logo

Mati Suri Karena Pandemi, MSI Gelar Ketoprak Tobong Bertransformasi Digital

Mati Suri Karena Pandemi, MSI Gelar Ketoprak Tobong Bertransformasi Digital

27 Mei 2021 14:59 WIB
Penulis : AG. Sofyan

SuaraKarya.id - JAKARTA: Mitra Seni Indonesia (MSI) sebagai wadah pemerhati dan pencinta seni kembali mendukung Kelompok Seni Pertunjukan Tradisional yang terhenti kegiatannya akibat Pandemi Covid 19. Kali ini Mitra Seni Indonesia (MSI) bekerjasama dengan Ketoprak Tobong Kelana Bakti Budaya Sleman-Daerah Istimewa Yogyakarta.

Perhatian dan kepedulian MSI terhadap kesenian tradisional Ketoprak Tobong asal Sleman yang hampir punah dalam bentuk memberikan stimulus hingga mampu berproduksi dalam sebuah layar lebar.

Pergelaran Amal Ketoprak Tobong yang diprakarsai Mitra Seni Indonesia ini mengambil cerita Ati Segara (Hati Samudra), dengan sutradara dan sekaligus penulis naskah Risang Yuwono yang memiliki latar belakang di bidang film dan photography. Risang mencoba mentransformasikan cerita pertunjukan tradisional ketoprak ini dalam bentuk layar lebar yang disebutnya sebagai Folklore Cinema. Karya ini dikemas secara kreatif dan menarik dengan pemain yang terdiri para seniman, artis daerah Yogyakarta dan Solo.

Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Dr. Hilmar Farid pada acara Focus Group Discussion (FGD) Mitra Seni Indonesia secara virtual sekaligus Pre-launching Ati Segara mendukung upaya Mitra Seni Indonesia mengangkat kesenian pertunjukan tradisional tersebut di tengah Pandemi Covid-19.

"Saya mengapresiasi ikhtiar Ibu-ibu hebat di MSI dalam melakukan peremajaan kesenian tradisional ketoprak ini melalui perkembangan teknologi digital," ujar Hilmar Farid di Jakarta, Kamis (27/5/2021)

Ketua Umum Mitra Seni Indonesia Sari Ramdani pada kesempatan ini mengatakan pergelaran ketoprak tersebut dapat terselenggara sebagai salah satu hasil dari pengumpulan dana Pergelaran Amal Ludruk Mitra Seni Indonesia Tahun 2020 yang lalu. Dari hasil pengumpulan dana tersebut , Mitra Seni Indonesia juga membantu menggerakkan kesenian tradisional lainnya yaitu Sanggar Seni Warisan Makyong dari Riau, Kita Art Community dari Gianyar, Bali, Ludruk Irama Budaya Surabaya dan Sanggar Seni Astari Bangka Belitung.

Menurut Ketum Mitra Seni Indonesia (MSI) Sari Ramdani kelima sanggar tersebut kembali berproduksi dengan karya-karya yang sangat menarik. Sari menyebut MSI sebagai wadah pencinta seni berupaya membantu agar kesenian tradisional tersebut dapat terus berproduksi dan bisa terus berkarya.

Sementara itu Ketua Panitia Pergelaran Ketoprak Tobong MSI Hesti Indah Kresnarini menjelaskan bahwa karya seni pertunjukan tradisional yang ditransformasiksn kedalam bentuk layar lebar ini, dikemas secara apik dan menarik serta memiliki keunikan karena diiringi musik organ dan suling, bukan gamelan sebagaimana lazimnya, sehingga menjadikan pergelaran ini menarik untuk disaksikan dan dinikmati. Hesti Indah Kresnarini juga menyebut bahwa dalam rangka mengembangkan dan meremajakan seni pertunjukan tradisional dalam bentuk layar lebar tersebut, maka perlu diselenggarakan FGD seluruh pemangku kepentingan.

"FGD secara menarik dipandu artis bertalenta, Maudy Koesnaedi dan dihadiri oleh tokoh-tokoh dari pemangku kepantingan terkait, yaitu dari pemerintahan, akademisi, pemerhati, dan pencinta seni budaya serta insan perfilman nasional diantaranya Garin Nugroho, Rama Suprapto, Widyawati, Nungki Kusumastuti, diharapkan dapat membentuk jejaring dari para pemangku kepentingan tersebut untuk mengembangkan seni pertunjukan tradisional dimaksud," tutur Hesti.

Risang Yuwono mengungkapkan Ati Segara mengangkat cerita 3 orang wanita yang pernah menorehkan perjuangan pada sejarah bangsa melalui sepotong peristiwa di masa lalu. Sebuah alasan dari latar belakang tentang begitu dekatnya jarak pendirian Candi Hindu dan Buddha, begitu tersembunyinya kekuatan seorang wanita yang mendampingi Raden Mas Said dan begitu dahsyatnya keberanian Pangeran Besar Diponegoro untuk menghentikan perang Jawa hingga melumpuhkan perekonomian Belanda dan juga menunjukkan kekuatan sosok wanita dibalik ini semua.

Sari Ramdani kembali menjelaskan pada hakekatnya cerita Ati Segara ingin mengangkat harkat wanita Indonesia, yang mempunyai peranan besar dalam sejarah masa lampau. Oleh karenanya, dalam rangka memperingati Hari Kartini, Mitra seni Indonesia menayangan Pergelaran Film yang berdurasi 48 menit tersebut. Yang menarik dari tayangan ini adalah dapat dinikmati dengan sub-title Bahasa Indonesia dan aksara Jawa, sehingga dapat dinikmati lebih banyak pemirsa dan aksara Jawa yang harus kembali diangkat agar dapat terjaga keberadaannya dan telah diakui Unicode (Lembaga dibawah naungan Unesco yang menangani kode aksara pada komputer di dunia) sejak 2 Oktober 2009 berbarengan dengan pengakuan Unesco tentang warisan budaya tak benda untuk Batik.

Pergelaran Amal Film Ati Segara ini akan ditayangkan melalui Kanal Youtube Mitra Seni Indonesia tanggal 30 Mei-13 Juni 2021 pukul 19.00 WIB. Yang diharapkan dari pegiat seni dan budaya di MSI dengan menonton tapi tak melupakan untuk beramal melalui platform Benih Baik.com.

Selain itu pergelaran ini juga akan ditayangkan tanggal 19 Juni 2021 pukul 20.00-21.00 di Locket exclusive streaming serta tanggal 22 Juni 2021 melalui Genflix Apps (download on playstore applestore).

Hasil amal dari pergelaran ini akan disalurkan kembali kepada Kelompok Seni Pertunjukan Tradisional yang terhenti kegiatannya karena Pandemi Covid-19. Dalam rangka penggalangan dana pada pergelaran ini, Mitra Seni Indonesia bekerjasama dengan Yayasan Benih Baik. Donasikan dukungan anda yang dapat disalurkan melalui Rekening Bank BNI dengan Nomor Rekening 7771110051 a/n Yayasan Benih Baik Indonesia dan BCA dengan nomor rekening 8670323456 a/n Yayasan Benih Baik Indonesia.***