logo

Wapres: Kemajemukan Indonesia Punya Keunikan Jaga Toleransi Kebhinekaan

Wapres: Kemajemukan Indonesia Punya Keunikan Jaga Toleransi Kebhinekaan

Wapres Ma'ruf Amin. (Dok Setwapres)
16 Mei 2021 23:35 WIB
Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin menegaskan kemajemukan bangsa Indonesia yang memiliki beragam suku, agama, dan budaya, menjadi keunikan tersendiri yang patut dijaga bersama. Untuk itu, semangat Bhinneka Tunggal Ika sebagai penjaga toleransi dalam keberagaman diharapkan dapat terus dipertahankan demi terwujudnya pembangunan nasional.

“Bhinneka Tunggal Ika itu menggambarkan persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan semboyan ini, kita harapkan bahwa kita terus berasa memperkuat NKRI kita, dengan menjaga harmoni, damai dalam keberagaman beragama, etnik, maupun juga budaya,” kata Wapres Ma’ruf Amin dalam wawancaranya bersama Program Halo Indonesia DAAITV melalui konferensi video di Kediaman Resmi Wapres Jl Diponegoro No 2 Jakarta, Kamis (13/05/21).

Dalam wawancara yang dipandu Astia Dika itu, saat ini pemerintah terus mengupayakan pembangunan dalam rangka pemerataan fasilitas dan infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia. “Bahkan NKRI ini juga sekarang kita wujudkan dalam bentuk pembangunan, baik pembangunan ekonomi di dalam rangka pemerataan, membangun berbagai infrastruktur di seluruh Indonesia baik infrastruktur darat, laut, udara, langit bahkan juga,” ujarnya, seperti dirilis BPMI Setwapres di laman resminya.

Lebih jauh, Wapres menekankan pentingnya memperkuat empat bingkai kerukunan.

Pertama, bingkai teologi untuk menjaga agama.

Kedua, bingkai politik mencakup Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Ketiga, bingkai yuridisnya yaitu aturan-aturan yang sudah dibuat supaya dipatuhi menyangkut semua hal. Dengan demikian, terjadilah kerukunan, karena semua berjalan di atas koridor hukum, yuridis,” ucap Wapres.

Keempat, yang patut dijaga yaitu bingkai sosiologis yaitu menjaga kearifan lokal sebagai perwujudan menjaga keutuhan bangsa.

Kelima, yang tidak kurang pentingnya yaitu bingkai sosiologis. Yaitu, kearifan lokal (local wisdom) yang juga di berbagai daerah itu ada ungkapan-ungkapan yang menjaga kerukunan.

Sementara itu, kata Wapres, perayaan Idul Fitri tahun ini yang bertepatan dengan peringatan Kenaikan Isa Almasih umat Kristiani, menjadi salah satu contoh toleransi antaragama yang harus dijaga. Untuk itu, kata Wapres, perlu dibangun adanya teologi kerukunan sebagai bentuk saling menghormati dalam perbedaan agama.

“Harus dijaga dari segi akidahnya. Kalau bahasa Islam itu, lakum dinukum waliyadin, artinya bagimu agamamu bagiku agamaku. Artinya, tidak saling menjelekkan. Maka itu perlu dibangun yaitu teologi kerukunan,” ungkap Wapres.

Wapres menuturkan bahwa upaya pemerintah di dalam menjaga kerukunan didukung kementerian dan lembaga yang membantu melakukan pengawalan hubungan antarumat beragama.

“Kita mempunyai semacam pranata-pranata yang mengawal kerukunan itu, misalnya ada Forum Kerukunan Umat Beragama. Kemudian ada Kementerian Agama. Itu juga bagian daripada upaya kita menjaga kerukunan,” tutur Wapres.

Lebih lanjut, beberapa langkah? konkret yang dilakukan pemerintah dalam menjaga kerukunan bangsa, di antaranya ialah melakukan dialog di tingkat daerah maupun nasional dengan para pemuka agama dan tokoh masyarakat.

“Dialog kebangsaan, yang membawa kerukunan. Ini semua adalah upaya mencegah terjadinya perpecahan,” ungkapnya.

Di akhir acara, Wapres berpesan agar antarsesama umat beragama dapat menjaga hubungan dengan baik, tidak saling memaksa, dan dapat mencari jalan keluar apabila terjadi konflik. “Dulu pernah ada kesalahpahaman, tapi insya Allah berdasarkan pengalaman kita pada masa-masa yang lalu bisa kita atasi,” ujar Wapres. ***

Editor : Pudja Rukmana