logo

Prof Bungaran Saragih: Petani Agribisnis Perlu Kebijakan Nasional Yang Bersahabat

Prof Bungaran Saragih: Petani Agribisnis Perlu Kebijakan Nasional Yang Bersahabat

Foto: Prof Dr Ir Bungaran Saragih M.Ec. (suarakarya.id / dwiputro aa)
20 April 2021 05:38 WIB
Penulis : Dwi Putro Agus Asianto

SuaraKarya.id - JAKARTA: Prof Dr Ir Bungaran Saragih M.Ec mengingatkan bahwa yang dibutuhkan agribisnis agar usahanya berkembang adalah kebijakan nasional yang bersahabat dari pemerintah, baik secara moneter, secara fiskal, dan secara aturan.

"Berapapun uang dikasih kepada kalangan agribisnis,  tapi kalau kebijakan pemerintahnya tidak bersahabat, maka para petaninya tidak akan maju," demikian ditegaskan Bungaran Saragih menjawab pertanyaan peserta Webinar Bedah Buku: "Suara Agribisnis, Kumpulan Pemikiran Bungaran Saragih" di Jakarta, Senin (19/4/2021).

Tampil beberapa pembicara pada webinar ini antara lain Dr Ir Musdhalifah Machmud MT (Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis, Kemenko Bidang Perekonomian);  Dr Ir Bayu Krisnamurthi MS (Dosen FEM - IPB University) ; Dr Ir Tungkot Sipayung MS (Direktur Eksekutif PASPI).

Pembicara lainnya adalah Ir Derom Bangun (Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia); Soemitro Samadikun (Ketua APTRI); Bhima Yudhistira Adinegara M.Sc (Peneliti INDEF); Ninuk Mardiana Pambudy (wartawan Kompas); Untung Jaya (Wartawan Majalah Agrina).

Prof. Dr. Bungaran Saragih (lahir di Pematangsiantar, Sumatra Utara, 17 April 1945; umur 76 tahun) adalah Menteri Pertanian pada Kabinet Gotong Royong, masa jabatan Agustus 2000 – Oktober 2004.

Ia lulus S1 pada tahun 1971 dari Institut Pertanian Bogor dan meraih gelar doktor di bidang ekonomi dari North Carolina State University, Amerika Serikat pada tahun 1980.

              Relevansi Pemikiran

Dalam webinar yang diselenggarakan Majalah Agrina, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Insitut Pertanian Bogor (IPB) dan Asosiasi Agribisnis Indonesia (AAI) ini mengemuka relevansi pemikiran Prof. Bungaran Saragih dalam pembangunan sistem dan usaha agribisnis sebagai lokomotif pembangunan ekonomi Indonesia.

Agribisnis merupakan paradigma baru pembangunan ekonomi berbasis pertanian. Unsur utama pembangunan agribisnis adalah dunia usaha skala mikro, kecil, menengah, besar. Pemerintah merupakan fasilitator dalam mewujudkan pembangunan agribisnis.

Sistem agribisnis meliputi: subsistem primer (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan) yang didukung secara terintegrasi oleh subsistem; input, agroindustri, pemasaran, dan jasa penunjang, yang mengubah sumber daya menjadi produk-produk agribisnis.

"Sistem dan usaha agribisnis itu dengan karakter berdaya saing, berkerakyatan, terdesentralisasi, dan berkelanjutan," kata Prof Bungaran.

Ia menegaskan bahwa peranan pemerintah yang utama itu bukan kasih duit untuk membangun pangan atau agribisnis. Menurut dia petani itu minta pemerintah memberikan kebijakan nasional yang bersahabat, bukan kebijakan nasional yang mematikan.

"Berapapun uang diberikan, tapi kalau impor gula rafinasi itu mengalir terus, maka tidak banyak yang bisa kita lakukan. Kita hanya berkelahi saja," katanya memberi contoh.

Contoh lainnya misalnya sedang masa panen padi,  lalu pemerintah mau impor beras. "Dimana bersahabatnya? Kalau begitu, apapun yang diperbuat tidak ada gunanya," katanya.

Prof Bungaran juga mengingatkan organisasi petani itu  jangan berafiliasi ke partai politik. Organisasi petani harus jadi organisasi  untuk kepentingan rakyat, kepentingan anggotanya, yang menuntut kebijakan yang bersahabat dari pemerintah  bukan kebijakan yang mematikan.

"Organisasi petani, yang kalian perjuangkan bukan uangnya. Ya uang perlu, tapi uang untuk infrastruktur, bangun irigasi, bangun jalan, bangun pasar dan lainnya, tapi jangan sekadar mau pupuk murah. Aduh itu terlalu kecil kalian minta itu. Salah minta ! Pilih paradigma baru yakni sistem dan usaha bisnis. Itu yang membuat kita keluar dari krisis tahun 2000," kata Prof Bungaran.

Ia juga mengingatkan bahwa kalangan petani itu kuat. Orang miskin bukan berarti orang lemah.  "Dengan semangat yang saya katakan tadi itu,  yaitu sistem dan usaha agribisnis itu dengan karakter berdaya saing, berkerakyatan, terdesentralisasi, dan berkelanjutan,  kita menjadi raja sawit di dunia yang dipimpin petani," katanya.

               Sangat Kompleks

Salah satu pembicara yakni Dr Ir Bayu Krisnamurthi MS (Dosen FEM - IPB University) memberi catatan Refleksi Tiga Buku “Suara Agribisnis, Kumpulan Pemikiran Bungaran Saragih” (Agrina, Buku 1 tahun 2010, Buku 2 tahun 2015, Buku 3 tahun 2020).

