logo

Puasa Dan Aspek Perencanaan

Puasa Dan Aspek Perencanaan

18 April 2021 08:33 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr. Hamzah Khaeriyah, M.Ag

Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan  atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS.Al-Baqarah : 183).

Puasa memberikan perhatian pada aspek perencanaan. Umat Islam yang berpuasa dengan tidak mengembangkan perencanaan akan memperoleh kesulitan dalam beribadah puasa.

Terdapat dua pilar yang mendukung aspek perencanaan. Pertama, Niat. Niat merupakan pilar yang pertama perlu pembenahan.

Niat pada ibadah dalam Islam sangat strategis, karena menjadi pembeda antara pekerjaan non ibadah dan ibadah.

Secara teknis operasional, imam mazhab memberikan polarisasi waktu berniat, yakni terdapat aliran yang menekankan setiap malam ramadhan untuk melaksanakan niat ibadah puasa dan pada aliran lainnya menekankan cukup sekali dalam sebulan. Yaitu, pada awal ramadhan.

Kedua, makan sahur. Makan sahur dimaknai sebagai kegiatan menikmati hidangan makanan yang batas akhirnya disebut imsak atau waktu menahan untuk tidak makan lagi. Dan, waktunya sekitar sepuluh menit sebum waktu shalat subuh tiba.

Kegiatan ini, meskipun dimaknai oleh Nabi Muhammad SAW sebagai sunnah tidak pada status wajib. Namun, urgensinya sangat berkonstribusi dalam penyiapan nutrisi untuk tidak makan selama berpuasa. 

Secara etimologis, sahur pada bahasa Arab mengandung arti begadang. Meskipun pada peraktek keagamaan Islam terutama pada segemen umat Islam tertentu lebih dominan dari sisi aktifitas makan.

Bahkan, nabi memberi pandangan bahwa makan sahur itu memiliki berkah. Namun, perlu kiranya ditelaah lebih jauh bahwa seharusnya moment sahur ini tidak dimaknai konsumtif semata tetapi perlu ditelaah lebih pada spritualitas.

Dari sisi moment yang tersedia, sejumlah ibadah yang dapat dilakukan adalah melaksankaan shalat tahajjud, membaca alquran, berdzikir dan berdoa kepada Allah Swt.

Melakukan pengalihan makna konsumtif ke wilayah spritual dan atau menggabungkannya adalah sangat sesuai dengan makna ramadhan. Yaitu, sebagai bulan tarbiyah atau bulan pendidikan bahkan nabi Muhammad menyebutnya dengan bulan yang agung atau syahrun adhim.

Dengan kata lain transformasi makna ini akan memberikan bekal kepemimpinan dalam membangun daya spritualitas sebagai kekuatan baru dalam aspek perencanaan. 

 Secara teoritis aspek perencanaan memliki empat dimensi, comprehensive planning. Yaitu, perencanaan yang mengacu pada tujuan, jangka panjang (waktu), pengetahuan dan proaktif yang kesemuanya pada skala yang tinggi; critical –point planning.

Artinya, memahami isu dan mengetasinya dengan skala pada isu yang paling menonjol; opportunistic strategy, pengamatan lingkungan untuk memahami peluang yang timbul; reactive approach, tindakan yang diambil sebagai respon dengan menggunakan informasi yang cukup.(m.brilio.net, empat aspek perencanaan, diakses 18 April 2021).

Gagasan aspek perencanaan ini mengacu pada etos intelektual dan kepemimpinan lokomotif untukmembangun aspek perencanaan secara optimal.

Kegagalan dalam perumusan dengan mengoperasionalkan keempat dimensi tersebut, kelihatannya tidak cukup dengan mengandalkan rasionalitas dan kepemeimpinan.

Risiko, dapat saja bakal timbul tidak dapat ditangkap dengan hanya mengoptimalkan kemampuan intelektual dan kepemimpinan.

Kedua etos ini, akan lebih optimal jika disenergikan dengan etos spritualitas yang dapat membaca “sinyal lingkungan strategis “melalui kekuatan batin.

Dalam Islam, kekuatan batin sebagai kerja spritual, telah diterima sebagai salah satu pola dalam memahami sinyal kehidupan.

Nabi Muhammad memberi peringatan agar umat Islam memperhatikan firasat orang mukmin. Selain firasat, mimpi menjadi bagian dari kekuatan batin.

Kisah sukses nabi Yusuf yang mengantarnya menjadi salah seorang menteri pada masanya seperti disebutkan dalam Alquran surah Yusuf, menjadi bukti betapa spritualitas secara potensial dapat menunjang karier dan mendongkrak kepemimpinan. 

Dalam literatur perencanaan, dimensi waktu yang akan datang diantisipasi dengan memperediksi anggaran tak terduga. (mh.mentormictobank.org, anggaran untuk hal-hal tak terduga, diakses tgl 18 April 2021).

Peredikasi anggaran tak terduga tidak saja melihat dan menganilisis catatan pembukuan keuangan tahun terakhir, melalui kemampuan analisis data dan analisis prdiktif.

Namun, perubahan yang sangat cepat dalam era digital sebagai lokomotif era 4.0 membutuhkan kekuatan spritualitas. ***

Penulis Rektor IAIN Sorong

Editor : Gungde Ariwangsa SH