. Ini akan dilakukan bersama-sama dengan kerja sama seluruh instansi yang terlibat,” ungkap Menkeu Sri Mulyani.

Sesuai Keppres Nomor 6 Tahun 2021, Pokja Satgas BLBI terdiri dari Pokja Data dan Bukti, Pokja Pelacakan, dan Pokja Penagihan dan Litigasi. Tercatat 26 orang Satgas Pokja Data dan Bukti terdiri dari perwakilan Kemenkeu, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dan Kemenkopolhukam. 

Tugas Pokja Data dan Bukti antara lain melakukan pengumpulan data dan dokumen, melakukan verifikasi dan klasifikasi data dan dokumen, serta melakukan tugas lain dalam rangka penyediaan data dan dokumen terkait debitur/obligor, jaminan, harta kekayaan lain, perjanjian atau dokumen perikatan lainnya dan data/dokumen lain sehubungan penanganan hak tagih BLBI.

Adapun ke-26 orang Satgas Pokja Pelacakan terdiri dari perwakilan Badan Intelijen Negara (BIN), Kemenkeu, Kementerian ATR/BPN, Kementerian Hukum dan HAM, dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Tugas Pokja Pelacakan antara lain melakukan pelacakan dan penelusuran data debitur/ obligor, jaminan, harta kekayaan lain, dan melakukan koordinasi dan kerja sama dengan pihak-pihak lain, di dalam dan luar negeri, dalam rangka mendukung keberhasilan upaya penagihan dan tindakan hukum yang diperlukan dalam  pengembalian dan pemulihan piutang negara dana BLBI, baik terhadap debitur, obligor, maupun ahli warisnya.

Sedangkan 24 orang Satgas Pokja Penagihan dan Litigasi terdiri dari perwakilan Kejaksaan RI, Kemenkeu, dan Kemenkopolhukam. Tugas Pokja Penagihan dan Litigasi antara lain melakukan upaya penagihan, tindakan hukum/upaya hukum yang diperlukan dalam pengembalian dan pemulihan piutang dana BLBI baik di dalam maupun di luar negeri, melakukan tindakan hukum lainnya/upaya hukum lainnya yang diperlukan dalam menghadapi upaya penyembunyian, pelepasan, pengalihan hak atau aset untuk menghindarkan kewajiban pengembalian dan pemulihan piutang negara dana BLBI.

Dalam pelaksanaan tugas, Satgas BLBI akan dibantu oleh Sekretariat, yang terdiri dari 1 ketua dan 2 wakil ketua dan berkedudukan di Kemenkeu. Tugas sekretariat antara lain memberikan dukungan teknis dan administratif kepada Pelaksana Satgas, melakukan koordinasi-koordinasi dan menyampaikan laporan terkait penanganan hak tagih negara dana BLBI kepada Ketua Satgas. Adapun keanggotaan Sekretariat Satgas BLBI terdiri dari unsur Kemenkeu dan Kemenkopolhukam.

Rp110 Triliun Lebih

Penunjukan DJKN Kemenkeu Rionald Silaban sebagai Ketua Satgas Penanganan Hak Tagih Negara Dana BLBI dituangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 6 Tahun 2021 tentang Satgas Penanganan Hak Tagih Negara Dana BLBI. Beleid dikeluarkan pada 6 April 2021. 

Jokowi membentuk Satgas BLBI karena nilai aset dana BLBI yang seharusnya kembali ke negara terbilang besar. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan HAM Mahfud MD mencatat nilai aset dana BLBI yang dapat dikembalikan ke negara mencapai Rp110,45 triliun.

Rincian aset dana BLBI tersebut berupa tagihan berbentuk kredit sebanyak Rp101 triliun, properti lebih dari Rp8 triliun, dan sisanya berupa mata uang asing dan saham.

Sebelum resmi dilantik menjadi Ketua Satgas BLBI, Rio - panggilan akrab DKJN - pernah menyatakan akan terus mengejar dana BLBI meski harus sampai ke luar negeri. Rio mencatat ada 22 obligor yang terlibat dan menjadi incaran pemerintah dan debitur dengan jumlah cukup banyak.

"Pada dasarnya pemerintah akan menagih, sehingga kalau pun kita harus menagih dan mengejar aset ke luar negeri, itu akan kita lakukan," ujar Rio, beberapa waktu lalu, dikutip dari CNNIndonesia.

Rio sendiri sebenarnya baru dilantik menjadi DJKN Kemenkeu oleh Menkeu Sri Mulyani, 12 Maret 2021. Sebelumnya, ia menduduki jabatan Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK). Sebagai DJKN, Rio menggantikan Isa Rachmatarwata yang ditarik menjadi Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu.

Yang menarik, Menkeu Sri Mulyani sempat menyebut Rio sebagai 'orang terkaya di Indonesia'. Hal ini karena tugasnya sebagai pengelola aset negara yang nilainya mencapai Rp6.000 triliun lebih.

"Saya terima kasih ke Pak Isa yang sudah terlanjur terkenal sebagai 'orang terkaya' di Indonesia. Hari ini terpaksa statusnya berganti oleh Pak Rio (Rionald Silaban) yang sebagai 'orang terkaya' di Indonesia," ujar Sri Mulyani saat memberi sambutan dalam pelantikan Rio sebagai DJKN, Maret lalu. ***

??

Editor : Pudja Rukmana