Ada yang konsisten dari ketiga buku Suara Agribisnis, Kumpulan Pemikiran Bungaran Saragih; yang  menjangkau rentang waktu lebih dari satu dekade. Pertama, ketiga buku berisi gabungan sekitar 700  halaman tulisan itu konsisten mendiskusikan, membahas, membuat refleksi, dan juga membuat prakiraan  dan ‘outlook’ atas berbagai isyu agribisnis.

Kedua, ketiga buku tersebut secara konsisten membawakan pemikiran agribisnis dalam “bahasa umum  dan sederhana” sebagaimana maksudnya seperti yang dikatakan pada mukadimah buku pertama. Pemikiran tentang agribisnis sebenarnya memang dapat digambarkan dalam skema yang sederhana.

Namun kondisi dan permasalahan aktual yang dihadapi pertanian khususnya, dan perekonomian pada  umumnya membuat situasi agribisnis real menjadi sangat kompleks dan sama sekali tidak sederhana. Dan  justru karena itu semakin dibutuhkan pemahaman yang mendalam disertai dengan kepiawaian  menuangkan pikiran dalam bahasa umum dan sederhana agar masyarakat dapat mengerti apa yang terjadi pada agribisnis kita.

Ketiga, buku Suara Agribisnis juga menjadi ‘saksi sejarah’ bahwa setelah lebih dari satu dekade beberapa  isyu agribisnis ternyata “konsisten” ada dan belum juga selesai. Misalnya, soal impor beras.

Beberapa  bagian dari Buku 1, Buku 2 dan Buku 3 berulang membahas masalah impor beras itu dengan pandangan  yang spesifik pada rentang waktu masing-masing buku. Atau tentang perkebunan sawit, yang terungkap  berulang menghadapi persoalan harga CPO, peremajaan dan perkebunan sawit rakyat. Konsistensi isi buku tentu tidak lepas dari konsistensi sikap dan pemikiran penulisnya.

               Konsistensi Jangka Panjang

Bayu Krisnamurthi menyebutkan, tak banyak Guru Besar Perguruan Tinggi yang pemikirannya di mimbar akademik diberi kesempatan dan kehormatan untuk menerapkan pemikiran itu dengan memimpin langsung dalam pemerintahan  sebagai Menteri. Mungkin hanya Prof Widjojo Nitisastro, Prof B.J. Habibie, Prof Emil Salim, dan Prof  Bungaran Saragih pada tahun 2000 – 2004 yang mendapat kesempatan itu. Jadilah Pengembangan Sistem  dan Usaha Agribisnis resmi menjadi Strategi Pembangunan Pertanian dan coba dijalankan sepenuhnya oleh Kementerian Pertanian RI.

Mengenai permasalahan yang berulang dan tampak tidak juga selesai, seperti persoalan beras, atau sawit,  atau gula, atau ayam pedaging; ketiga buku pak Bungaran memberikan indikasi yang jelas alasannya.

Pertama, karena cara pandang, cara pikir, dan cara tindak sesuai paradigma sistem dan usaha agribisnis  itu belum sepenuhnya dipahami dan dilakukan. Pendekatan parsial masih sering sangat menonjol. Logika bisnis masih sering diabaikan.

Kedua, ternyata pembangunan sistem dan usaha agribisnis membutuhkan waktu dan proses. Dan untuk  itu perlu konsistensi dalam jangka waktu yang cukup. Ibaratnya, membangun agribisnis cabe misalnya, tidak bisa hanya seperti “sekali menggigit cabe yang langsung terasa pedasnya”.
Ketiga, pengetahuan dan pemahaman sistem dan usaha agribisnis itu sendiri belum berkembang secepat  perkembangan situasi dan kondisi riilnya. Masih banyak pertanyaan belum terjawab tuntas. Bagaimana kaitan agribisnis dengan ‘global supply chain’, bagaimana agribisnis menghadapi situasi perang dagang  dan pudarnya multilateralisme, bagaimana agribisnis menjawab Sustainable Development Goals, dan  sebagainya.

Bahkan hal yang seharusnya ‘cukup jelas dan langsung (straight forward)’ ternyata juga masih terus membutuhkan penyempurnaan. Seperti bagaimana sebenarnya kurikulum pendidikan agribisnis yang benar-benar sesuai tuntutan saat ini, atau bagaimana merumuskan kompetensi dasar ‘bidang keahlian’ seorang ‘professional agribisnis’.

Banyaknya pertanyaan yang belum terjawab itu bukan berarti Pak Bungaran dan Suara Agribisnis nya telah gagal. Bahkan sebaliknya, justru itu menunjukkan keberhasilan Pak Bungaran yang konsisten menjadi seorang Guru. Seorang guru pada umumnya adalah seseorang yang mampu menjawab pertanyaan muridnya. Seorang
guru yang baik adalah yang mampu mendorong timbulnya pertanyaan-pertanyaan baru dalam pikiran muridnya.

Tetapi seorang guru yang istimewa adalah guru yang mampu menginspirasi tumbuhnya kerangka berpikir dalam diri muridnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan masa kini dan masa depan. Seorang guru yang istimewa adalah guru yang mampu membangun “jembatan” antara masa kini dan masa depan, lalu mendorong muridnya untuk menyeberangi jembatan itu, dan sekaligus membangun keyakinan bahwa murid itu akan mampu membangun jembatan ke masa berikutnya.***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto